Beranda / Romansa / Terjebak Gairah Liar Kakak Ipar / 5. Tak Akan Kubiarkan Kau Hidup Tenang

Share

5. Tak Akan Kubiarkan Kau Hidup Tenang

Penulis: Autumn
last update Terakhir Diperbarui: 2025-11-04 10:25:36

“Di mana wanita itu?” gumam Viviane, sejak siang dia tak mendapati Valeria dimanapun. Sejak awal dia tak menyukai Valeria menjadi menantunya. Jika bukan karena syarat dari suaminya, dia tak akan membiarkan Jason menikah dengan Valeria. Entah hubungan apa yang membuat Gerald menjodohkan putra keduanya dengan putri dari keluarga Aaroon.

Gerald mengatakan, jika anaknya ingin segera menjadi penerus di salah satu perusahaannya, maka syarat pertama harus dipenuhi terlebih dahulu. Syarat pertama menikahkan Jason dengan seorang wanita. Apabila dalam satu tahun hubungan pernikahan berjalan dengan baik dan sang wanita bisa mengandung, maka Jason dinyatakan layak menjadi penerus selanjutnya.

Syarat itu tak berlaku pada Jason saja, tetapi juga untuk Teo. Sayangnya, Teo bukanlah lelaki yang gila harta dan tahta, dia merasa jika dirinya tak membutuhkan apapun dari sang Ayah. Teo bahkan sudah mampu mendirikan perusahaan sendiri diam-diam tanpa harus berharap dari sang Ayah. Berbanding terbalik dengan Jason yang masih sangat bergantung dengan sang Ayah.

“Flo!” teriak Viviane memanggil pelayan muda itu. Di kediaman Gerald, semua anggota keluarga memiliki pelayan pribadi masing-masing. Florensia adalah salah orang kepercayaan yang ditugaskan untuk mengurus segala keperluan tentang Valeria. Jelas dia mengetahui di mana Valeria saat ini.

Florensia yang baru saja menuruni anak tangga segera berjalan ke arah Viviane.

“Di mana wanita itu, siapa namanya?” kata Viviane mencoba mengingat nama menantunya.

Florensia berdecih dalam hati, merutuki kebodohan wanita yang ada di hadapannya. Dia tak habis pikir, bagaimana tuannya bisa menemukan wanita seperti Viviane. Dibanding kelebihan, Flo rasa Viviane lebih memiliki banyak kekurangan.

‘Masih muda saja sudah pikun, atau memang pura-pura bodoh,' gerutu Flo dalam hati.

“Nona Valeria, nyonya,” kata Flo.

“Nah itu, whatever lah pokoknya. Di mana dia? Seenak-enaknya dia sekarang, apakah dia kabur?” ujar Viviane geram.

“Tidak nyonya, nona Valeria sedang demam,” jelas Flo mencoba menutupi yang sebenarnya.

Sementara itu, Teo yang baru pulang bekerja segera berlalu melewati Viviane begitu saja. Tak ada saling sapa seperti keluarga pada umumnya. Apalagi Teo memang tak menganggap Viviane sebagai pengganti ibunya, sampai kapanpun tak akan pernah.

“Cih, dasar pemalas. Tadi bagi baik-baik saja. Pasti itu hanya akal-akalannya saja,” gerutu Viviane. Wanita itu mengambil tas branded berwarna pink dari meja.

Teo masih bisa mendengar ucapan Viviane, namun memilih mengabaikan wanita itu lagi.

Flo lebih memilih diam tak menjawab, mengingat mood nyonyanya yang sedang buruk. Alih-alih mendapat apresiasi dirinya bisa mendapatkan omelan nantinya.

“Di mana Jason?” tanya nya sembari mengambil kacamata hitam lalu meniup dan mengelapnya.

“Tuan muda pergi dinas di luar kota untuk beberapa hari," jelas Viviane. Sebelum pergi, Flo memang diminta menyiapkan barang-barang pribadi Jason. Jika dilihat dari barang bawaan, Jason kemungkinan akan kembali dalam satu minggu lagi.

Flo memang sudah hafal dengan kelakuan tuan mudanya itu.

”Ck, anak itu. Bagaimana bisa wanita itu cepat hamil jika ditinggal terus. Apakah dia sudah bosan hidup,” gumam Viviane.

‘Semoga saja tak hamil dengan anakmu, nyonya!’ sayangnya kata-kata itu tak bisa keluar dari mulut Florensia.

“Oke, kau bisa kembali. Oh iya, Flo. Katakan pada Marry aku akan pergi dalam dua hari ini, bisa lebih lama juga, menghadiri acara pernikahan sahabatku, jadi kau urus rumah ini dengan baik. Katakan pada Marry dan yang lain. Jika ada yang mencurigakan segera hubungi aku!" jelas Viviane yang lebih terdengar seperti perintah.

“Baik, Nyonya.”

Florensia mengantar sang nyonya sampai ke halaman. Lalu dia kembali ke kamar Valeria. Dia merasa sangat kasihan kepada nona mudanya yang mendapatkan perlakuan kurang pantas dari Jason. Flo sama sekali tak menyangka jika tuan muda yang dia kenal sangat baik dan ramah kepada semua pegawai di rumah ternyata memiliki kepribadian buruk. Bahkan melampiaskan semuanya kepada istri yang baru dia nikahi.

Florensia mengetuk pintu kamar Valeria, namun dia tak mendapat jawaban dari dalam. Dia membuka handle pintu dengan paksa, sayangnya usahanya tampak sia-sia. Valeri mengunci pintu dari dalam.

“Nona, apakah nona baik-baik saja?” tanya Flo sedikit berteriak.

“Ada apa Flo?” suara bariton Teo membuat Flo sedikit terjengit. Tubuhnya mendadak kaku, namun dia tetap berusaha membalik badan menghadap ke arah Teo.

“Eh ... Nona tidak membuka pintu kamarnya, Tuan,” jawab Flo ragu.

“Apakah terjadi sesuatu selama aku tidak di rumah?” tanya Teo menyelidik. Alis pria itu terangkat sebelah mencari jawaban dari balik wajah Florensia.

Flo hanya bisa menunduk, dia tak berani mengatakan yang sebenarnya.

“Katakan, Flo. Apakah bajingan itu menyakiti Valeri?” cecar Teo.

Florensia meremas kedua tangannya sembari mengangguk takut, dia semakin menunduk tak berani menatap wajah Teo yang terlihat menakutkan saat ini. Jika Jason terlihat tenang dan cenderung ramah, maka berbanding terbalik dengan Teo.

Di rumah ini tak ada yang berani menentang dan membantah Teo, dia memang dikenal sadis dan dingin kepada semua orang. Flo tidak mengerti kenapa tiba-tiba seorang Teo malah perduli dan seakan tertarik dengan seorang Valeria. Padahal begitu banyak wanita yang menginkan hati Teo harus menelan kekecewaan karena kerasnya hati Teo.

Jika Jason dikenal banyak memiliki kekasih, namun berbanding terbalik dengan Teo. Dia bahkan tak pernah dirumorkan dekat dengan siapapun. Itulah yang membuat Flo menaruh rasa curiga saat ini.

“Shiiit!” Teo mengepalkan tangannya. Rasa kesal mulai memenuhi dadanya.

“Katakan, Flo!” bentak Teo membuat Flo sedikit bergetar.

“Maafkan saya tuan, saya tidak bisa berbuat apa-apa saat kejadian itu terjadi. Sa-saya melihat tuan menyakiti nona.

“Ada apa, apa yang dilakukan bajingan itu Flo?” cecar Teo, mimik wajahnya berubah menjadi panik bercampur khawatir.

“Valeri! Valeria! Buka pintunya!” teriak Teo sembari menggedor pintu kamar adik iparnya. “Brengsek! Cepat panggil tukang kunci!” bentak Teo.

“Ba-baik tu-an.”

Dor dor dor!

Teo baru menyadari jika kamar sang adik juga kedap suara jika sudah dikunci dari dalam. Usahanya hanya akan sia-sia. Jelas Valeria tak akan mendengar siapapun dari dalam sana. Entah apa yang dilakukan oleh Valeria, hal itu berhasil membuat Teo panik. Dia segera mengambil ponselnya, menghubungi seseorang.

Florensia merasa bersalah telah meninggalkan Valeria sendirian dalam keadaan seperti ini. Seharusnya dia tetap menemani Valeria, dia kembali teringat bagaimana ketakutan di wajah Valeria setelah Jason menyakiti wanita itu.

Florensia hanya bisa berdoa, berharap agar Valeria tetap baik-baik saja. Meskipun Valeria orang baru di rumah ini, dia bisa merasakan jika wanita itu benar-benar baik dan tulus.

“Vale, buka Val! Awas saja kalo sampai terjadi sesuatu padanya, tak akan kubiarkan kau hidup dengan tenang!” ujar Teo geram. Teo masih berusaha menggedor pintu berharap agar Valeria mendengar.

“Vale ... Buka!” teriak Teo semakin tak terdengar, dia semakin frustasi.

Tak lama kemudian, seorang pria paruh baya datang membawa perkakas peralatan. “Permisi tuan,” ucapnya ragu.

Teo yang menyandarkan kepalanya ke pintu melirik ke arah pria paruh baya itu.

“Tolong buka pintunya sekarang!” Kata Teo seperti mendapat angin segar.

Tak butuh waktu lama, tukang kunci itu berhasil membuka pintu kamar Valeria.

Brak!

Teo segera mengedarkan pandangan mencari sosok yang dia cari.

Dia tak mendapati Valeria di atas tempat tidur. Suara gemericik air segera menyadarkan Teo. Pria itu segera berlari menuju kamar mandi.

“Valeri!”

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi

Bab terbaru

  • Terjebak Gairah Liar Kakak Ipar   26. Dilema

    Pintu kamar tertutup pelan di belakang mereka.Bunyi klik kecil itu terdengar jauh lebih keras dari seharusnya. Seolah menandai batas antara dunia luar yang penuh tatapan dan dunia di dalam kamar yang hanya menyisakan dua orang asing dengan status suami-istri.Valeria melangkah lebih dulu. Ia duduk di tepi ranjang tanpa bicara, melepas jam tangan dari pergelangan, lalu meletakkannya rapi di atas nakas. Gerakannya begitu tenang, bahkan terlalu tenang.Jason berdiri beberapa langkah di belakangnya. Ia tak langsung mendekat. Ada sesuatu di punggung Valeria yang membuatnya ragu, jarak yang tak terlihat, tapi terasa.“Kepalamu masih pusing?” tanya Jason akhirnya. Dari banyaknya kata entah mengapa pria itu memilih menanyakan hal itu.Valeria mengangguk kecil. “Sedikit.” Tanpa ekspresi yang semakin membuat Jason semakin penasaran dengan isi kepala Valeria.“Obat?”“Nanti aja,” jawab Valeria cepat.Jason menghela napas pelan. Ia duduk di kursi dekat jendela, menatap keluar sebentar, lalu kemb

  • Terjebak Gairah Liar Kakak Ipar   25. Cucu

    Valeria masuk ke ruang makan pelan-pelan. Suasananya masih terasa dingin.Gerald fokus membaca koran. Teo santai seperti biasa.Viviane mengaduk tehnya pelan, gelagatnya sedikit mencurigakan. Membuat Valeria sedikit waspada. Meskipun terlihat santai, Viviane sering berbicara menusuk hati.Begitu Vale duduk, Viviane langsung mengangkat kepala. Seakan wanita itu sengaja menunggu momen yang pas.“Kamu turun sendiri?”Nadanya manis, tapi dinginnya begitu menusuk. Bahkan ekspresinya masih tampak biasa.“Jason mana? Istri itu biasanya nungguin suami, bukan jalan duluan.” Viviane menoleh ke belakang mengira Jason akan menyusul Valeria.Valeria menahan napas sejenak. “Jason masih di kamar, Ma. Dia masih mandi.”Viviane cuma menggumam pendek. “Hmm… ya, harusnya saling nunggu kalau sudah nikah. Bukannya jalan sendiri-sendiri,” ucapnya sedikit ketus.Valeria masih tampak santai, dia tak mau terjerat dalam kekacauan yang dibuat oleh mertuanya. Teo berhenti mengaduk kopinya. Suaranya keluar datar

  • Terjebak Gairah Liar Kakak Ipar   24. Bermain Api

    “Asal jangan berlebihan saja, kalo kamu mau papa bisa mencarikan kegiatan biar kamu ada kesibukan,” tawar Gerald.“Tidak usah, pa. Saya akan mencari kesibukan sendiri yang memang cocok,” tolak Valeria dengan halus.”Baiklah-baiklah.” Langkah kaki berat terdengar dari arah pintu.Jason berjalan masuk ke ruang makan, rambut masih acak-acakan, mata merah sedikit, kemeja hitam dari kemarin masih nempel bedanya tampak lebih kusut saja.Dia berhenti.Karena seluruh keluarga menoleh.Tapi yang paling membunuhnya adalah Valeria.Karena Valeria menatap Jason, tanpa kemarahan, tanpa tangisan, tanpa tanya, tanpa kecewa.Dia tampak lembut dan elegan.“Jason kamu baru pulang?” ucap Valeria lembut, dan sopan.Seolah dia bukan istri yang ditinggal suaminya semalaman.Jason berkedip cukup lama.Kepalanya kosong karena tidak ngerti kenapa Valeria tidak marah.Valeria mendekat, nada suaranya tetap halus.“Sini, biar aku bantu bawa tasnya ke kamar.”Jason bahkan tidak bisa bereaksi.Dia hanya mematung,

  • Terjebak Gairah Liar Kakak Ipar   23. Sebuah Strategi

    “Tenanglah ... Masih banyak kesempatan. Aku ahli dalam hal itu," bisik Teo lalu melumat bibir Valeria untuk kesekian kali.Kali ini ciuman mereka cukup singkat. “Ayo, kita pulang sekarang!” ajak Teo mulai menyalakan mesin mobil. Melaju perlahan, sebelumnya mereka singgah di sebuah toko untuk membeli obat dan salep untuk Valeria.“Mau aku bantuin pakai?” ucap Teo setelah memasuki mobil. Bukan sebuah godaan, lebih terdengar tulus dan serius.“Ayolah, biarkan aku sendiri. Aku masih bisa melakukan semuanya sendiri. Kita langsung pulang saja,” ajak Valeria.Teo sedikit kecewa, dia segera menyalalan mesin mobil dan membawa Valeria kembali ke mansion.Pintu mobil menutup pelan, hampir tanpa suara. Udara jam empat pagi masih dingin, tipis, dan sedikit berembun. Teo turun duluan, lalu membuka pintu untuk Valeria, gerakannya lembut tapi tetap dengan aura cueknya yang khas.“Pelan,” gumam Teo sambil menahan pintu agar nggak bunyi. “Orang-orang rumah biasanya bangun sebelum jam lima. Kita aman …

  • Terjebak Gairah Liar Kakak Ipar   22. Malam Panas 2

    Teo memanggilnya seperti sebuah mantra.Seperti pengakuan.Gadis itu hanya memejam mata, membiarkan dirinya tenggelam dalam sentuhan Teo.Mobil bergoyang pelan.Jendela berembun semakin tebal.Napas mereka semakin tidak beraturan.Teo menyatukan keningnya dengan Valeria, menatapnya dalam-dalam.Suaranya hampir tidak terdengar.“I’ve wanted you for so long…”Valeria meraih wajahnya, membalas ciuman itu lagi, lebih berani, lebih jujur dari sebelumnya.Teo menurunkan celananya, Valeria sedikit mendongak menatap suatu di bawah Teo sudah berdiri kokoh, seakan siap memasukinya saat itu juga.“Maaf jika itu akan sedikit menyakitimu, aku janji tidak akan lama, kalo kamu tidak sanggup aku akan berhenti kapanpun,” ucap Teo ragu, mengingat miliknya yang berukuran di atas rata-rata. Valeria meneguk salivanya kasar. Dia mengangguk ragu. Teo mendekatkan miliknya ke inti Valeria, mencoba mencari celah sekecil apapun dengan hati-hati.“Tahan baby,” bisik Teo merasa tak tega. “Akhh ... Sshhh!” jeri

  • Terjebak Gairah Liar Kakak Ipar   21. Malam Panas 1

    Mobil Teo berhenti di tempat yang semakin sepi. Lampu jalan ada beberapa yang menyala, sisa lainnnya gelap. Udara di dalam mobil mulai terasa hangat, napas mereka saling mengenai.Valeria masih diam, wajahnya memerah setelah ciuman tadi. Tapi Teo … dia sama sekali belum selesai. Masih ada hasrat yang dia tahan.“Valeria…” suaranya serak, dia seperti sedang menahan sesuatu yang lebih gelap.Valeria menelan ludah. “Hm?”Teo menatap bibirnya, lama, lalu menyapu perlahan menggunakan ibu jari.“Kenapa kamu bikin aku susah nahan diri kayak gini,” bisiknya rendah.Valeria memalingkan wajah, tapi Teo langsung menangkap dagunya dengan dua jari, lembut tapi mantap. Membuat Valeria kembali menatapnya.“Look at me,” ucap Teo pelan. Valeria patuh. Selalu patuh saat Teo berbicara seperti itu.Hujan sisa tadi menempel di kaca, memantulkan pantulan lampu dari kejauhan. Suasana semakin terasa privat, tapi justru itu yang membuat dada Valeria berdebar makin liar.“Teo … aku takut ada orang lewat?”“Let

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status