Beranda / Young Adult / Bilur Bulir Bertaut / Kecupan Di Depan Lift

Share

Kecupan Di Depan Lift

Penulis: NaoMiura
last update Tanggal publikasi: 2026-02-10 20:00:56

Pagi itu, udara di area parkir terasa lebih berat dari biasanya. Naomi melangkah dengan ritme jantung yang tidak beraturan, namun kepalanya tetap tegak. Mobil Mareeq sudah terparkir manis di posisi yang sama. Saat kaca mobil itu turun dan Mareeq memberikan isyarat familier.

Dari sudut matanya, Naomi menangkap siluet yang berdiri kaku dari arah lain tempat parkir. Claudia. Wanita itu tidak lagi bersembunyi dengan rapi. Tatapannya tajam, mengintai seperti predator yang menunggu mangsanya

Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • Bilur Bulir Bertaut   Hari Libur yang Gerah

    Hari Sabtu datang dengan suasana yang lebih pelan. Naomi masih mengenakan pakaian rumah ketika Leon bersiap keluar dari apartemen. Pria itu berdiri di depan cermin sambil merapikan rambut dan menyemprotkan parfum secukupnya.“Kamu mau keluar?” tanya Naomi dari sofa sambil membalik halaman majalah yang sebenarnya tidak ia baca.Leon menoleh. “Iya. Ada janji dengan teman kantor satu tim.”Naomi mengangguk singkat. “Maya?”Leon tertawa kecil. “Interogasi?”“Pertanyaan biasa.”“Ada. Bersama anak-anak lain dari timku.”Naomi menatapnya sebentar, lalu kembali ke majalah. “Oh.”Leon mengambil dompet dan kunci mobil. “Aku mungkin pulang agak malam.”“Hmm.”Ia berjalan mendekat, menunduk sedikit untuk mencium puncak kepala Naomi sebelum pergi.“Jangan lupa makan siang.”Naomi hanya bergumam.

  • Bilur Bulir Bertaut   Kebiasaan

    Naomi menatap Mareeq. Dadanya sesak oleh hal yang bahkan tidak boleh ia akui. Ia menyukai cara pria itu bicara padanya. Menyukai rumah yang baru saja dibangun dari kata-kata. Menyukai kenyamanan yang seharusnya tidak ada. Tapi semuanya berbahaya.“Kita seharusnya pulang,” katanya pelan.Mareeq masih menatapnya beberapa saat sebelum mengangguk. “Baik.”Ia menyalakan mesin mobil. Suara mesin memenuhi ruang yang terlalu sunyi. Namun sebelum mulai menjalankan mobil, Mareeq berkata tanpa menoleh.“Kalau suatu hari hidup berubah…”Naomi menegang.“…aku tetap ingin tahu apa yang akan kamu tambahkan di rumah itu.”Naomi tidak menjawab. Ia hanya menatap keluar jendela sepanjang perjalanan pulang. Sementara di kepalanya, sebuah rumah di Turki perlahan berdiri, lengkap dengan ruang kosong yang tadi sengaja ia tolak isi.Perjalanan pulang dipenuhi keheningan yang tidak nyaman, t

  • Bilur Bulir Bertaut   Rumah Impian

    Setelah pesanan selesai, mereka kembali ke mobil. Mareeq meletakkan kedua gelas di cup holder tengah lalu menyalakan mesin pendingin. Di luar, jalanan sore mulai ramai. Di dalam mobil, suasananya tenang dan tertutup dari hiruk-pikuk kota.Naomi menatap dua gelas itu lama. Americano hitam dengan aroma pahit yang akrab. Matcha latte berwarna hijau lembut.Mareeq mengambil cup americano, lalu mendorongnya sedikit ke arah Naomi.“Cobalah.”Naomi menatapnya ragu. Dia tahu Mareeq suka americano, tapi dia ingin mencoba menyukai americano juga. Naomi mengambil cup itu ragu.Setelah menerima cup americano itu, Mareeq mengambil matcha dari dasbor. Dia tanpa ragu menyeruputnya tanpa ekspresi.Naomi memperhatikan dengan seksama. “Bagaimana?”“Seperti minum rumput.”Naomi tertawa kecil tanpa bisa ditahan. Kemudian dia menatap gelas americano itu seperti sedang menantang musuh lama. Kini gilirannya mencoba

  • Bilur Bulir Bertaut   Selera yang Sama

    Suasana kantor berjalan seperti biasa. Cepat, rapi, dan penuh suara notifikasi yang datang bergantian. Naomi baru saja meregangkan badannya setelah fokus pada pekerjaan. Pandangannya tanpa sadar bergeser ke arah ruangan kecil di sudut area kerja mereka. Ruangan Mareeq.Pintunya tertutup. Naomi sudah tahu tidak akan ada orang di dalamnya. Kemarin dia mengatakan Freya dan Raya akan kembali ke Turki hari ini, jadi sudah pasti Mareeq akan mengantarnya ke bandara.Naomi menatap beberapa detik lebih lama dari yang seharusnya, lalu memalingkan wajah dan melanjutkan fokus pada komputernya. Claudia datang sambil membawa map dan secangkir kopi. Ia berhenti di dekat meja Naomi, lalu mengikuti arah pandangan Naomi yang sempat kembali melirik ke sudut ruangan.“Kamu mencari Mareeq?” tanyanya santai.Naomi langsung menatap layar. “Tidak.”Claudia tersenyum kecil, seolah jawaban itu tidak penting. “Dia cuti hari ini.”Ja

  • Bilur Bulir Bertaut   Rapat Pertama

    Keesokan paginya, Naomi siap dengan hari kerja pertama di tahun itu. Dia sengaja datang lebih awal dari biasanya. Ia meletakkan tas di meja, menyalakan komputer, lalu duduk dengan punggung tegak sambil menatap layar yang belum sepenuhnya menyala.Pikirannya sudah berjalan lebih cepat dari perangkat di depannya. Hari ini ada rapat dengan Gigantic. Moodnya sedikit buruk. Bukan karena pekerjaannya, melainkan karena satu orang yang selalu memaksanya berurusan dengan Gigantic. Rahaal.Naomi mengambil napas pelan, lalu membuka agenda kerja di layar. Ia mencoba fokus pada catatan presentasi, jadwal, dan dokumen yang harus dibawa. Tapi pikirannya tetap tahu bahwa cepat atau lambat, pria itu akan muncul dari ruangannya.Dan benar saja. Beberapa menit kemudian, pintu ruang kerja di belakang meja kerjanya terbuka. Rahaal keluar sambil merapikan lengan kemejanya. Langkahnya tenang, wajahnya seperti biasa. Terlalu tenang untuk seseorang yang sering mengacaukan suasana tanpa

  • Bilur Bulir Bertaut   Kata yang Tidak Terucap

    Makan siang itu akhirnya mencapai ujungnya tanpa benar-benar selesai. Piring-piring mulai kosong. Percakapan mereda dengan sendirinya, seperti sesuatu yang tidak ingin dipaksakan.Naomi menyandarkan punggungnya ke kursi, menatap meja sebentar. Leon mengambil gelasnya, menghabiskan sisa minuman. Mareeq tanpa banyak kata, ia mengangkat tangannya memanggil pelayan.Begitu pelayan datang, Mareeq berkata pelan."Bisa minta tagihannya?" pinta Mareeq."Baik. Mohon tunggu sebentar."Pelayan pun pergi dari meja mereka. Tak berapa lama pelayan kembali membawakan sebuah kotak kayu tertutup berisi rincian tagihan. Dia meletakkannya di atas meja dan hendak meninggalkan mereka. Seolah tidak ingin bertele-tele, Mareeq langsung mengeluarkan kartunya dan meletakkan di atas tagihan.Naomi mengangkat wajahnya sedikit. "Kami yang akan bayar... ”Mareeq menatap ke arah Naomi dan tersenyum, lalu menatap ke arah pelayan. Dia mengisyratakan untuk segera

  • Bilur Bulir Bertaut   Di Bawah Langit yang Sama

    Senin pagi itu seperti badai bagi Naomi. Sejak ia menginjakkan kaki di kantor, ia seolah-olah ditelan oleh deretan angka dan analisis pasar dalam berkas proyek Gigantic. Ia membenamkan dirinya begitu dalam ke dalam pekerjaan, menggunakan tumpukan dokumen itu sebagai tameng agar tidak perlu berint

  • Bilur Bulir Bertaut   Simpul yang Menjerat

    Naomi duduk mematung di sofa apartemen, menatap layar televisi yang hitam. Ruangan itu hanya diterangi temaram lampu sudut, menciptakan suasana sunyi yang mencekam. Niat awalnya adalah menghabiskan waktu lebih lama dengan Vino, namun bayangan Leon dan Maya di mall tadi terus mengejarnya hingga ia

  • Bilur Bulir Bertaut   Satu Sabtu, Dua Luka

    Sabtu sore di sebuah pusat perbelanjaan yang ramai menjadi waktu "keramat" bagi Naomi. Meskipun usianya sudah dewasa dan ia sudah memiliki Leon. Ada satu sisi dalam dirinya yang tetap menjadi adik kecil yang posesif.Bagi Naomi, Alina tetaplah sosok "penyusup" yang telah merebut perhatian

  • Bilur Bulir Bertaut   Ambisi dalam Genggaman

    Naomi bisa merasakan panas yang samar dari tubuh Rahaal karena jarak mereka yang kini terkikis. Pria ini tidak sedang bernegosiasi. Dia sedang memberikan ultimatum yang dibungkus dengan pengorbanan yang tidak masuk akal."Jika keberadaan Mareeq adalah satu-satunya cara agar kamu merasa nya

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status