Home / Urban / Hasrat Terpendam Sang Kameramen / Bab 93 - Siapa Sebenarnya Dia?

Share

Bab 93 - Siapa Sebenarnya Dia?

Author: Frands
last update Petsa ng paglalathala: 2026-01-16 18:21:02

“Yang menarik bukan siapa aku,” kata pria itu, berhenti beberapa langkah dari Beni. Senyum tipisnya terlihat di cahaya remang. “Yang menarik adalah, kenapa seorang anak muda yang baru beberapa minggu di sini, yang sudah punya musuh besar seperti Tohir, masih mau mengambil risiko datang ke tempat yang bahkan para napi tua tidak berani sebut namanya?”

Beni terpana, otaknya berusaha memproses. Pria kecil yang selalu membagi kopi, yang bertahan dengan menjadi tidak menarik, kini berdiri di tengah b
Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App
Locked Chapter

Pinakabagong kabanata

  • Hasrat Terpendam Sang Kameramen   Bab 130 - Menuju Bab Baru

    Mereka berdua melangkah keluar dari kamar hotel. Koridor yang sunyi terasa seperti lorong waktu yang memisahkan mereka dari dunia di bawah. Setiap langkah Maya kini lebih mantap, meski matanya masih sedikit sembab. Beni berjalan di sampingnya, merasakan beban yang sedikit berkurang—atau mungkin hanya bergeser."Ke mana kita pergi?" tanya Maya saat mereka mencapai lift."Pertama, kita keluar dari hotel ini. Lalu..." Beni berhenti, memikirkan langkah selanjutnya. "Lalu aku akan meminta bantuan Pak Bimo untuk mengurus kepindahan kita ke luar negeri."Maya mengangkat alis, sedikit terkejut. "Pak Bimo? Bukannya dia bagian dari—""Tapi dia juga punya akses ke hal-hal yang tidak dimiliki orang lain," potong Beni. "Aku tidak bisa menyelesaikan semua ini sendiri. Dan aku tidak mau lagi menjadi pion. Mungkin... mungkin dengan memintanya membantu, aku bisa memulai sesuatu yang baru."Lift tiba dengan bunyi ding lembut. Mereka masuk, dan pintu menutup di belakang mereka. Di dalam ruang kecil itu,

  • Hasrat Terpendam Sang Kameramen   Bab 129 - Kita Berhak Memilih

    Beni berhenti mondar-mandir. Matanya menyipit. "Silver Nature?" Maya mengangguk pelan. "Aku tidak tahu benda apa itu." Beni merasakan dadanya berdesir. Silver Nature adalah obat terlarang yang pernah ia selidiki dengan Nadia. "Maya," suara Beni mendadak rendah, "apa kau tahu nama perusahaan Bagas?" Maya mengerutkan kening. "Sinar... Sinar Abadi? Atau Sinar... Ah, aku lupa. Kenapa?" Beni tidak menjawab. Dia meraih ponselnya, membuka pesan dari Pak Bimo. Sebuah daftar perusahaan ekspedisi yang terindikasi terlibat dalam jaringan Silver Nature. Jari Beni menggulir layar, berhenti di satu nama. CV. Sinar Samudra Ekspedisi. Direktur: Bagas Priambodo. Beni menelan ludah. Semua potongan mulai menyambung—tapi dengan cara yang berbeda dari yang dia bayangkan. "Kamu benar, Maya," kata Beni perlahan, suaranya hampir berbisik. "Bagas adalah bagian dari jaringan yang sama dengan Rendra dan Irwan. Hanya saja... dia memainkan peran yang berbeda." Maya menatapnya kosong. "Maksudmu

  • Hasrat Terpendam Sang Kameramen   Bab 128 - Puzzle yang Tidak Lengkap

    Maya menarik napas dalam, matanya berkaca-kaca tapi berusaha tegar. “Semuanya berawal dari adikku, Beni. Beberapa tahun lalu, dia tertabrak mobil. Biaya rumah sakitnya... selangit. Kami nyaris putus asa. Lalu Bagas muncul, entah dari mana. Dia yang menanggung semua biayanya, tanpa banyak bicara. Menyelamatkan nyawa adikku.” Dia menatap kosong ke dinding. “Aku... aku merasa punya hutang yang tak terbayar. Aku tak punya uang, tak punya apa-apa. Yang kupunya Cuma... tubuhku. Maka, suatu malam, kudatangi kamarnya. Kukatakan, aku mau membalas budinya dengan cara itu.” “Bagas menolak,” lanjut Maya, dan sedikit senyum getir muncul. “Dia bilang, pertolongannya tulus, tidak perlu dibayar. Tapi aku... aku memaksa. Aku merasa itu satu-satunya yang bisa kuberi, satu-satunya cara agar aku tidak merasa terus-menerus menjadi pengemis. Aku mendesak, merayu, hingga akhirnya... dia menyerah.” Maya mengusap wajahnya. “Awalnya, aku takut. Tapi lama-kelamaan... aku mulai menyukainya. Bukan karena ci

  • Hasrat Terpendam Sang Kameramen   Bab 127 - Rahasia Terbuka! Dia Bukan Kekasihku

    Rafael masih ingin membantah, wajahnya merah padam. “Tapi dia—!” “RAFAEL!” suara Irwan akhirnya pecah, keras dan penuh peringatan. Ia memotong anaknya. Wajah Irwan masih tegang, tetapi amarahnya telah berubah menjadi kalkulasi bisnis yang dingin. Dia melihat Bagas, lalu melihat Beni yang masih berdiri dengan amplop di panggung, dan akhirnya melihat kerumunan tamu yang menyaksikan. Dia menarik napas dalam-dalam. Dalam sekejap, topeng profesionalnya kembali, meski terpaksa dan retak. Dia mengambil mikrofon. “Tuan-tuan dan Nyonya-nyonya yang terhormat,” ucapnya, memaksakan senyum. “Tampaknya telah terjadi sedikit... kesalahpahaman yang disebabkan oleh prosedur verifikasi kami yang kurang lancar. Mari kita akhiri diskusi ini dan kembalikan fokus kita pada semangat kerja sama dan kemajuan.” Dia memberi isyarat pada band untuk memainkan musik lagi. “Silakan nikmati hidangan dan hiburan. Terima kasih.” Security mundur. Musik mulai mengalun, mencoba menutupi suara bisikan yang masih

  • Hasrat Terpendam Sang Kameramen   Bab 126 - Satu-satunya Pembela

    Beni, dengan jantung berdebar kencang hampir ke tenggorokan, menyadari kata-kata tidak akan cukup. Di bawah tatapan menghina Irwan dan senyum penuh kemenangan Rafael, ia merogoh saku dalam jasnya. Tangannya yang sedikit gemetar mengeluarkan amplop karton tebal berwarna gading itu—satu-satunya benda nyata yang menghubungkannya dengan legitimasi. “Ini,” ucap Beni, suaranya berusaha tegas sambil mengangkat amplop terbuka agar logo Media Metropolitan dan tulisan namanya terlihat. “Undangan resmi untuk PT Gemilang Abad yang diberikan langsung oleh Pak Bimo pada saya.” Dia mengulurkan amplop itu ke arah Irwan. Untuk sepersekian detik, ruangan terasa hening. Lalu, Rafael menyambar amplop itu dari tangan Beni sebelum ayahnya sempat mengambilnya. Dengan cepat, matanya menyapu isinya. Terlihat sedikit keraguan di wajahnya—semua detail undangan itu tampak sah—tetapi kebencian dan keinginannya untuk menjatuhkan Beni jauh lebih kuat. “Cuih!” ejek Rafael, mengangkat amplop tinggi-tinggi seolah

  • Hasrat Terpendam Sang Kameramen   Bab 125 - Terjepit dalam Ketegangan

    Beni terus berjalan, merasakan ratusan pasang mata itu menusuknya. Dia mencapai tangga panggung kecil dan naik. Saat berdiri di sana, di bawah sorotan lampu yang terang benderang, kontrasnya semakin jelas: dia yang masih muda, dengan wajah yang tidak dikenal (atau dikenal karena alasan salah), berdiri di tempat yang seharusnya ditempati seorang direktur terhormat. Irwan Wijaya berbalik. Senyumnya menghilang seketika, digantikan oleh keheningan yang sangat mencengangkan. Matanya yang tajam mengamati Beni dari ujung kepala hingga kaki, memproses, mengkalkulasi. Tidak ada kemarahan yang terlihat, hanya evaluasi dingin yang jauh lebih menakutkan. “Dan... siapa kau?” tanya Irwan akhirnya, suaranya halus namun mematikan, terdengar jelas melalui mikrofon ke seluruh ruangan yang kini sunyi senyap. Di panggung itu, hanya ada mereka berdua. Beni, yang mewakili rahasia warisan ayahnya dan misi Pak Bimo. Dan Irwan, yang mungkin adalah musuh yang paling berbahaya. Beni berdiri tegak di bawah s

  • Hasrat Terpendam Sang Kameramen   Bab 5 - Pertanyaan Menggoda

    “Tunggu... tunggu dulu!” protes Beni, suaranya serak dan nyaris tercekik. Tubuhnya menegang bagai batu, setiap otot memberontak. Tangan Maya masih mencengkeram pergelangannya, menariknya lebih dalam ke dalam frame kamera yang justru dia pegang sendiri. Getaran di tangannya semakin menjadi, membuat

  • Hasrat Terpendam Sang Kameramen   Bab 4 - Kau Ikut Main di Dalamnya

    Pagi itu, langit kelabu seolah mencerminkan kondisi hati Beni. Di atas motor menuju lokasi syuting, dia terus mengusap lembut kamera ayahnya sambil berusaha meyakinkan diri sendiri. Ini hanya sekali. Aku Cuma akan memegang kamera, merekam, lalu pergi. Uangnya bisa untuk biaya Ibu seminggu ke depa

  • Hasrat Terpendam Sang Kameramen   Bab 3 - Dunia yang Berbeda

    Keesokan harinya, Beni berdiri di depan sebuah apartemen mewah di kawasan segitiga emas. Marmer dan kaca gedung itu memantulkan sinar matahari, menyilaukannya. Ia merasa seperti ikan yang tersesat di akuarium mewah. Tas kamera ayahnya terasa semakin berat di pundak.“Ini demi Ibu,” desisnya, memaks

  • Hasrat Terpendam Sang Kameramen   Bab 2 - Sebuah Jalan Keputusasaan

    “Video dewasa!” Beni sedikit berteriak dengan mata melebar.“Apa ada yang salah?” Rendra justru terkekeh melihat ekspresi Beni. “Kau bisa mendapat banyak uang dengan itu.”Beni berada dalam dilema, pikiran awalnya dia hanya mendapat pekerjaan yang wajar dan mendapat uang untuk membayar sewa kos. Ta

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status