로그인Sabtu sore di sebuah pusat perbelanjaan yang ramai menjadi waktu "keramat" bagi Naomi. Meskipun usianya sudah dewasa dan ia sudah memiliki Leon. Ada satu sisi dalam dirinya yang tetap menjadi adik kecil yang posesif.
Bagi Naomi, Alina tetaplah sosok "penyusup" yang telah merebut perhatian penuh Vino darinya. Itulah sebabnya, setiap Sabtu, Naomi akan sengaja "mencuri" waktu kencan mereka. Ia akan merengek atau sekadar muncul di antara mereka, memastikan bahwa Vino masih mengutamakannya.
Pagi itu kantor masih belum ramai ketika Naomi tiba sambil membawa tas kerja dan map berisi dokumen supplier. Lampu di beberapa ruangan sudah dinyalakan, udara gedung masih dingin dan tenang.Ia mengira dirinya datang paling awal, sampai melihat sosok Mareeq berdiri di pantry. Dia terlihat sedang memegang secangkir kopi hitam. Pria itu menoleh saat mendengar langkahnya.“Kamu datang lebih pagi,” ucap Mareeq singkat.Naomi melirik jam tangan. “Kamu datang dua puluh menit lebih cepat.”"Butuh kopi lebih dulu."Naomi mengangguk mengerti alasannya. Dia pun melangkah ke mejanya. Ia meletakkan tas di meja, lalu duduk sambil membuka kembali catatan perjalanan mereka hari ini. Dia harus mengecek ulang agar tidak ada yang tertinggal.Perusahaan mengirim mereka ke luar kota untuk meninjau pemasok bahan baku baru. Perkebunan leci dan persik calon mitra utama untuk rpoduk baru nanti. Biasanya tugas seperti ini dipegang Claudia. N
Setelah rapat selesai, Naomi dan Mareeq berjalan keluar dari ruang meeting menuju lorong kantor. Naomi masih membawa map di dadanya. Langkahnya ringan, meski ia berusaha terlihat biasa saja.Saat melewati lorong, Mareeq justru berhenti di depan vending machine. Naomi ikut berhenti. Mareeq memasukkan uang ke mesin. Mareeq menekan tombol minuman.Mesin berdengung pelan, lalu satu kaleng jatuh ke rak bawah. Matcha. Naomi menatapnya beberapa detik.Mareeq mengambil kaleng itu dan menyerahkan ke Naomi."Ah!" ujar Mareeq yang membuat Naomi terheran. "Kebiasaanku membeli americano dan matcha." lebih terdengar seperti Mareeq sedang menggoda.Naomi menerima kaleng dingin itu dengan senyuman malu. Seolah Mareeq tahu apa yang pernah terjadi padanya.Saat itu dua staf dari divisi lain lewat dan melihat mereka berdiri berdua di depan vending machine. Mareeq tenang saja. Naomi langsung menurunkan senyum dan kembali datar.“Kita kembali kerja.
Hari Senin datang dengan ritme kantor yang kembali sibuk. Suara printer, langkah cepat di koridor, dan dering notifikasi email sudah memenuhi pagi bahkan sebelum Naomi selesai meletakkan tas di mejanya.Ia menyalakan komputer sambil menyapu ruangan dengan pandangan sekilas. Lalu matanya berhenti pada satu meja. Meja Claudia kosong.Tidak ada tas bermerek yang biasa diletakkan di sudut. Tidak ada botol minum beningnya. Tidak ada suara hak sepatu yang biasanya terdengar lebih dulu daripada orangnya. Naomi mengernyit kecil. Aneh.Ia lalu menoleh ke meja sebelah tempat Flora sedang merapikan beberapa dokumen. “Flora.”Flora langsung mendongak. “Hmm.”Naomi menunjuk samar ke arah meja kosong itu. “Claudia tidak masuk?”Flora melirik ke arah meja Claudia, lalu mendekat sedikit seperti hendak bergosip meski tak ada orang lain yang benar-benar memperhatikan.“Cuti hari ini.”“Kenapa?&
Mobil Mareeq akhirnya kembali memasuki area apartemen. Naomi merasa napasnya sudah jauh lebih stabil. Tidak tenang sepenuhnya, tapi cukup untuk menghadapi apa pun yang menunggu di atas.“Naiklah,” kata Mareeq saat mobil berhenti.Naomi membuka sabuk pengaman. “Terima kasih.”Mareeq menoleh singkat. “Kalau kamu butuh kabur lagi, turun saja ke parkiran.”Naomi tersenyum tipis. “Aku tidak akan kabur.”"Naomi.."Tatapan mereka masih bertautan."Kamu tahu aku akan selalu ada untukmu."Naomi hanya membalas dengan senyuman, lalu menutup pintu.Apartemen gelap sebagian ketika ia masuk. Hanya lampu dapur yang menyala. Leon berdiri di dekat dapur, menuang air minum ke gelas. Ia menoleh saat mendengar pintu terbuka.“Kamu ke mana?” tanyanya santai. “Aku pikir kamu sudah tidur.”Naomi melepas sepatu perlahan, lalu meletakkan tas plastik berisi mie
“Pertanyaan yang sama.” ujar Mareeq bercanda.“Aku tinggal di sini.” jawab Naomi.“Aku tahu.” Mareeq mengatakan dengan nada datar.“Lalu kamu?”Mareeq mengangkat bahu kecil. “Kebetulan lewat.”Naomi menatapnya datar. “Tidak ada orang yang parkir di apartemen orang lain hanya karena kebetulan lewat.”Naomi tahu ia bohong. Dan Mareeq tahu Naomi tahu. Keheningan menggantung beberapa saat di parkiran yang sepi.Mareeq tidak ingin menjawab. Dia tersenyum, lalu Mareeq membuka kunci pintu penumpang dari dalam. Klik."Masuklah." pintanya.Naomi menatap Mareeq beberapa detik sebelum akhirnya membuka pintu penumpang dan masuk ke dalam mobil. Kantong plastik ia letakkan di pangkuan dengan gerakan sedikit kesal.Pintu tertutup. Suasana di dalam mobil langsung berbeda dari parkiran yang dingin dan sunyi. Kabin itu hangat, samar beraroma parfum Mareeq dan k
Hari Sabtu datang dengan suasana yang lebih pelan. Naomi masih mengenakan pakaian rumah ketika Leon bersiap keluar dari apartemen. Pria itu berdiri di depan cermin sambil merapikan rambut dan menyemprotkan parfum secukupnya.“Kamu mau keluar?” tanya Naomi dari sofa sambil membalik halaman majalah yang sebenarnya tidak ia baca.Leon menoleh. “Iya. Ada janji dengan teman kantor satu tim.”Naomi mengangguk singkat. “Maya?”Leon tertawa kecil. “Interogasi?”“Pertanyaan biasa.”“Ada. Bersama anak-anak lain dari timku.”Naomi menatapnya sebentar, lalu kembali ke majalah. “Oh.”Leon mengambil dompet dan kunci mobil. “Aku mungkin pulang agak malam.”“Hmm.”Ia berjalan mendekat, menunduk sedikit untuk mencium puncak kepala Naomi sebelum pergi.“Jangan lupa makan siang.”Naomi hanya bergumam.
Pagi berikutnya, udara masih dingin setelah hujan semalam. Naomi berjalan menyusuri trotoar dengan tas kerja di bahunya. Ia tidak berniat datang ke kantor terlalu cepat hari ini. Ada satu tempat yang ingin ia datangi lebih dulu. Sebuah kafe kecil di sudut jalan yang sering ia lewati.Di de
Tiba-tiba Mareeq menyalakan lampu sein dan membelokkan mobil ke sebuah pom bensin yang masih terang di tengah malam.Naomi menoleh sedikit. “Kamu ingin beli bensin?”Mareeq menggeleng. “Kamu ingin cuci muka agar lebih segar?” Mareeq menawari.Naomi mel
Sore mulai turun perlahan di taman hiburan. Matahari tidak lagi seterang siang tadi, dan cahaya hangatnya membuat seluruh tempat itu terlihat lebih lembut. Lampu-lampu kecil yang tergantung di sepanjang jalan setapak satu per satu mulai menyala.Freya masih menggandeng tangan Mareeq, tanga
Perahu angsa akhirnya kembali ke dermaga setelah hampir dua puluh menit berkeliling danau. Freya turun lebih dulu dengan langkah ringan, masih memegang tangan Mareeq.“Aku lapar,” katanya tiba-tiba.Raya tertawa kecil. “Tadi katanya masih kuat.”Freya







