“Aku... aku ingin hidup tenang, Pak. Kembali ke rumah, urus Ibu dan Lintang. Mungkin buka warung kecil atau bengkel sepeda motor sederhana di kampung. Cukup untuk menghidupi kami bertiga dengan damai. Itu saja.”Diam sejenak.Lalu, tiba-tiba, Pak Bimo tertawa. Bukan tertawa sinis atau mengejek, melainkan tawa yang hangat, bergetar, penuh dengan nostalgia yang mendalam. Matanya berkaca-kaca seolah melihat sesuatu yang sangat familiar.“Maaf, maaf,” ucap Pak Bimo sambil mengusap sudut matanya. “Tapi anda tahu, itu persis seperti yang selalu diucapkan ayah anda dulu. Setiap kali kami membicarakan perjuangan, rencana besar, atau bahaya yang kami hadapi, dia selalu berkata, ‘Bimo, yang aku inginkan sebenarnya sederhana. Hidup tenang di rumah, lihat anak-anakku tumbuh, dan punya bengkel kecil yang ramai.’”Tawa itu mereda, digantikan senyum lembut. “Dia adalah orang dengan visi yang sangat besar, yang bisa menggerakkan banyak hal. Tapi di hatinya, selalu ada kerinduan pada kehidupan yang se
最終更新日 : 2026-01-17 続きを読む