Valeria tahu Jason sudah pergi.Suara mobil sport itu menjauh, semakin kecil, sampai akhirnya benar-benar menghilang. Namun jagung Valeria masih diselimuti ketakutan luar biasa.Keheningan turun pelan, tapi bukan keheningan yang menenangkan, lebih seperti tekanan di dada, yang terasa berat dan menyakiti.Valeria duduk memeluk lutut, napasnya masih naik turun. “Kenapa aku jadi perempuan selemah ini sih? Kenapa aku hanya diam ketika diperlakukan seperti ini?” gumamnya menahan rasa sesak di dada.Pipi kirinya terasa panas, lengannya berdenyut, pergelangan tangannya merah membara. Lalu.Tok … tok … tok …Valeria menoleh ke arah suara. Dia mengusap wajahnya kasar. Menarik napas dalam.Suara ketukan terdengar lembut, tapi cepat. Seolah orang yang mengetuk itu menahan diri agar tidak mendobrak.“Valeria … buka pintunya!”Suara itu.Teo.“Dia kenapa sih, selalu ikut campur urusanku?” gerutu Valeria kesal.Tubuh Valeria langsung menegang. Tangannya memegang dada, napasnya tertahan. Semua rasa
Zuletzt aktualisiert : 2025-12-01 Mehr lesen