“Mas Dhava?” panggil Diana. Suaranya tetap tenang, tetapi sorot mata karamelnya menumpuk luka yang dalam.Dhava terpaku melihat kekasihnya yang kabur malam itu. Perlahan ia berdiri dan meraih tangan Diana. Namun, wanita itu menepis, dan menyembunyikan tangan di balik punggungnya.“Mas, mau jenguk aku? Aku udah sehat, aku nggak kenapa-napa, aku Cuma … kembung,” celoteh Diana, dan membuang wajah di akhir kalimatnya.Perasaan sesak ini datang lagi. Rasa yang sama seperti lima tahun lalu, saat tahu pria itu memilih temannya sendiri, daripada ia yang sudah sejak kecil menyukainya.“Diana?” panggil Dhava. Suaranya pelan dan tatapannya tidak lepas dari wajah lembut dan cantik itu. “Baby,” bisiknya.Tangan Dhava masih terulur, menggantung begitu saja di udara. Alih-alih menerima uluran tangan pria itu, Diana lebih memilih duduk. Tetap sama, membuang pandangannya jauh-jauh.“Aku akan menjelaskan foto itu—”Diana menyela cepat, “Kebetulan. Aku mau tanya itu. Aku tahu kalian suami istri, tapi ng
Última atualização : 2026-01-11 Ler mais