로그인Suasana di ruang tamu apartemen terasa jauh lebih dingin daripada biasanya. Naomi duduk di pinggiran sofa, meremas jemarinya yang dingin. Sementara Leon berdiri di dekat jendela, membelakangi Naomi. Ia baru saja menceritakan kejadian di parkiran itu, meski dengan nada yang sangat hati-hati.
Leon berbalik, wajahnya yang biasa tenang kini tampak mendung. Ada garis ketegangan di dahinya yang tidak bisa ia sembunyikan.
"Kenapa harus di mobil?" potong Leon cepat. Ia berjalan mendekat
Mareeq melirik meja di hadapan mereka, tempat sisa makanan pasar malam dan kotak puzzle masih tergeletak. Memperlihatkan sisa-sisa kebersamaan mereka malam ini. Tidak. Seharian ini karena di tempat kerja mereka juga bersama.“Aku membayangkan rumah itu ketika aku memikirkanmu.” ujarnya.Mareeq menatap Naomi lurus-lurus.“Aku sudah menghabiskan cukup banyak waktu menjalani hidup dengan keputusan yang tidak sepenuhnya kuinginkan. Sekarang, ketika aku tahu apa yang kuinginkan, aku tidak ingin terus menundanya.” Ia berhenti sebentar.Mareeq mengusap punggung tangan Naomi dengan ibu jari.“Aku tahu kita tidak bisa menyelesaikan semuanya dalam satu malam. Aku juga tahu masih ada banyak hal yang harus kuurus sebelum aku bisa mengajakmu memikirkan rumah itu dengan serius.”Naomi menunduk. Ada bagian dari dirinya yang ingin mempercayai semua itu begitu saja. Ingin membiarkan dirinya membayangkan rumah yang suatu ha
“Di samping jalan setapak itu, aku ingin lavender dan rosemary. Mungkin beberapa bunga kecil lainnya. Tanaman yang membuat halaman terlihat hidup.” papar Mareeq sambil membayangkan."Kamu suka bunga?" tanya Naomi."Bunga karena kamu yang akan tinggal di sana. Aku suka alam."Naomi mengangguk. Rupanya Mareeq memikirkan dirinya. "Baiklah. Lanjutkan."“Pintu utama juga terbuat dari kayu, tapi warnanya sedikit lebih terang daripada gerbang. Di dekatnya ada jendela dengan bingkai kayu. Mungkin bentuknya melengkung di bagian atas, mengikuti gaya rumahnya.”“Dan ada teras?”“Ada. Aku ingin teras di bagian depan, cukup luas untuk dua kursi dan sebuah meja kecil.”"Kita pernah membahas kursi kita ketika sedang mencari hadiah pernikahan salah satu anggota tim." ujar Naomi mengingatkan."Ya. Aku akan membeli yang itu." jawab Mareq berencana menepati janji.“Kita juga butuh lampu
Mareeq membiarkannya. Jika Mareeq memaksa Naomi memperlihatkan wajahnya mungkin dia akan menangis. Mareeq pun menyenderkan punggungnya dan menatap televisi di depannya.Beberapa saat kemudian, pria itu kembali berbicara."Aku suka bagaimana kamu cemburu."Naomi tersentak dan dan menyingkirkan bantal itu dari kepalanya. Naomi duduk dan menatap Mareeq tajam. Ia memukul pelan lengan pria itu dengan bantal.“Mareeq!”Mareeq menangkap bantal itu di pukulan yang kedua. Naomi gagal untuk memberikan pukulan yang ketiga. Mareeq meletakkan bantal itu di samping, lalu menatap Naomi dengan ekspresi datar yang justru membuat gadis itu semakin salah tingkah.“Aku tidak cemburu,” gumam Naomi, kali ini jauh lebih pelan.Mareeq mengangguk seolah menerima jawabannya. “Baik.”Pria itu kembali menghadap televisi. Naomi menatapnya selama beberapa detik, tidak yakin apakah harus merasa lega atau kesal karena pria
Naomi seharusnya sudah tahu. Namun, entah mengapa, mendengar jawaban itu secara langsung membuat dadanya terasa sedikit sesak. Bodoh sekali. Ia sendiri yang bertanya. Lalu sekarang ia justru tidak menyukai jawabannya."Ini seperti aku datang terlambat ke dalam hidupmu." gumam Naomi.Naomi buru-buru meraih minumannya. Tenggorokannya terasa kering, padahal ia baru saja minum beberapa menit lalu.Mareeq memperhatikannya dari sudut mata. Perubahan itu kecil. Naomi tidak mengeluh, tidak memasang wajah kesal, bahkan masih berusaha terlihat biasa saja. Namun, Mareeq sudah cukup mengenalnya untuk menyadari bahwa gadis itu mendadak menjadi lebih pendiam.Saat hendak mengambil minumannya, tangan Naomi tanpa sengaja menyentuh saus takoyaki yang menempel di wadah. Sedikit saus berwarna kecokelatan berpindah ke pergelangan tangannya.“Ah.” seru Naomi.Ia mengangkat tangannya, memperhatikan noda itu, lalu hendak meraih tisu yang terletak di de
Jawaban itu membuat Naomi tidak bisa berkata apa-apa."Aku tidak pernah meminta kamu memilih antara aku dan Freya." Naomi menunduk."Aku juga tidak ingin kamu merasa harus menggantikan siapa pun.""Mareeq...""Aku hanya ingin kamu ada di hidupku."Hening. Naomi menunduk menatap kedua tangannya sendiri."Aku takut. Semua akan ada karmanya.""Aku tahu. Aku yang memilih semua ini."Naomi menghela napas. "Kamu benar-benar akan dikutuk."Mareeq terdiam beberapa saat. "Hmm.." gumamnya.Naomi menyandarkan kepalanya ke sandaran kursi seolah ingin menaruh semua beban berat. Dia ingin keberanian yang sama, tapi dia juga takut. Dia tidak seberani Mareeq."Bagaimana rumahnya?" tanya Naomi kemudian."Aku sudah merancangnya sejak lama."Mareeq terdiam beberapa saat.Naomi menatapnya. "Sejak kapan?"Mareeq akhirnya menoleh sebentar. "Sudah lama. Aku hanya terlalu lama tidak mengatakannya."
"Kalau mau makan dengan lebih nyaman." imbuh Mareeq menyandarkan punggungnya ke kursi. "Si mbak di rumah bisa membuatkan sesuatu. Kamu tidak perlu makan di mobil."Naomi terdiam. Rumah. Kata itu saja sudah cukup membuat pikirannya berjalan ke mana-mana. Rumah Mareeq. Tempat Mareeq pulang selama ini. Tempat Raya dan Freya. Tempat yang mungkin menyimpan terlalu banyak kehidupan Mareeq sebelum Naomi hadir di dalam hidupnya.Naomi perlahan menggeleng. "Nggak usah."Mareeq menatapnya. "Kenapa? Aku tidak akan macam-maam padamu."Naomi tersenyum dengan candaan Mareeq. Tapi senyumnya langsung menghilang. Dia menghela napas seolah ada sesuatu yang berat di dalam hatinya."Aku cuma..." Dia berhenti.Mareeq menunggu.Naomi akhirnya menarik napas. "Aku akan merasa bersalah."Naomi tidak langsung melanjutkan. Dia menatap dashboard beberapa saat sebelum akhirnya berkata pelan,"Karena itu rumah kalian."Mareeq masih diam.
Sudah 30menit tidak ada satu pun yang menyampaikan ide. Sepertinya mereka tidak bisa memikirkan apapun. Bahkan beberapa dari mereka terdengar menggerutu.Naomi mengangkat tangannya. Seluruh orang yang ada di ruangan memandangnya. Termasuk Mareeq, dia menatap Naomi lekat-lekat."Baga
Naomi menghampiri teman-temannya, meninggalkan Mareeq sendirian di tempatnya. Ah! Dia lupa untuk berpamitan. Dia pun berbalik.Oh! Dia melihat ke arah Naomi. Naomi menunjukkan senyumnya, lalu menganggukkan kepala pelan dan bermakna. Sebuah ucapan tak langsung "Aku pergi dulu". Lalu segera berlalu.
Naomi pergi ke acara konferensi sesuai dengan undangan yang dia terima. Sebenarnya dia malas ketika weekend harus menghadari acara kantor. Tapi, karena di rumah tidak ada siapapun, jadi dia memilih pergi.Naomi masuk ke ruangan dan menyapu pandangan ke dalam ruangan. Dia ingin tahu apakah ada orang
Usai dari kafe. Naomi berpisah dengan kedua rekannya karena ingin ke toilet terdekat. Begitu melewati lorong, Naomi melihat vending mechine berisi produk minuman dari perusahaan. Dia melihat ada beberapa varian baru. Naomi mengamati dengan serius beberapa varian baru itu."Aku suka matcha, tapi baru







