Mag-log in"Udah," potong Siska.Ia bangkit dari duduknya. Tidak terburu-buru, tapi jelas ia tidak ingin tinggal lebih lama di sana. Ia mengambil tasnya."Aku rasa semua udah cukup jelas," ucap Siska. Bastian langsung ikut bangkit dari duduknya. "Beb, tolong jangan kayak gini. Kita masih bisa bicarain baik-baik.""Enggak perlu," jawab Siska singkat.Ia tidak menatap Alya lagi. Tidak juga menunggu tanggapan dari Bastian. Ia berjalan ke luar dari kafe. Dan Bastian menyusulnya. "Beb!" panggilnya.Pintu terbuka cukup lebar. Udara malam yang dingin langsung terasa masuk menembus kulit. Siska tetap berjalan tanpa memperdulikan panggilan Bastian. "Beb, tunggu dulu!" suara Bastian terdengar lebih keras sekarang.Namun langkah Siska tidak melambat.Sampai akhirnya, ia berhenti. Bukan karena Bastian. Tapi karena seseorang yang kini berdiri di hadapannya.Johan. Pria itu tampak sedikit terkejut melihat Siska, tapi tidak menunjukkannya."Kamu udah selesai?" tanyanya singkat.Siska menatapnya beberapa de
"Aku..," jawab Siska, ragu. Ia memutar gelas di tangannya pelan sambil menatap cairan di dalamnya. Seolah, sedang mencari sesuatu di sana."Untuk sekarang, aku nggak tau, Bas," ucapnya akhirnya.Suaranya datar. Tidak tinggi, tidak juga bergetar. Dan justru itu yang membuatnya terasa semakin jauh.Bastian mengernyit tipis. "Nggak tau gimana maksud kamu, Beb?"Siska menggedikkan bahunya pelan. "Ya nggak tau aja, Bas. Aku nggak bisa langsung bilang iya atau nggak. Karena jujur perasaan aku masih kayak gini."Ia menunjuk dadanya sendiri, singkat. Terlihat jelas rasa nyeri yang tersirat di dalam diri Siska. Namun, ia sengaja tidak mengatakannya. Beberapa lama, hening sejenak. Tidak ada satupun dari mereka yang berbicara. Tapi, ada sesuatu yang tersirat di wajah Bastian. bukan marah, tapi lebih ke arah tidak puas."Ya tapi aku juga manusia, Beb. Aku laki-laki. Dan kadang hal kayak gitu.," ucap Bastian. Ia berhenti sejenak, menahan napas. Masih mencoba menimbang semua ucapan yang akan ke
"Gila! Kok bisa sih?" ucap Siska.Ia menggeleng pelan sambil menatap layar ponselnya. Jari-jarinya bergerak cepat membuka notifikasi. Ada puluhan pesan dan beberapa panggilan tidak terjawab dari Putri.Waktu pengirimannya dari semalam. Bahkan ada yang dini hari tadi. Siska mengernyit. "Kenapa gue baru liat sekarang sih?! Astaga!" gumamnya pelan.Tanpa pikir panjang, Siska langsung menekan tombol panggil. Tidak menunggu lama, Putri langsung mengangkatnya."Siska!" teriak Putri. Suaranya langsung terdengar cepat dan jelas. Tidak ada basa-basi. "Akhirnya lo telpon juga!" lanjutnya. Siska sedikit menahan napas. "Iya, Put. Maaf. Ponsel gue ketinggalan.""Ya, gue tau!" balas Putri, terdengar kesal. "Makanya dari semalem gue teleponin terus! Lo nggak baca chat juga ya?"Siska melirik lagi ke layar. "Belum. Baru sekarang gue liat."Putri menghela napas panjang, tapi nadanya masih terdengar tinggi. "Ya ampun Sis, lo tau nggak orang gue udah nunggu lama di hotel! Lo kenapa sih, nggak dateng-
"Siapa?" tanya Andini pelan, hampir seperti memastikan ulang.Siska menarik napas, lalu menjawab tanpa menatap Andini. "Alya. Model yang kemarin datang ke sini," ucap Siska. Andini benar-benar terdiam. Wajahnya kosong beberapa detik, lalu alisnya perlahan mengernyit."Alya? Kok bisa sih?" tanyanya, lagi. Ia benar-benar belum bisa sepenuhnya percaya dengan apa yang diucapkan Siska.Siska mengangguk kecil, ia sangat yakin apa yang udah dilihatnya semalam. Andini menarik napas panjang dan menghembuskannya perlahan. Lalu menatap ke arah lain sebentar. "Jujur, gue nggak nyangka sih, Sis."Siska tidak menanggapi. Tangannya kembali bergerak, tapi pelan. Seperti sekadar mengisi jeda.Andini melirik lagi. Kali ini lebih serius."Lo yakin?" tanyanya, memastikan. "Yakin," jawab Siska singkat. "Dia sendiri bahkan udah hampir ngaku. Dan situasinya juga emang udah jelas," lanjut Siska. Nada suaranya terdengar datar. Dan justru itu yang membuat Andini semakin khawatir.Tanpa banyak komentar, A
"Hah.. "Bastian menjatuhkan tubuhnya ke sofa setelah sekian lama berdiri tanpa arah di tengah apartemen.Kepalanya benar-benar terasa berat. Bukan hanya karena sisa alkohol, tapi juga karena pikirannya yang tidak berhenti berbicara sejak tadi."Kenapa sih, ada aja masalah. Dan kali ini malah lebih berat dari sebelumnya. Terkait Siska, pula," gumamnya lirih.Ia menatap kosong ke depan. Pertanyaan yang sama masih terus berulang tentang alasan Alya yang tidak menghentikannya dan menyerahkan keperawanannya kepada laki-laki yang sudah ia tahu memiliki pasangan. Dan pasangannya itu, temannya sendiri. Bastian menarik nafas panjang dan menghembuskannya perlahan. Ia bangkit dari duduknya dengan malas. Tangan kanannya mengacak cukup kencang rambutnya sendiri, sebelum akhirnya berjalan ke kamar mandi.Air dingin langsung mengguyur tubuhnya tanpa peringatan. Ia berdiri diam di bawah shower, membiarkan air jatuh terus menerus, seolah bisa membersihkan dan menghempaskan seluruh masalah yang ada d
"Ah, iya!" ucap Siska, saat kedua matanya telah terbuka sempurna. Ia bangun saat cahaya pagi baru mulai masuk dari sela tirai. Beberapa detik ia hanya diam, menatap langit-langit kamar hotel dan memastikan tubuhnya sudah cukup stabil untuk bergerak.Ia menoleh. Johan masih tertidur pulas di sampingnya, napasnya teratur, wajahnya terlihat lebih tenang dibanding semalam.Tanpa suara, Siska bangkit dari tempat tidur. Ia merapikan rambut sekadarnya dan mengenakan kembali pakaiannya satu per satu. Karena ia dan Johan sempat melanjutkan pertempuran saat Siska memutuskan untuk tinggal di sana lebih lama. Gerakannya pelan, terlatih, seolah ini bukan pertama kalinya ia pergi lebih dulu. Ia melirik jam sebentar."Masih aman," gumamnya pelan.Siska mengambil tasnya, lalu berhenti sejenak di dekat nakas. Tangannya merogoh dompet, mengeluarkan beberapa lembar uang, dan meletakkannya rapi di atas meja. Ia tidak menulis atau meninggalkan pesan apa pun. Hanya uang saja, dan bagi Siska itu lebih da
"Oh ya?" tanya Satria. Andini menganggukkan kepala perlahan. Satria menatap Andini beberapa detik setelah mendengar ucapannya. Ia menghela napas kecil sambil tersenyum tipis."Kamu ini… kalau ngomong suka bikin orang kehabisan kata-kata."Andini tertawa kecil. "Memangnya salah? Kamu juga ngerasa
"Banyak," ucap Rania. Ia tersenyum tipis. Tangannya tetap memegang kemudi dengan tenang.Siska mengerutkan kening."Contohnya?"Rania menarik napas dan menghembuskannya perlahan sebelum menjawab."Nenek bangga karena kamu bisa menurunkan ego kamu, sayang."Siska terdiam sejenak. "Ego?" ulangnya p
"Mau saya temenin?" tanya Satria, menawarkan.Andini langsung menggelengkan kepalanya."Nggak usah, ini urusan aku sama Siska. Kalau kamu ikut, takutnya dia akan mikir yang aneh-aneh.""Kamu yakin?" suara Satria terdengar ragu."Yakin. Lagian, aku cuma mau ngobrol sayang... bukan mau perang," jawab
"Beb.. " panggil Bastian lagi. Ia benar-benar menunggu jawaban dari Siska. "Kamu mau kan?" Siska mengangguk pelan. Wajahnya memerah karena malu. "Bagus! Makasih udah mau nerima aku ya Bab!" "Tapi Beb, saat ini kita hanya bahas kepastian hubungan. Untuk lamaran resminya, kamu tetap harus







