Dean menghela napas panjang melihat tingkah atasannya—sekaligus sahabatnya— yang uring-urimgan sejak pagi. Yah, ini memang bukan pemandangan aneh bagi Dean. Sejak menikah, emosi Alaric memang tak bisa terkontrol. Akibatnya, para karyawan jadi terkena imbasnya. Dengan lelah, Dean memijat pangkal hidungnya. Saat ini ia berada di ruang presdir, mencoba berbicara dengan pria arogan yang tengah menelungkupkan kepala di atas meja kerjanya. "Jadi, apa yang terjadi denganmu, Pak?" Alaric hanya melirik sekilas, tatapannya malas dan terkesan dingin. "Kau tidak perlu tahu." Dean mendengus. Keras kepala, seperti biasa, batinnya berkata. Namun, hal itu lumrah. Jika tersenyum lebar, bukan Alaric namanya. "Setiap hari selalu begitu. Kali ini apa lagi, kau melihat istrimu kencan dengan pria lain, dan kau cemburu?" BRAK! Sebuah majalah melayang ke arahnya. Untung Dean masih cukup gesit untuk menghindar, kalau tidak, wajah tampannya pasti sudah membiru karena ulah Alaric. "Jangan bicar
Last Updated : 2025-11-24 Read more