Keesokan paginya, Beni yang masih berbaring tak nyenyak di dipan besi, segera terjaga merasakan kantuk berat. Tubuhnya sakit di mana-mana, tapi yang lebih berat adalah kekacauan di pikirannya—gambar-gambar Blok S, wajah Alfredo yang berubah, dan gumaman nama ayahnya, “Jatmiko,” yang sekarang terasa seperti sebuah teka-teki.KRAKK....Pintu terbuka. Bang Ucok berdiri di ambang, seragamnya rapi, wajahnya tanpa ekspresi seperti biasa. Di belakangnya, koridor isolasi masih sunyi.“Sudah waktunya,” ucap Bang Ucok singkat. Matanya menyapu ruangan dengan cepat, profesional, seolah memastikan tidak ada yang aneh. Namun, ketika pandangannya bertemu dengan Beni, ada sesuatu—sebuah kedipan sangat cepat, sebuah pengakuan diam-diam—sebelum kembali kosong.Beni mengangguk, bangkit dengan perlahan. Dia meletakkan kunci besi tua itu di bawah bantal tipis.“Apa semuanya baik-baik saja?” tanya Bang Ucok sambil mempersilakan Beni keluar. Pertanyaan itu biasa, tapi nada di baliknya terasa berbeda.“Seper
最終更新日 : 2026-01-16 続きを読む