Masuk‘Sial, kenapa makanan ini terasa bagai duri ketika kutelan,’ gumam Valeria dalam hati. Padahal dia sudah mengunyah berkali-kali, namun rasanya tetap sulit untuk di telan.
Jika menikah dengan Jason ternyata begitu menyiksa batinnya, mungkin dia akan berusaha menolak lebih keras lagi saat dipaksa menggantikan sang adik. Sialnya ancaman ibu tirinya membuatnya tak mampu melakukan apapun lagi. Valeria berusaha tetap tenang dan melanjutkan sarapan dengan anggun. Dia harus terlihat tetap tenang dan berani, itulah yang dikatakan oleh Florensia sebelumnya. “Jangan memotong ucapan Nyonya, Nyonya tak suka jika ada yang terlambat di meja makan. Jadi tolong jaga sikap jika berhadapan dengan Nyonya. Dia adalah orang yang perfecsionis di rumah ini. Selebihnya anda nilai sendiri saja,” jelas Florensia. Mengingat ucapan Flo membuat Valeria lebih berhati-hati. Valeria mengerjapkan mata berusaha tetap sadar. Dia tak sadar jika pria di sampingnya sejak tadi mengamati setiap gerak geriknya. “Aku tidak suka jika ada yang terlambat di meja makan, seharusnya kamu mengurus segala keperluan suamimu. Untuk hari ini aku bisa maklumi.” Valeria meletakkan sendoknya dan meremas kedua tangannya yang terass dingin. Teo menghentikan pergerakannya lalu bersandar sembari melipat kedua tangannya, menatap tajam ke arah Viviane. “Bukankah dia sudah dewasa untuk mengurus dirinya sendiri. Mengambil menantu dari keluarga lain bukan untuk dijadikan budak lelaki patriarki. Seharusnya Dia yang harus memperlakukan istri selayaknya ratu. Bukankah anda tak suka jika diperlakukan sebagai babu?” ujar Teo tetap tenang. Viviane adalah ibu tirinya. Wanita yang merebut takhta tertinggi di rumah ini dari ibunya dengan cara menjijikkan. Dia tak lain adalah seorang gundik yang berusaha naik derajat menjadi nyonya. Hal itulah yang membuat Teo merasa membenci wanita di hadapannya saat ini. Jika ada sang Ayah tentu akan terjadi perang di meja makan. Viviane berusaha tetap terlihat tenang, dia meremas garpu dan pisau di tangannya. Menarik napas perlahan dengan lembut. “Ini bukan urusanmu, sebaiknya kau segera menikah agar tak sibuk dengan urusan saudaramu,” jawab Viviane dengan tetap tenang. Padahal hatinya panas dengan ucapan Teo yang terdengar seperti tabuhan genderang perang. Vivian lalu berdiri meninggalkan meja makan. Teo tampak melirik kepergian Vivian. Hari ini Gerald ayahnya memang tidak ada di rumah, karena urusan di luar negeri. Ada pekerjaan yang tak bisa dia tinggalkan. Viviane tak menyangka jika Teo akan mengatakan hal yang membuatnya murka kali ini. Dia biasanya tak perduli dengan drama yang terjadi di rumah. Entah mengapa hari ini Teo berhasil memantik amarah Viviane. “Aku sudah selesai, selamat makan,” ucap Valeria hendak beranjak dari kurisnya. “Tetap duduk atau akan kubongkar semua yang terjadi di antara kita semalam,” ucap Teo santai, namun bagi Valeria lebih terdengar seperti sebuah ancaman. Valeria terperangah mendengar ucapan Teo yang sama sekali tak terfilter itu. Dia menoleh ke segala ruang memastikan tak ada orang lain yang mendengar percakapan mereka. “Apakah anda sengaja menjadikan hal itu untuk mengancam saya?” ucap Valeria pelan, yang merasa kalah. Dia menatap frustasi ke arah Teo, yang kini kembali fokus kepada sarapannya. Dia bahkan terlihat sangat santai seakan tak pernah terjadi apapun di anatara mereka. “Silahkan saja jika ingin pergi, tapi terima konsekuensinya,” lanjut Teo tetap tenang. Tak ada pilihan lain, akhirnya Valeria memilih kembali duduk menemani Teo menghabiskan sarapannya. Akhirnya gadis itu bisa mengunyah makanannya dengan baik kali ini. Entah mengapa berada di samping Teo malah membuatnya merasa nyaman. Padahal ini adalah hal yang seharusnya dia hindari di rumah ini. Dia sudah banyak mencari tahu tentang keluarga Gerald. Namun informasinya ternyata tak begitu valid. Tak ada yang benar-benar tahu bagaimana situasi di rumah ini jika bukan dirinya sendiri yang mencari tahu sendiri. Valeria tak sudah bertekad akan berusaha segera keluar dan terbebas dari setiap orang yang ada di rumah ini. Terutama Teo dan Jason. Teo sudah selesai dengan makanannya, namun Valeria belum. Pria itu menatap ke arah Valeria. Melihat badan Valeria yang begitu kurus membuat Teo merasa sedikit kasihan. “Makan yang banyak. Agar kau kuat menghadapiku, jangan sampai kau kuwalahan suatu saat,” bisik Teo mendekat ke arah Valeria sembari mengamati sekitar. Seringai jahat terbit di bibirnya lalu dia mengambilkan beberapa lauk dan menaruh di piring Valeria. “Jangan pergi jika kau tak menghabiskannya!” lanjut Teo. “Aku sudah kenyang!" protes Valeria. “Makan yang banyak, kami tidak mau dianggap sebagai orang jahat, membiarkan anak orang kelaparan di rumah kami,” ucap Teo. “Berhenti menganggunya!” Suara bariton Jason menghentikan perdebatan kecil antara Teo dan Valeria. Entah mengapa melihat interaksi antara kakak tiri dan wanita yang berstatus sebagai istri itu membuat dada Jason sedikit memanas. Senyum di bibir Teo mendadak memudar menyadari kehadiran Jason. Pria itu menghentikan kegiatannya. Mimik wajah Teo berubah menjadi amarah. “Ayo, kau mau makan semua yang ada di meja makan? Apakah kau babi?” Deg. ‘Sialan, bisa-bisanya dia menghinaku.’ “Aku tak serakus itu,” sahut Valeria kesal. Dia menatap Teo dengan tatapan tajam, membuat Teo menyunggingkan senyum tipis di bibirnya melihat kekesalan wanita di sampingnya. Menyadari ada yang aneh membuat Jason merasakan sesuatu kejanggalan antara istri dan kakak tirinya. Valeria berdiri meninggalkan Teo yang masih duduk di meja makan. “Bisa lebih cepat tidak, kenapa lambat sekali!” bentak Jason. Namun gadis itu hanya terdiam, dia hanya menatap ke arah sang suami. Jason menarik pergelangan tangan Valeria kasar membawanya berjalan dengan sedikit terseok menuju kamar dan menghempaskan tubuh Valeria ke atas ranjang membuat gadis itu terkesiap. “Akh!” Rambut lurus Valeria menutupi wajahnya, dadanya terasa nyeri. matanya mengembun mendapat perlakuan kasar dari Jason. Pria itu menarik dagu Valeria hingga wajahnya mendongak menatap ke arahnya. “Ada hubungan apa kau dengan Teo? Kau menggodanya, huh?” cecar Jason mencengkeram pipi Valeria hingga dia kesulitan berbicara. Valeria hanya menggeleng pelan. “Jauhi dia, atau kau akan terima akibatnya!” ancam Jason. “Kau mengerti?” bentak Jason yang hanya mampu diangguki oleh Valeria. Jason mendorong Valeria hingga kembali terjerembab ke ranjang. “Kalo di ajak ngomong itu jawab!” bentak Jason. Plak! “Akh ...!” Sebuah tamparan keras mendarat di pipi putih Valeria membuat wajah putih itu memerah karena ulah sang suami. “Sekali lagi kau membuatku kesal, kau akan terima yang lebih dari ini,” ancam Jason. Valeria hanya terdiam menatap langit-langit nanar. Pria itu pergi begitu saja meninggalkan Valeria yang masih terpaku. Suara dentuman pintu tertutup membuat rasa sakit dalam diri Valeria semakin terasa menyayat hati. Isakan mulai terdengar, Valeria menutupi kedua matanya dengan lengan. Seorang keluar dari Walk in closet. “Nona tidak apa-apa?” Fliorensia berlari mendekati Valeria. Gadis itu segera duduk dan memeluk Florensia dengan erat. “Flo ... Hu ... Hu ... Hu ....”Pintu kamar tertutup pelan di belakang mereka.Bunyi klik kecil itu terdengar jauh lebih keras dari seharusnya. Seolah menandai batas antara dunia luar yang penuh tatapan dan dunia di dalam kamar yang hanya menyisakan dua orang asing dengan status suami-istri.Valeria melangkah lebih dulu. Ia duduk di tepi ranjang tanpa bicara, melepas jam tangan dari pergelangan, lalu meletakkannya rapi di atas nakas. Gerakannya begitu tenang, bahkan terlalu tenang.Jason berdiri beberapa langkah di belakangnya. Ia tak langsung mendekat. Ada sesuatu di punggung Valeria yang membuatnya ragu, jarak yang tak terlihat, tapi terasa.“Kepalamu masih pusing?” tanya Jason akhirnya. Dari banyaknya kata entah mengapa pria itu memilih menanyakan hal itu.Valeria mengangguk kecil. “Sedikit.” Tanpa ekspresi yang semakin membuat Jason semakin penasaran dengan isi kepala Valeria.“Obat?”“Nanti aja,” jawab Valeria cepat.Jason menghela napas pelan. Ia duduk di kursi dekat jendela, menatap keluar sebentar, lalu kemb
Valeria masuk ke ruang makan pelan-pelan. Suasananya masih terasa dingin.Gerald fokus membaca koran. Teo santai seperti biasa.Viviane mengaduk tehnya pelan, gelagatnya sedikit mencurigakan. Membuat Valeria sedikit waspada. Meskipun terlihat santai, Viviane sering berbicara menusuk hati.Begitu Vale duduk, Viviane langsung mengangkat kepala. Seakan wanita itu sengaja menunggu momen yang pas.“Kamu turun sendiri?”Nadanya manis, tapi dinginnya begitu menusuk. Bahkan ekspresinya masih tampak biasa.“Jason mana? Istri itu biasanya nungguin suami, bukan jalan duluan.” Viviane menoleh ke belakang mengira Jason akan menyusul Valeria.Valeria menahan napas sejenak. “Jason masih di kamar, Ma. Dia masih mandi.”Viviane cuma menggumam pendek. “Hmm… ya, harusnya saling nunggu kalau sudah nikah. Bukannya jalan sendiri-sendiri,” ucapnya sedikit ketus.Valeria masih tampak santai, dia tak mau terjerat dalam kekacauan yang dibuat oleh mertuanya. Teo berhenti mengaduk kopinya. Suaranya keluar datar
“Asal jangan berlebihan saja, kalo kamu mau papa bisa mencarikan kegiatan biar kamu ada kesibukan,” tawar Gerald.“Tidak usah, pa. Saya akan mencari kesibukan sendiri yang memang cocok,” tolak Valeria dengan halus.”Baiklah-baiklah.” Langkah kaki berat terdengar dari arah pintu.Jason berjalan masuk ke ruang makan, rambut masih acak-acakan, mata merah sedikit, kemeja hitam dari kemarin masih nempel bedanya tampak lebih kusut saja.Dia berhenti.Karena seluruh keluarga menoleh.Tapi yang paling membunuhnya adalah Valeria.Karena Valeria menatap Jason, tanpa kemarahan, tanpa tangisan, tanpa tanya, tanpa kecewa.Dia tampak lembut dan elegan.“Jason kamu baru pulang?” ucap Valeria lembut, dan sopan.Seolah dia bukan istri yang ditinggal suaminya semalaman.Jason berkedip cukup lama.Kepalanya kosong karena tidak ngerti kenapa Valeria tidak marah.Valeria mendekat, nada suaranya tetap halus.“Sini, biar aku bantu bawa tasnya ke kamar.”Jason bahkan tidak bisa bereaksi.Dia hanya mematung,
“Tenanglah ... Masih banyak kesempatan. Aku ahli dalam hal itu," bisik Teo lalu melumat bibir Valeria untuk kesekian kali.Kali ini ciuman mereka cukup singkat. “Ayo, kita pulang sekarang!” ajak Teo mulai menyalakan mesin mobil. Melaju perlahan, sebelumnya mereka singgah di sebuah toko untuk membeli obat dan salep untuk Valeria.“Mau aku bantuin pakai?” ucap Teo setelah memasuki mobil. Bukan sebuah godaan, lebih terdengar tulus dan serius.“Ayolah, biarkan aku sendiri. Aku masih bisa melakukan semuanya sendiri. Kita langsung pulang saja,” ajak Valeria.Teo sedikit kecewa, dia segera menyalalan mesin mobil dan membawa Valeria kembali ke mansion.Pintu mobil menutup pelan, hampir tanpa suara. Udara jam empat pagi masih dingin, tipis, dan sedikit berembun. Teo turun duluan, lalu membuka pintu untuk Valeria, gerakannya lembut tapi tetap dengan aura cueknya yang khas.“Pelan,” gumam Teo sambil menahan pintu agar nggak bunyi. “Orang-orang rumah biasanya bangun sebelum jam lima. Kita aman …
Teo memanggilnya seperti sebuah mantra.Seperti pengakuan.Gadis itu hanya memejam mata, membiarkan dirinya tenggelam dalam sentuhan Teo.Mobil bergoyang pelan.Jendela berembun semakin tebal.Napas mereka semakin tidak beraturan.Teo menyatukan keningnya dengan Valeria, menatapnya dalam-dalam.Suaranya hampir tidak terdengar.“I’ve wanted you for so long…”Valeria meraih wajahnya, membalas ciuman itu lagi, lebih berani, lebih jujur dari sebelumnya.Teo menurunkan celananya, Valeria sedikit mendongak menatap suatu di bawah Teo sudah berdiri kokoh, seakan siap memasukinya saat itu juga.“Maaf jika itu akan sedikit menyakitimu, aku janji tidak akan lama, kalo kamu tidak sanggup aku akan berhenti kapanpun,” ucap Teo ragu, mengingat miliknya yang berukuran di atas rata-rata. Valeria meneguk salivanya kasar. Dia mengangguk ragu. Teo mendekatkan miliknya ke inti Valeria, mencoba mencari celah sekecil apapun dengan hati-hati.“Tahan baby,” bisik Teo merasa tak tega. “Akhh ... Sshhh!” jeri
Mobil Teo berhenti di tempat yang semakin sepi. Lampu jalan ada beberapa yang menyala, sisa lainnnya gelap. Udara di dalam mobil mulai terasa hangat, napas mereka saling mengenai.Valeria masih diam, wajahnya memerah setelah ciuman tadi. Tapi Teo … dia sama sekali belum selesai. Masih ada hasrat yang dia tahan.“Valeria…” suaranya serak, dia seperti sedang menahan sesuatu yang lebih gelap.Valeria menelan ludah. “Hm?”Teo menatap bibirnya, lama, lalu menyapu perlahan menggunakan ibu jari.“Kenapa kamu bikin aku susah nahan diri kayak gini,” bisiknya rendah.Valeria memalingkan wajah, tapi Teo langsung menangkap dagunya dengan dua jari, lembut tapi mantap. Membuat Valeria kembali menatapnya.“Look at me,” ucap Teo pelan. Valeria patuh. Selalu patuh saat Teo berbicara seperti itu.Hujan sisa tadi menempel di kaca, memantulkan pantulan lampu dari kejauhan. Suasana semakin terasa privat, tapi justru itu yang membuat dada Valeria berdebar makin liar.“Teo … aku takut ada orang lewat?”“Let







