LOGINNaomi bisa merasakan panas yang samar dari tubuh Rahaal karena jarak mereka yang kini terkikis. Pria ini tidak sedang bernegosiasi. Dia sedang memberikan ultimatum yang dibungkus dengan pengorbanan yang tidak masuk akal.
"Jika keberadaan Mareeq adalah satu-satunya cara agar kamu merasa nyaman untuk terlibat dalam tim ini, maka aku akan melakukannya. Aku tidak peduli siapa yang mendapatkan kredit di depan direksi, selama proyek ini berjalan."
Naomi menatap pria di depannya dengan
Menjelang sore, Naomi masih berada di mall. Ia duduk sendirian di kafe sambil menikmati minuman. Ponselnya berbunyi. Pesan dari Mareeq.Mareeq: Kamu sudah makanan?Naomi membaca pesan itu. Ia berpikir sebentar sebelum membalas. Aaakah dia harus mengundangMareeq atau dia harus menikmati waktu sendiri.Naomi: Aku sedang di mall. Mau datang?Beberapa detik kemudian, balasan masuk.Mareeq: Aku datang. Tunggu aku.Naomi tersenyum kecil. Jawaban yang sudah diperkirakan Naomi.Naomi: Oke. Di kafe seperti biasanya.Naomi meletakkan ponselnya. Ia tidak tahu kenapa dirinya merasa sedikit lega. Mungkin karena bersama Mareeq dia merasa lebih nyaman. Sekaligus dia ingin menunjukkan rambut barunya.Sekitar beberapa puluh menit kemudian, seseorang berhenti di depan meja Naomi.“Naomi?”Naomi mendongak. Mareeq berdiri di sana. Namun pria itu tidak langsung duduk. Tatapannya tertuju pada rambut Naomi. Ia
Naomi tertawa kecil. "Maka dari itu Nona ingin coba."Vino memandang adiknya beberapa saat. Ia tahu ini bukan sekadar soal rambut. Naomi sedang berusaha mengubah sesuatu. Mungkin karena ada terlalu banyak hal yang ingin ia tinggalkan.“Kamu yakin?” Vino memastikan lagi.“Sangat.” jawab Naomi tidak goyah.Vino menghela napas panjang. "Jangan nangis kalau menyesal."Mendapat lampu hijau, Naomi segera menyeret kakaknya masuk ke salon. Naomi bergegas duduk di depan cermin yang kosong. Penata rambut datang dan bertanya keinginannya."Long bob." ujar Naomi to the point.Penata rambut itu pun mengangguk. Dia segera menyentuh rambut Naomi. Rambut panjangnya tergerai hingga melewati bahu. Penata rambut mulai membaginya menjadi beberapa bagian.Vino berdiri di belakang sambil memperhatikan dengan ekspresi pasrah.“Kakak masih punya kesempatan untuk melarang?” tanya Vino.Naomi tersenyum m
Naomi yang merasa suntuk memutuskan untuk pergi ke sebuah mall. Awalnya ia hanya berniat berjalan-jalan. Namun ketika melewati sebuah butik, langkahnya berhenti. Naomi masuk. Beberapa menit kemudian, ia keluar dengan satu tas belanja.Lalu ia melewati toko lain. Sepasang sepatu terlihat menarik di matanya. Dia masuk ke sana, lalu keluar dengan tas kedua. Kembali sebuah pakaian menarik perhatiannya, dia masuk dan keluar dengan tas tangan lain. Melewati toko perhiasan, dia membeli sebuah anting. Tas pun bertambah.Naomi tahu apa yang sedang dilakukannya. Ia sedang mencoba menghibur dirinya sendiri. Dan untuk beberapa jam, ia ingin membiarkan dirinya melakukan itu tanpa merasa bersalah.Ponsel Naomi kemudian berdering. Nama Vino muncul di layar. Naomi mengangkatnya.“Halo, Kak?”“Kamu di mana?” tanya Vino.“Mall.” jawab naomi singkat.“Sendirian?” tanyanya lagi.Naomi terdiam sebenta
Sebenarnya beberapa kali layar ponselnya menyala. Ada panggilan. Ada pesan. Namun Naomi tidak sanggup mengangkatnya.Leon. Nama itu selalu muncul di layar ponselnya. Nama itu kini cukup membuat dadanya terasa sesak.Naomi menundukkan kepala. Ia mencoba mengingat bagaimana semuanya bermula hari ini. Pagi tadi ia masih bekerja seperti biasa. Ia masih bisa bercanda.Bahkan ketika bertemu Pak Rino, Naomi begitu yakin bahwa ia sedang melakukan sesuatu yang baik untuk Leon. Ia meyakinkan klien yang sulit itu bahwa Leon mampu mengerjakan proyek tersebut. Ia bahkan mengatakan bahwa Leon tidak akan mengecewakannya.Naomi menutup wajah dengan kedua tangannya. Ironis. Sangat ironis. Beberapa jam kemudian, justru Leon yang mengecewakannya. Dan bukan dalam bentuk kesalahan pekerjaan. Bukan karena sebuah janji yang terlambat ditepati. Melainkan sesuatu yang jauh lebih sulit diterima.Naomi masih bisa melihatnya. Setiap kali memejamkan mata, pemandangan itu kemba
“Pergilah.” Kali ini suara Mareeq lebih tegas.Beberapa detik mereka saling menatap. Akhirnya Leon menghela napas dan berbalik. Sebelum keluar, ia sempat melihat sekali lagi ke arah meja Naomi. Kosong. Tidak ada Naomi. Tidak ada penjelasan. Leon meninggalkan ruangan. Pintu tertutup. Ruangan kembali sunyi.Flora menatap Mareeq. “Jadi... sebenarnya apa yang terjadi?” tanyanya berharap Mareeq memberi tahu apa yang dia ketahui.“Tidak ada.” Mareeq kembali ke ruangannya.Flora menatap punggung Mareeq yang menghilang ke balik pintu. Lalu, pintu yang baru saja dilewati Leon. Kemudian ia melihat meja Naomi. Ada sesuatu yang tidak masuk akal. Apa yang sebenarnya terjadi di antara mereka.Kalau Naomi benar-benar hanya pulang karena tidak enak badan, pulang ke mana dia? Mengapa Leon terlihat seperti orang yang kehilangan arah? Dan mengapa Mareeq terlihat seperti seseorang yang sedang menyembunyikan sesuatu? Tidak seorang pu
“Kamu bisa menginap di rumahku.” Mareeq menawarkan.Naomi langsung menoleh. “Tidak.”“Naomi.”“Aku tidak mau merepotkanmu.” ujar Naomi kemudian.“Kamu tidak merepotkan.”Naomi menggeleng lagi. Naomi terlihat sangat kacau. Mareeq tidak memaksanya. Naomi terdiam cukup lama.“Ke apartemen kakakku saja.” ujar Naomi kemudian.Rupanya diam Naomi sedang berpikir. Untung saja dia memutuskan akan tinggal di mana. Jika tidak ada pilihan, Mareeq sebenarnya ingin menyarankan ke hotel untuk sementara.Mareeq mengangguk. “Oke.”Tidak ada pertanyaan lebih lanjut. Sepanjang perjalanan, Naomi lebih banyak diam. Ia menyandarkan kepala ke jendela sambil memandangi jalan yang perlahan berubah menjadi ramai.Ponselnya beberapa kali bergetar. Rentetan pesan dan telepon dari Leon. Pesan dari beberapa orang kantor. Namun Naomi tidak membuka satu pun.
Usai dari kafe. Naomi berpisah dengan kedua rekannya karena ingin ke toilet terdekat. Begitu melewati lorong, Naomi melihat vending mechine berisi produk minuman dari perusahaan. Dia melihat ada beberapa varian baru. Naomi mengamati dengan serius beberapa varian baru itu."Aku suka matcha, tapi baru
"Siapa ayah anak itu?"Naomi tidak menatap pria di hadapannya. Dia membuang muka ke arah lain dan menggigit bibirnya sendiri menahan mengatakan sepatah kata pun. Dia tidak tahu harus menjawab apa. Dia sangat bingung. Ini di luar kendalinya."Tolong jawab jujur." Pintanya dengan lembut."Ini anakmu.
Sudah 30menit tidak ada satu pun yang menyampaikan ide. Sepertinya mereka tidak bisa memikirkan apapun. Bahkan beberapa dari mereka terdengar menggerutu.Naomi mengangkat tangannya. Seluruh orang yang ada di ruangan memandangnya. Termasuk Mareeq, dia menatap Naomi lekat-lekat."Baga
Naomi menghampiri teman-temannya, meninggalkan Mareeq sendirian di tempatnya. Ah! Dia lupa untuk berpamitan. Dia pun berbalik.Oh! Dia melihat ke arah Naomi. Naomi menunjukkan senyumnya, lalu menganggukkan kepala pelan dan bermakna. Sebuah ucapan tak langsung "Aku pergi dulu". Lalu segera berlalu.







