"Jangan, Di, aku khilaf." Rayan yang tadinya beringas mendadak lunglai, lantaran menyadari kehancuran karier, rumah tangga, dan masa depan. Bayangan kemarahan sang mertua dan pencabutan posisinya di perusahaan berputar.Ia tidak lagi meronta. Tatapan Rayan yang tajam berubah memelas."Diana, Sayang ... maafin, Mas. Aku cuma capek, aku stres karena tekanan kerjaan dan memikirkan cara kamu supaya hamil. Tolong, ya, jangan bawa-bawa Papa, Di. Kita selesaiin di rumah, mau, ya?"Diana bergeming, menatap Rayan dengan sorot mata dipenuhi kekecewaan. Sungguh punah sudah rasa ibanya. Jika kemarin masih bertahan karena ia ingin membalas sang suami dengan mempermalukan di depan keluarganya, karena gagal membuatnya hamil.Sekarang, justru Rayan bertingkah. Konsumsi obat-obatan terlarang, tidak bisa ia tolerir lagi.Perlahan Diana melangkah mundur selangkah demi selangkah untuk menjauh dari jangkauan tangan suaminya.Jemari Diana yang masih bergetar bergerak mencari pegangan. Ia menarik kuat pungg
Last Updated : 2026-01-15 Read more