Home / Young Adult / Bilur Bulir Bertaut / Percakapan di Lantai 15

Share

Percakapan di Lantai 15

Author: NaoMiura
last update publish date: 2026-02-09 20:00:34

Suasana di ruang tamu apartemen terasa jauh lebih dingin daripada biasanya. Naomi duduk di pinggiran sofa, meremas jemarinya yang dingin. Sementara Leon berdiri di dekat jendela, membelakangi Naomi. Ia baru saja menceritakan kejadian di parkiran itu, meski dengan nada yang sangat hati-hati.

Leon berbalik, wajahnya yang biasa tenang kini tampak mendung. Ada garis ketegangan di dahinya yang tidak bisa ia sembunyikan.

"Kenapa harus di mobil?" potong Leon cepat. Ia berjalan mendekat

Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Bilur Bulir Bertaut   Menghindar

    “Kamu bisa menginap di rumahku.” Mareeq menawarkan.Naomi langsung menoleh. “Tidak.”“Naomi.”“Aku tidak mau merepotkanmu.” ujar Naomi kemudian.“Kamu tidak merepotkan.”Naomi menggeleng lagi. Naomi terlihat sangat kacau. Mareeq tidak memaksanya. Naomi terdiam cukup lama.“Ke apartemen kakakku saja.” ujar Naomi kemudian.Rupanya diam Naomi sedang berpikir. Untung saja dia memutuskan akan tinggal di mana. Jika tidak ada pilihan, Mareeq sebenarnya ingin menyarankan ke hotel untuk sementara.Mareeq mengangguk. “Oke.”Tidak ada pertanyaan lebih lanjut. Sepanjang perjalanan, Naomi lebih banyak diam. Ia menyandarkan kepala ke jendela sambil memandangi jalan yang perlahan berubah menjadi ramai.Ponselnya beberapa kali bergetar. Rentetan pesan dan telepon dari Leon. Pesan dari beberapa orang kantor. Namun Naomi tidak membuka satu pun.

  • Bilur Bulir Bertaut   Emotional Apnea

    Naomi tidak berhenti. Beberapa detik kemudian, ia menyadari sesuatu yang jauh lebih menakutkan daripada kemarahan. Naomi bahkan tidak menangis, bahkan tidak marah.Mareeq masih menunggu di tempat parkir. Ia sempat melihat jam di dashboard. Tidak sampai lama. Masih sepuluh menit menunggu, tapi baginya terasa lama.Naomi muncul dari lobi, Mareeq langsung menyadari ada sesuatu yang salah. Dia berjalan cepat. Terlalu cepat. Wajahnya pucat. Langkahnya sedikit tidak stabil.Naomi langsung membuka pintu penumpang dan masuk. Dia tidak mengatakan apa pun. Bahkan ekspresinya berbeda, tidak seperti sebelum dia masuk ke apartemen. Mareeq menatapnya dengan khawatir.“Naomi, ada apa?” tanya Mareeq yang khawatir.Naomi masih diam. Napasnya pendek. Ia menatap lurus ke depan, tetapi tatapannya seperti tidak benar-benar melihat apa pun. Mareeq mengulurkan tangannya menyentuh bahunya.“Naomi.”Baru saat itu Naomi menoleh. Matanya

  • Bilur Bulir Bertaut   Kejutan

    “Dan bilang pada dia, saya berharap dia tidak mengecewakan saya.”Naomi tersenyum. “Saya yakin dia tidak akan mengecewakan Bapak.”Pak Rino kemudian pamit karena harus menemui seseorang di tempat lain. Naomi menundukkan kepala sedikit.“Terima kasih banyak, Pak Rino.”“Ya. Saya tunggu kabarnya dari Leon.”Setelah Pak Rino pergi, Naomi berdiri beberapa detik sambil melihat ke arahnya. Mareeq akhirnya berjalan mendekat.“Kamu baru saja menyelamatkan proyek Leon.”Naomi menoleh. “Aku hanya menyampaikan apa yang aku tahu.”Mareeq tersenyum tipis. “Kamu sangat yakin padanya.”Naomi terdiam sebentar."Aku juga ingin melihat Leon berhasil."Mareeq memperhatikan wajah Naomi. Ada rasa aneh dalam diri Mareeq melihat Naomi berusaha untuk orang lain. Padahal sudah sewajarnya memang Naomi membantu Leon, pacarnya.Setelah makan sia

  • Bilur Bulir Bertaut   Bantu

    Keesokan harinya, suasana kantor kembali dipenuhi kesibukan. Sejak pagi, Naomi sudah duduk di depan komputernya. Beberapa dokumen terbuka di layar, sementara tangannya sibuk mencatat poin-poin penting dari laporan yang harus diselesaikannya hari itu. Sesekali ia memeriksa email masuk, kemudian kembali fokus pada pekerjaannya.Pagi itu berjalan cukup tenang sampai sebuah pesan dari Leon masuk ke ponselnya.Leon: Hari ini aku mungkin kerja dari apartemen dulu. Ada beberapa hal yang harus diselesaikan bareng Maya.Naomi membaca pesan itu sebentar.Naomi: Oke. Jangan lupa makan.Tidak sampai satu menit, balasan masuk.Leon: Oke, Sayang. Kamu juga jangan terlalu capek.Naomi tersenyum kecil melihat jawabannya. Ia kemudian kembali bekerja.Menjelang siang setelah meeting di luar, Naomi keluar bersama Mareeq untuk makan. Mereka berjalan menuju restoran yang tidak terlalu jauh dari kantor. Mareeq membawa ponselnya sambil sesekali membi

  • Bilur Bulir Bertaut   Dokumen dan Nasi Goreng

    "Sudah." Naomi menggenggam tangan Leon. "Kamu mandi dulu." pintanya.Leon menatapnya. "Aku harus selesaikan ini. Besok harus bertemu klien lagi.""Kamu sudah terlalu lama duduk di sini." Naomi mengambil beberapa lembar dokumen dari hadapannya. "Aku akan bantu."Leon tampak ragu. Naomi tersenyum kecil, meyakinkan kekasihnya bahwa semuanya tidak harus diselesaikan malam ini. Dia tahu Leon sedang bersemangat, tapi tubuhnya butuh istirahat."Pergi mandi. Setelah itu kita lanjutkan." bujuk Naomi.Leon menatap Naomi beberapa detik. Akhirnya ia menyerah. Leon berdiri. Kemudian dia masuk ke kamar mandi.Begitu suara air terdengar, Naomi mulai memperhatikan dokumen-dokumen yang berserakan. Ia membaca satu per satu. Tidak butuh waktu lama sampai Naomi menyadari masalahnya.Bukan pekerjaannya yang terlalu sulit. Dokumen-dokumen itu hanya bercampur. Ada data klien, permintaan revisi, catatan internal, serta dokumen yang sebenarnya sudah sel

  • Bilur Bulir Bertaut   Semangat Leon

    Keesokan harinya, Naomi kembali menjalani rutinitas seperti biasa. Pagi itu, dia baru saja keluar dari ruang meeting ketika melihat dua sosok yang sudah tidak asing lagi. Leon dan Maya.Keduanya berdiri di dekat area lounge kantor sambil melihat beberapa dokumen. beberapa map terbuka di hadapan mereka, sementara beberapa lembar kertas penuh catatan tersebar di atas meja. Dari ekspresi mereka, keduanya terlihat sangat sibuk. Naomi yang awalnya hendak menghampiri akhirnya mengurungkan niat. Ia tidak ingin mengganggu.Naomi baru saja berbalik ketika Leon mengangkat wajah dan melihatnya. Tatapan mereka bertemu. Leon langsung tersenyum."Sayang." panggil Leon dengan lantang.Naomi tersenyum balik. "Hai."Leon menutup mapnya sebentar dan berjalan menghampiri Naomi. Begitu sampai di hadapannya, Leon seperti biasa mencium kening Naomi dengan lembut."Kamu terlihat sibuk." ujar Naomi.Leon mengangguk. "Kami lagi buru-buru. Kliennya mau k

  • Bilur Bulir Bertaut   Samar

    Sudah 30menit tidak ada satu pun yang menyampaikan ide. Sepertinya mereka tidak bisa memikirkan apapun. Bahkan beberapa dari mereka terdengar menggerutu.Naomi mengangkat tangannya. Seluruh orang yang ada di ruangan memandangnya. Termasuk Mareeq, dia menatap Naomi lekat-lekat."Baga

  • Bilur Bulir Bertaut   Semakin Dekat

    Naomi menghampiri teman-temannya, meninggalkan Mareeq sendirian di tempatnya. Ah! Dia lupa untuk berpamitan. Dia pun berbalik.Oh! Dia melihat ke arah Naomi. Naomi menunjukkan senyumnya, lalu menganggukkan kepala pelan dan bermakna. Sebuah ucapan tak langsung "Aku pergi dulu". Lalu segera berlalu.

  • Bilur Bulir Bertaut   Mendekat

    Naomi pergi ke acara konferensi sesuai dengan undangan yang dia terima. Sebenarnya dia malas ketika weekend harus menghadari acara kantor. Tapi, karena di rumah tidak ada siapapun, jadi dia memilih pergi.Naomi masuk ke ruangan dan menyapu pandangan ke dalam ruangan. Dia ingin tahu apakah ada orang

  • Bilur Bulir Bertaut   Tantangan Pertama

    "Siapa ayah anak itu?"Naomi tidak menatap pria di hadapannya. Dia membuang muka ke arah lain dan menggigit bibirnya sendiri menahan mengatakan sepatah kata pun. Dia tidak tahu harus menjawab apa. Dia sangat bingung. Ini di luar kendalinya."Tolong jawab jujur." Pintanya dengan lembut."Ini anakmu.

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status