Andini menggeleng. "Nggak ada sama sekali."Cinta menyela, "Tapi, Satria lagi urus kan?""Iya."Agung mendengus pelan. "Dia nggak akan tinggal diam, sayang..."Andini menatap Agung. "Kita jangan ikut campur atau melakukan apapun dulu. Aku khawatir dampaknya nggak akan baik. Apalagi, kita nggak tau dan nggak punya pegangan apapun.""Apa maksud kamu, An?""Bisa aja ini urusan bisnis atau mungkin dendam lama, kan? Kalau semua ikut turun tangan, aku khawatir masalah ataupun korban akan bertambah."Agung mengangguk pelan. "Kalau kamu takut dan butuh orang buat jagain kamu, bilang ya... Dengan senang hati Om akan nemenin kamu.""Iya, tenang aja Om."Cinta tersenyum tipis. "Fokus kamu sekarang cuma satu, An. Istirahat yang cukup dan nangan mikir yang berat-berat."Andini mengusap perutnya pelan. "Iya, Tan."Sedangkan di ruang Satria berada, Rania duduk menyilangkan kaki. Siska berdiri sambil membaca ringkasan berita di ponselnya."Media mulai spekulasi, Yah," kata Siska. "Ada yang bilang...
Read more