“Cu–cukup…,” desah Asuki. Kento masih bermain-main di bawah sana, bibir dan lidahnya memaksa masuk diantara lubang kecil, sempit Asuki. Rasa manis bercampur saliva yang disesap Kento meninggalkan candu yang menggetarkan mulut Kento. Sensasi itu membuat celana Kento sesak. Kento membuka kaki Asuki lebar, bunyi decapan terdengar memenuhi kamar. Kento menggila dibalik bulu-bulu halus Asuki. “Sa–sayang,” desah Asuki lagi. Bibirnya tergulung menahan serbuan kenikmatan lidah Kento. Pinggang Asuki mengetat seiring desakan menuntut Kento. Kento menyentuh klitoris Asuki, menyesap dan menjilatnya penuh semangat. Untuk kedua kalinya Asuki mendesah panjang, mencapai titik tertinggi surga dunia. Kento tersenyum puas. “Enak sayang,” bisiknya bangkit mengusap mulut. Asuki buyar, matanya berkabut dengan nafas yang menderu. Kento bahagia mengamati wajah tak berdaya Asuki. Kento menarik celana dalam mempertontonkan benda tegak berdiri miliknya percaya diri. Asuki sontak memalingkan muka malu.
Read more