“Aahhh…!!” Jeritan Lilyan membuat Rega langsung tersentak dari tempat tidurnya. Tanpa berpikir panjang, ia berlari menghampiri Lilyan. Tubuh Lilyan terlihat meringkuk di sofa, kedua tangannya menutup telinga, wajahnya pucat dan penuh ketakutan. “Lilyan!” Rega berjongkok di depannya. “Hei, tenang… aku di sini.” Petir kembali menyambar, membuat Lilyan refleks bangkit dan memeluk Rega erat. Tubuhnya gemetar hebat, napasnya tersengal. “Aku takut…” suaranya lirih, nyaris tak terdengar. Rega membeku sesaat, lalu dengan hati-hati melingkarkan kedua lengannya, memeluk Lilyan dengan penuh kehati-hatian, seolah takut gadis itu akan pecah jika disentuh terlalu kuat. “Tidak apa-apa,” bisiknya lembut di dekat telinga Lilyan. “Ini cuma petir, kamu aman di sini.” Lilyan menggeleng kecil, jari-jarinya mencengkeram kaus Rega. “Aku benci petir… sejak kecil.” Rega mengusap punggung Lilyan perlahan, ritmenya tenang dan menenangkan. Detak jantung Lilyan yang tadinya kacau mulai berangsur m
Terakhir Diperbarui : 2025-12-28 Baca selengkapnya