Tubuh Beni terasa panas saat wajah cantik Dokter Syifa hanya beberapa senti dari barang pusakanya yang menjulang tegak bagai menara.“Bagaimana kalau ada yang masuk, Dok?” Sela Beni dengan suara yang gemetar.“Lupakan mereka,” bisiknya, suaranya serak, lebih kepada dirinya sendiri daripada kepada Beni. Matanya, yang kini gelap dan penuh intensitas, menatap langsung ke mata Beni yang terbuka lebar, terperangkap antara kejutan, rasa malu, dan sebuah gairah yang mulai membara sebagai respons alamiah terhadap keberaniannya.Tangannya, yang tadi berhenti tepat sebelum menyentuh, kini maju. Tidak lagi sebagai pemeriksa, tetapi sebagai penjelajah. Sentuhan tangannya pada kulit yang memanas itu lembut namun penuh kepastian, sebuah kontak yang sama sekali tidak klinis. “Kamu tahu, kan? Kalau ini tidak dikeluarkan akan membuatmu tidak nyaman,” gumamnya, alasan medis yang dipelintir menjadi pembenaran bagi hasratnya. “Biarkan saya membantumu.”Beni mencoba menggeleng, kata penolakan tersangkut d
Huling Na-update : 2026-01-16 Magbasa pa