Masuk"Bagaimana Pak Dumadi, apa semuanya sudah cukup jelas?" tanya Sekretaris Perusahaan. Beberapa detik setelah Satria menyelesaikan kalimatnya, ruangan kembali tenang. Tidak ada lagi suara map dibuka atau kertas dibalik. Beberapa orang yang tadi terlihat cukup agresif sekarang hanya duduk sambil membaca ulang dokumen yang ada di hadapan mereka.Kakek Dumadi menutup mapnya secara perlahan. Ia menoleh ke beberapa pemegang saham lain yang duduk di sisi meja. Beberapa di antaranya mengangguk kecil, seolah sudah cukup memahami penjelasan yang diberikan."Baik! Kalau begitu, saya rasa penjelasan Satria sudah cukup jelas!" ucap Dumadi.Sony langsung menimpali dengan nada lebih ringan."Saya juga sudah membaca sebagian laporan ini sebelumnya. Memang semuanya tercatat tercatat."Ia menoleh ke arah Satria. "Mungkin tadi hanya terjadi kesalahpahaman saja."Satria hanya mengangguk singkat."Bisa jadi," jawabnya tenang.Pasha menutup mapnya dengan pelan. Ia tidak lagi berbicara seperti sebelumnya.
"Begini..."Kakek Dumadi melipat kedua tangannya di atas meja."Beberapa waktu terakhir, saya menerima cukup banyak laporan dari beberapa pihak! tentang bagaimana cara Perusahaan ini dijalankan!"Beberapa orang saling melirik.Zakir menatap Satria dengan senyum tipis, namun Satria tidak bereaksi."Saya tidak ingin bicara berputar-putar. Kita semua di sini adalah keluarga!" lanjut Dumadi. Ia menoleh ke arah Satria."Sat… kamu udah memimpin perusahaan ini hampir lima tahun!""Iya, Kek," jawab Satria, suaranya terdengar tenang."Apa kamu merasa semuanya berjalan dengan baik?"Satria menganggukkan kepalanya perlahan. "Sejauh yang saya lihat dan lakukan, iya!"Pasha langsung menyela. "Kalo semuanya baik-baik aja, kenapa ada laporan keuangan yang dianggap tidak transparan?"Beberapa orang langsung menoleh ke arah Pasha, lalu beralih ke Satria. Bob mengerutkan kening. Ia berharap Satria bisa menyelesaikan masalah ini dengan baik. "Baik! Kalau begitu, bagian mana yang dianggap tidak transp
"Setelah itu?" tanya Rania, memastikan. Satria tersenyum tipis."Kita jawab semuanya, berdasarkan bukti yang ada!"Bob mengangguk pelan. "Bagus! Itu sangat masuk akal, Pak! Selain itu, Bapak juga bisa tau siapa yang benar-benar ada di pihak Bapak!"Satria mengangguk menyetujui ucapan Bob. Sedangkan Rania masih terus memperhatikan raut wajahnya. "Kamu benar-benar tenang ya, Sat! Sama persis seperti Ayahmu!" ucapnya. Satria mengangkat bahunya sedikit."Saya sudah memegang perusahaan ini hampir lima tahun, Bun!" ucapnya bangga. "Tidak sedikit hal berat yang telah saya lewati hingga saat ini!" lanjutnya. "Iya, kamu benar! Bunda bangga sama kamu, nak!""Lagipula, kalau mereka mau menyerang saya, seharusnya mereka lakukan itu dari dulu. Jangan sekarang!" ucap Satria. Rania mengerutkan kening. "Memang apa bedanya dulu dan sekarang, Sat?"Satria menatap map di meja."Sekarang udah terlambat! Saya udah jauh lebih berpengalaman."Ia menutup map itu dengan satu tangan."Bahkan, jika seluruh
"Sat..." panggil Rania. Ia memperhatikan perubahan wajah anaknya dengan tenang dan sudah menduga bagaimana reaksi Satria. "Tenang dulu, Sat," lanjutnya lagi.Satria menghembuskan napas panjang, lalu menyandarkan tubuhnya kembali ke sofa secara perlahan."Siapa yang mulai menyebarkan isu ini, Bun?" tanya Satria. "Pamannya Ayahmu, Kakek Dumadi," jawab Rania. "Dia yang pertama membuka topik itu di pertemuan keluarga minggu lalu."Satria mengangguk pelan. "Dan tiga sepupu aneh itu, ikut-ikutan?""Iya!"Satria tertawa kecil. Tapi jelas itu bukan tawa yang benar-benar lucu."Mereka memang nggak pernah berubah!"Rania menatapnya tajam. "Kamu... nggak kaget, Sat?"Satria menggelengkan kepalanya perlahan. "Saya udah pernah mikir kemungkinan ini bakal muncul suatu hari."Rania mengangkat alisnya sedikit. "Sejak kapan?"Satria kembali duduk tegak dan mengulurkan tangannya untuk membuka kembali map yang tadi ia tutup."Sejak Ayah meninggal."Rania membulatkan matanya. "Kamu... tau?"Satria men
"Kamu kenapa?" tanya Andini, seraya berbisik di telinga Satria."Nggak apa-apa."Andini mundur dan menyipitkan matanya."Kayaknya sejak tadi raut wajah kamu nyimpen banyak rahasia deh... Kayak tertulis gitu di sana.." ucap Andini lagi, sambil menunjuk wajah Satria dengan manja. Cinta ikut menimpali. "Iya, dari tadi mukanya tegang terus."Satria tersenyum tipis. "Nggak ada rahasia, saya cuma mikirin meeting besok."Rania langsung menyela dengan cepat."Sudah, sudah. Jangan dibahas lagi."Ia lalu menoleh ke Andini. "An, kamu suka bunga apa?"Andini sedikit terkejut dengan perubahan topik itu."Bunga?""Iya.""Uhm… mungkin peony… atau mawar putih, Bun..."Rania mengangguk puas. "Pilihan kamu bagus, An!"Cinta langsung berkata, "Peony mahal loh, An!""Santai Tan, saya yang bayar!" ucap Satria, bangga. "Enak banget kamu ngomong gitu," Cinta tertawa.Mereka kembali makan sambil bercanda.Namun di balik suasana hangat itu, Rania semakin yakin sesuatu sedang bergerak di dalam keluarga Hasan
"Tapi apa sayang?" tanya Cinta. Ia memegang lembut punggung tangan Andini. Andini tersenyum kecil. "Tapi kalau Tante dan Ibu Rania semangat begini, aku nggak masalah. Aku akan ikut aja." ucap Andini. 'Lagian, nggak mungkin juga aku nolak kan? Apalagi ini sekali seumur hidup kata Tante.' batin Andini. "Yang bener nih? Kamu nggak keberatan?!" tanya Rania, memastikan. "Nggak Bun... Lagian bener kata Tante Cinta, kalau ini adalah momen penting. Nggak akan bisa terulang. Jadi, aku nggak masalah dan... Ayo kita lakukan yang terbaik!" tutur Andini penuh semangat. Satria tersenyum kecil, ia melihat ke arah Andini. "Jadi, saya tinggal ikut keputusan kamu aja ya.. "Andini mengangguk mantap. "Iya, sayang... "Rania langsung berdiri. "Oke! Berarti kita mulai persiapannya sekarang!""Rania…" Cinta menahan tawa. "Pelan-pelan...""Nggak bisa pelan, Cin! Kita harus segera bersiap! Mereka harus segera nikah sebelum perut Andini terlalu besar, dan waktunya itu.. mepet banget!"Andini refleks men







