Share

Bab 87

Author: Ipak Munthe
last update Last Updated: 2026-01-18 00:51:21

Lala turun dari sepeda motor Kala dengan anggun, tubuhnya tegak dan langkahnya mantap. Setiap gerakan kakinya terlihat lentur dan halus, seolah menari di udara.

Kakinya yang ramping dan mulus menyentuh lantai dengan ringan, namun penuh percaya diri. Rambutnya sedikit tertiup angin, menambah kesan anggun yang alami.

Saat ia melangkah memasuki ruangan, banyak mata tak sengaja menatapnya, takjub oleh ketenangan dan pesona yang terpancar dari setiap gerakannya. Tidak ada yang bisa mengalihkan pandangan—Lala hadir, dan suasana seketika seolah berhenti sejenak, terpikat oleh keanggunan yang begitu alami.

Begitu juga dengan Kala. Matanya tak lepas menatap Lala saat ia melangkah memasuki ruangan. Setiap gerakan Lala terasa ringan, namun penuh wibawa, membuat Kala sejenak lupa bernapas.

Kala hanya bisa menelan ludah, takjub oleh cara Lala membawa diri—anggun, percaya diri, dan memikat tanpa perlu berusaha. Ada sesuatu pada Lala yang membuatnya berbeda dari siapapun yang pernah ia temui
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Godaan Dokter Cantik   Bab 89

    “Sarah, sebenarnya aku ingin bicara. Bicara tentang kita,” kata Aran. Ia terdiam sejenak, menimbang apakah ini waktu yang tepat atau tidak. Namun satu hal sudah ia putuskan—ia ingin mengakhiri pernikahannya dengan Sarah secepat mungkin. Bagaimanapun juga, Aran takut. Takut kondisi Lala yang mulai membaik kembali drop karena stres. Takut kehilangan Lala. Sekaligus takut kehilangan calon anaknya. Apalagi, semakin hari perut Lala akan semakin membesar—sesuatu yang tak mungkin terus disembunyikan. “Apa?” tanya Sarah penuh semangat. Ia segera duduk di samping Aran, bahkan tanpa ragu memeluk lengannya, seolah jarak bisa mengubah segalanya. “Kamu mau ngajak aku honeymoon?” tanyanya lagi, tersenyum manis, penuh harap. Namun perlahan, Aran melepaskan tangannya dari genggaman Sarah. “Sarah,” ucapnya sambil menatap mata wanita itu dengan serius—tatapan yang tidak pernah Sarah lihat sebelumnya. Sarah mengernyit. “Kamu mau ngomong apa sih? Kok serius banget?” katanya, mencoba terta

  • Godaan Dokter Cantik   Bab 88

    Sarah berdiri di pintu kamar, menatap Aran yang sedang menempelkan ponsel ke telinganya. Wajah Aran serius, nada suaranya dingin tapi lembut—dan itu langsung membuat Sarah sedikit cemburu. “Mas… ngomong sama siapa?” tanya Sarah, mencoba terdengar santai tapi suaranya sedikit meninggi. Aran menoleh sebentar, menatap Sarah dengan ekspresi datar. “Hanya urusan kerjaan… tidak penting,” jawabnya singkat. Sarah mengerutkan alis, tidak puas dengan jawaban itu. “Kerjaan? Yakin,” mendadak Sarah menatap Aran penuh curiga, sambil menyilangkan tangan. Aran menunduk sedikit, sadar ada nada cemburu di suara Sarah. “Ini… memang penting,” ucapnya, mencoba menenangkan suasana. Sarah melangkah mendekat, matanya menatap tajam. “Hmm… serius banget ya? Sampai segitunya?” Aran menghela napas pelan, sedikit frustrasi tapi tetap tenang. “Iya, memangnya kenapa.” katanya, nada sedikit manis tapi tetap tegas. Sarah mendesah, campur kesal dan penasaran. Ia menatap Aran sebentar, lalu menund

  • Godaan Dokter Cantik   Bab 87

    Lala turun dari sepeda motor Kala dengan anggun, tubuhnya tegak dan langkahnya mantap. Setiap gerakan kakinya terlihat lentur dan halus, seolah menari di udara. Kakinya yang ramping dan mulus menyentuh lantai dengan ringan, namun penuh percaya diri. Rambutnya sedikit tertiup angin, menambah kesan anggun yang alami. Saat ia melangkah memasuki ruangan, banyak mata tak sengaja menatapnya, takjub oleh ketenangan dan pesona yang terpancar dari setiap gerakannya. Tidak ada yang bisa mengalihkan pandangan—Lala hadir, dan suasana seketika seolah berhenti sejenak, terpikat oleh keanggunan yang begitu alami. Begitu juga dengan Kala. Matanya tak lepas menatap Lala saat ia melangkah memasuki ruangan. Setiap gerakan Lala terasa ringan, namun penuh wibawa, membuat Kala sejenak lupa bernapas. Kala hanya bisa menelan ludah, takjub oleh cara Lala membawa diri—anggun, percaya diri, dan memikat tanpa perlu berusaha. Ada sesuatu pada Lala yang membuatnya berbeda dari siapapun yang pernah ia temui

  • Godaan Dokter Cantik   Bab 86

    Waktu yang sama… “Hay,” sapa Kala saat melihat Lala keluar dari rumah. “Hay,” jawab Lala singkat. “Kamu kemana dua hari ini? Aku kan kangen sama kamu,” celetuk Kala sambil tersenyum nakal. “Eleh, bulsit. Kemarin juga kamu ngomong gitu ke Indri,” sahut Hani cepat. Kala menoleh, alisnya bertaut. “Apa lihat-lihat?!” geram Hani. “Ada apa dengan asistenmu ini, La? Waktu itu ngintip aku di kamar mandi, kemarin dia nabrak aku, hari ini dia ngomong nggak jelas,” kata Kala sambil menatap Hani tajam. “Heh, aku ngomong jelas, kok. Suster Indri juga bilang begitu,” balas Hani yakin. “Dasar tukang ngintip! Matamu bintitan tu! Suster ngesot kamu cocoknya.” ejek Kala. “Kamu bintitan?” tanya Lala, memperhatikannya dengan serius tapi penasaran. Dan Lala juga baru menyadari. “Abis ngintip!” sela Kala cepat. “Heh, ini itu virus. Aku nggak ngintip, apalagi ngintip kamu. Lagian juga… apa yang mau diintip, kecil,” kata Hani, wajahnya memerah. “Kamu tau dari mana?” tanya Lala, ter

  • Godaan Dokter Cantik   Bab 85

    Pagi datang tanpa aba-aba, menyusup lewat celah gorden yang tak tertutup rapat. Cahaya matahari jatuh miring ke lantai, memantul pucat, seolah ikut ragu untuk menyapa. “Mas, bangun yuk. Sarah sudah masak,” kata Sarah sambil mengelus wajah Aran. Wajah Aran memang tampan, membuatnya sejak dulu sudah jatuh hati padanya. Tapi saat Sarah menyentuh, tubuh Aran terasa hangat—terlalu hangat. “Mas, kamu demam? Muka kamu pucat,” kata Sarah, khawatir. “Kayaknya kecapekan,” jawab Aran pelan. “Makanya kita pindah ke kota saja, Mas. Biar kamu nggak bolak-balik capek begini,” lanjut Sarah. “Iya,” jawab Aran singkat. Sarah tersenyum, membayangkan hidup nyaman sebagai orang kaya. “Aku panggil Lala dulu, biar dia periksa kamu,” katanya lagi, lalu pergi. Aran perlahan keluar dari selimut, tak menyangka Sarah akan memanggil Lala. “Lala,” panggil Sarah sambil menghampiri Lala yang tengah duduk di meja makan. “Ya,” jawab Lala menoleh. “Kamu bisa periksa Mas Aran sebelum berangkat?”

  • Godaan Dokter Cantik   Bab 84

    Di kamar lainnya, Sarah meletakkan kaos kemeja milik Aran yang barusan ia pilih dengan hati-hati di atas ranjang. “Mas, ini pakaian gantinya. Mau mandi dulu atau ganti aja?” tanya Sarah lembut. “Ganti saja,” jawab Aran singkat. “Oh, ya sudah. Aku ke dapur dulu, bikinin kamu teh hangat. Sekalian ambil es buat kompres muka kamu,” katanya lagi. Dengan langkah ringan dan wajah yang tampak lebih cerah, Sarah menuju dapur. Tak lama kemudian ia kembali, membawa secangkir teh hangat, wadah kecil berisi es, dan handuk kecil. Semuanya ia letakkan rapi di atas meja. “Mas…” panggilnya pelan. Sarah melangkah mendekat, lalu memeluk Aran dari belakang. Aran yang baru saja selesai mengenakan pakaian gantinya seketika terdiam. Tubuhnya menegang sesaat, lalu perlahan melembut. “Mas, aku kangen kamu, tau,” ujar Sarah manja, suaranya nyaris berbisik. Aran tak langsung menjawab. Tangannya turun menahan lengan Sarah yang melingkar di pinggangnya. Ada pelukan yang familiar, tapi juga sesuatu

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status