“Nanti aku ceritakan pas sudah di rumah, Yah,” jawabku. Aku tidak ingin membicarakan semuanya di tempat terbuka, apalagi di hadapan banyak orang. “Ya sudah, kalau begitu kita sekarang pulang ke rumah, ya?” tawar Ayah. Tangannya melepaskan pegangan Om Bagas dari lengannya, lalu berpindah merangkul bahuku dengan gerakan protektif—seolah ingin memastikan aku benar-benar aman di sisinya. “Lho, Lan, kita ke kantor polisi saja dulu,” pinta Om Bagas. Nada suaranya terdengar mendesak, sorot matanya menunjukkan keinginan kuat agar semuanya berjalan sesuai kehendaknya. “Untuk masalah ini kayaknya nggak perlu dibawa kantor polisi, Gas.” “Kenapa nggak perlu? Kita ’kan nggak tau ke depannya bagaimana, gimana kalau Bilal berbuat nekat dan bukan hanya menculik, tapi sampai membawa kabur Qiara?” Om Bagas tampak begitu khawatir dan gelisah. Bahunya sedikit menegang, rahangnya mengeras—terlalu berlebihan untuk sekadar rasa cemas biasa. “Papi, kenapa justru Papi yang cemas?” tanya Maira. Wajahn
Last Updated : 2026-01-11 Read more