MasukMereka berdua melangkah keluar dari kamar hotel. Koridor yang sunyi terasa seperti lorong waktu yang memisahkan mereka dari dunia di bawah. Setiap langkah Maya kini lebih mantap, meski matanya masih sedikit sembab. Beni berjalan di sampingnya, merasakan beban yang sedikit berkurang—atau mungkin hanya bergeser."Ke mana kita pergi?" tanya Maya saat mereka mencapai lift."Pertama, kita keluar dari hotel ini. Lalu..." Beni berhenti, memikirkan langkah selanjutnya. "Lalu aku akan meminta bantuan Pak Bimo untuk mengurus kepindahan kita ke luar negeri."Maya mengangkat alis, sedikit terkejut. "Pak Bimo? Bukannya dia bagian dari—""Tapi dia juga punya akses ke hal-hal yang tidak dimiliki orang lain," potong Beni. "Aku tidak bisa menyelesaikan semua ini sendiri. Dan aku tidak mau lagi menjadi pion. Mungkin... mungkin dengan memintanya membantu, aku bisa memulai sesuatu yang baru."Lift tiba dengan bunyi ding lembut. Mereka masuk, dan pintu menutup di belakang mereka. Di dalam ruang kecil itu,
Beni berhenti mondar-mandir. Matanya menyipit. "Silver Nature?" Maya mengangguk pelan. "Aku tidak tahu benda apa itu." Beni merasakan dadanya berdesir. Silver Nature adalah obat terlarang yang pernah ia selidiki dengan Nadia. "Maya," suara Beni mendadak rendah, "apa kau tahu nama perusahaan Bagas?" Maya mengerutkan kening. "Sinar... Sinar Abadi? Atau Sinar... Ah, aku lupa. Kenapa?" Beni tidak menjawab. Dia meraih ponselnya, membuka pesan dari Pak Bimo. Sebuah daftar perusahaan ekspedisi yang terindikasi terlibat dalam jaringan Silver Nature. Jari Beni menggulir layar, berhenti di satu nama. CV. Sinar Samudra Ekspedisi. Direktur: Bagas Priambodo. Beni menelan ludah. Semua potongan mulai menyambung—tapi dengan cara yang berbeda dari yang dia bayangkan. "Kamu benar, Maya," kata Beni perlahan, suaranya hampir berbisik. "Bagas adalah bagian dari jaringan yang sama dengan Rendra dan Irwan. Hanya saja... dia memainkan peran yang berbeda." Maya menatapnya kosong. "Maksudmu
Maya menarik napas dalam, matanya berkaca-kaca tapi berusaha tegar. “Semuanya berawal dari adikku, Beni. Beberapa tahun lalu, dia tertabrak mobil. Biaya rumah sakitnya... selangit. Kami nyaris putus asa. Lalu Bagas muncul, entah dari mana. Dia yang menanggung semua biayanya, tanpa banyak bicara. Menyelamatkan nyawa adikku.” Dia menatap kosong ke dinding. “Aku... aku merasa punya hutang yang tak terbayar. Aku tak punya uang, tak punya apa-apa. Yang kupunya Cuma... tubuhku. Maka, suatu malam, kudatangi kamarnya. Kukatakan, aku mau membalas budinya dengan cara itu.” “Bagas menolak,” lanjut Maya, dan sedikit senyum getir muncul. “Dia bilang, pertolongannya tulus, tidak perlu dibayar. Tapi aku... aku memaksa. Aku merasa itu satu-satunya yang bisa kuberi, satu-satunya cara agar aku tidak merasa terus-menerus menjadi pengemis. Aku mendesak, merayu, hingga akhirnya... dia menyerah.” Maya mengusap wajahnya. “Awalnya, aku takut. Tapi lama-kelamaan... aku mulai menyukainya. Bukan karena ci
Rafael masih ingin membantah, wajahnya merah padam. “Tapi dia—!” “RAFAEL!” suara Irwan akhirnya pecah, keras dan penuh peringatan. Ia memotong anaknya. Wajah Irwan masih tegang, tetapi amarahnya telah berubah menjadi kalkulasi bisnis yang dingin. Dia melihat Bagas, lalu melihat Beni yang masih berdiri dengan amplop di panggung, dan akhirnya melihat kerumunan tamu yang menyaksikan. Dia menarik napas dalam-dalam. Dalam sekejap, topeng profesionalnya kembali, meski terpaksa dan retak. Dia mengambil mikrofon. “Tuan-tuan dan Nyonya-nyonya yang terhormat,” ucapnya, memaksakan senyum. “Tampaknya telah terjadi sedikit... kesalahpahaman yang disebabkan oleh prosedur verifikasi kami yang kurang lancar. Mari kita akhiri diskusi ini dan kembalikan fokus kita pada semangat kerja sama dan kemajuan.” Dia memberi isyarat pada band untuk memainkan musik lagi. “Silakan nikmati hidangan dan hiburan. Terima kasih.” Security mundur. Musik mulai mengalun, mencoba menutupi suara bisikan yang masih
Beni, dengan jantung berdebar kencang hampir ke tenggorokan, menyadari kata-kata tidak akan cukup. Di bawah tatapan menghina Irwan dan senyum penuh kemenangan Rafael, ia merogoh saku dalam jasnya. Tangannya yang sedikit gemetar mengeluarkan amplop karton tebal berwarna gading itu—satu-satunya benda nyata yang menghubungkannya dengan legitimasi. “Ini,” ucap Beni, suaranya berusaha tegas sambil mengangkat amplop terbuka agar logo Media Metropolitan dan tulisan namanya terlihat. “Undangan resmi untuk PT Gemilang Abad yang diberikan langsung oleh Pak Bimo pada saya.” Dia mengulurkan amplop itu ke arah Irwan. Untuk sepersekian detik, ruangan terasa hening. Lalu, Rafael menyambar amplop itu dari tangan Beni sebelum ayahnya sempat mengambilnya. Dengan cepat, matanya menyapu isinya. Terlihat sedikit keraguan di wajahnya—semua detail undangan itu tampak sah—tetapi kebencian dan keinginannya untuk menjatuhkan Beni jauh lebih kuat. “Cuih!” ejek Rafael, mengangkat amplop tinggi-tinggi seolah
Beni terus berjalan, merasakan ratusan pasang mata itu menusuknya. Dia mencapai tangga panggung kecil dan naik. Saat berdiri di sana, di bawah sorotan lampu yang terang benderang, kontrasnya semakin jelas: dia yang masih muda, dengan wajah yang tidak dikenal (atau dikenal karena alasan salah), berdiri di tempat yang seharusnya ditempati seorang direktur terhormat. Irwan Wijaya berbalik. Senyumnya menghilang seketika, digantikan oleh keheningan yang sangat mencengangkan. Matanya yang tajam mengamati Beni dari ujung kepala hingga kaki, memproses, mengkalkulasi. Tidak ada kemarahan yang terlihat, hanya evaluasi dingin yang jauh lebih menakutkan. “Dan... siapa kau?” tanya Irwan akhirnya, suaranya halus namun mematikan, terdengar jelas melalui mikrofon ke seluruh ruangan yang kini sunyi senyap. Di panggung itu, hanya ada mereka berdua. Beni, yang mewakili rahasia warisan ayahnya dan misi Pak Bimo. Dan Irwan, yang mungkin adalah musuh yang paling berbahaya. Beni berdiri tegak di bawah s
Setelah menghabiskan malam yang panas dan menggairahkan dengan Nadia. Beni terbangun di kamarnya saat cahaya matahari belum sepenuhnya muncul. Dia menoleh ke samping, ke arah Nadia yang masih terlelap, tubuhnya yang tanpa busana hanya diselubungi selembar kain seprai yang melorot, memperlihatkan
“Tidak... Aku tidak... Aku tidak pantas,” gumamnya, suaranya parau, lebih kepada dirinya sendiri. Matanya kosong menatap lantai. “Aku hanya Beni biasa. Yang ingin hidup tenang. Bukan... bukan untuk semua ini.”Perasaan tidak layak menguasainya. Bagaimana mungkin ia, yang merasa gagal melindungi dir
“Dia adalah otak di balik banyak operasi strategis organisasi,” jelas Pak Bimo dengan tenang, penuh hormat. “Dialah yang memastikan misi-misi membantu rakyat kecil itu terlaksana dengan rapi dan tanpa jejak. Kecerdasannya, integritasnya, dan loyalitasnya membuatnya dihormati oleh setiap anggota, ba
“Aku... aku ingin hidup tenang, Pak. Kembali ke rumah, urus Ibu dan Lintang. Mungkin buka warung kecil atau bengkel sepeda motor sederhana di kampung. Cukup untuk menghidupi kami bertiga dengan damai. Itu saja.”Diam sejenak.Lalu, tiba-tiba, Pak Bimo tertawa. Bukan tertawa sinis atau mengejek, mel







