Beberapa saat kemudian. "Baiklah, Om. Aku akan cari waktu berbicara dengan Ibu. Tapi saat itu, Om tidak perlu ikut dulu," ujar gadis itu akhirnya. "Kenapa? Bukankah lebih baik kalau aku ikut? Jadi kamu tidak mesti sendirian menerima cercaran?" "Itu agak...canggung," ucap Ratih likat. Tetapi ia lantas menyambung agak manja. "Ah, pokoknya, Om turut saja perkataanku." 'Baiklah, Sayang. Kalau kau bilang begitu, tentu aku menurut.' Jamal menyahut tertawa. Ratih lalu bangkit berdiri. Berjalan ke kapstok di sudut kamar sambil melepas kancing bajunya. "Aku merasa gerah, hendak mandi. Om sebaiknya cepat keluar. Sebentar Ibu mungkin kembali dari ruang depan." Jamal bangkit perlahan dan beranjak meninggalkan sisi tempat tidur. Tetapi bukannya berjalan ke arah pintu, melainkan ke arah Ratih yang saat itu baru saja meloloskan pakaian dan mengungkap tubuh atasnya yang tertutup BH. "Ah, Om sungguh nekat. Nanti ketahuan Ibu," Bisih Ratih ketika tubuhnya tiba - tiba direngkuh lengan kekar sang
Read more