Pagi itu, kepalaku terasa berat. Efek wiski semalam masih menyisakan denyut di pelipis, namun kerinduan pada Ellys jauh lebih menyakitkan daripada rasa pening ini. Aku terbangun di sofa ruang kerja Axel, menyadari bahwa pria itu sudah tidak ada di sana.Aku bangkit dengan terhuyung, merapikan baju atasanku yang terlihat berantakan. Mataku menyapu sekeliling ruangan, mencari sosok jangkung yang semalam menginterogasiku dengan kejam. Namun, kosong.Aku keluar dari ruangan itu, menyusuri koridor dengan langkah terburu-buru. Aku mencari ke ruang makan, ke taman belakang, bahkan memberanikan diri mengetuk pintu kamar pribadinya. Nihil. Axel Montevista menghilang.“Di mana Tuan kalian?” tanyaku pada pelayan yang berpapasan denganku di lorong.“Maaf, Nyonya, kami tidak tahu. Tuan sudah pergi sejak subuh,” jawab pelayan itu sambil menunduk dalam.Rasa sesak mulai menghimpit dadaku. Dia berbohong. Pikiran itu langsung menyergapku. Bukankah semalam dia berjanji? Bukankah dia bilang jika ak
Terakhir Diperbarui : 2025-12-22 Baca selengkapnya