Dengan napas berat seperti orang yang kalah, Beni menutup matanya. Tubuhnya yang tegang perlahan-lahan lunglai ke sandaran sofa. Itu adalah sebuah penyerahan diri, sebuah izin yang sunyi. “Lakukan apa yang kau mau,” gumamnya, suaranya parau dan hampa, menyerahkan segalanya pada takdir yang telah mereka julurkan bersama. Reaksi Lintang langsung menjadi kebahagiaan murni yang begitu terang dan sumringah. "Beneran kak...!" serunya, lirih dan penuh rasa tak percaya. Tanpa pikir panjang, dia menerjang ke depan, melingkarkan kedua lengannya erat-erat di leher Beni dalam sebuah pelukan spontan yang menggila, wajahnya menyembunyikan senyum lebar di bahu Beni. Dia seperti mendapatkan segalanya. Namun, pelukan yang penuh suka cita itu hanya bertahan sejenak. Perlahan, Lintang melepaskan pelukannya dan menarik diri sedikit, cukup untuk menatap wajah Beni. “Kakak... aku... aku mau... tapi...” Dia menelan ludah, wajahnya memerah. “Aku nggak tahu harus mulai dari mana,” akuinya, pecah, me
最終更新日 : 2026-01-20 続きを読む