Home / Young Adult / Bilur Bulir Bertaut / Validasi di Sudut Sepi

Share

Validasi di Sudut Sepi

Author: NaoMiura
last update Petsa ng paglalathala: 2026-02-11 20:00:25

Undangan ramah itu muncul lancar dari mulut Naomi. Naomi ingin menunjukkan bahwa jika ada hal yang harus dibicarakan, itu harus dilakukan di tempat terbuka di mana siapa pun bisa melihat. Tidak perlu tempat tersembunyi seperti parkiran lagi. Mareeq mengangguk pelan, tampak sedikit terkejut dengan inisiatif Naomi yang kini jauh lebih tegas. Mereka berjalan menuju kursi tersebut dan duduk, sementara Naomi mengambil posisi di kursi sebelahnya.

Naomi duduk dengan tenang. Dia membuka kaleng

Patuloy na basahin ang aklat na ito nang libre
I-scan ang code upang i-download ang App
Locked Chapter

Pinakabagong kabanata

  • Bilur Bulir Bertaut   Percakapan di Sky Terrace

    Rahaal menatapnya beberapa detik. Lalu berkata pelan,“Kalau kamu terus bersikap seolah semuanya baik-baik saja. Orang akan terus memperlakukanmu seperti itu.”Naomi terdiam. Ia tidak menyangka itu. Bukan karena kata-katanya keras, tapi karena tidak ada yang pernah berbicara seperti itu padanya.“Aku hanya tidak ingin membuat semuanya terasa tidak adil,” jawab Naomi pelan. "Bagaimana denganku dan Mareeq?" Naomi menatap Rahaal."Apakah kalian berselingkuh?" tanya Rahaal.Naomi terdiam. Pertanyaan yang menusuk. Badannya terasa panas dan dingin bersamaan. Memikirkan perjalanan bisnis kemarin. Malam itu. Seolah Rahaal telah membaca semuanya, meskipun Naomi tahu bahwa Rahaal tidak tahu kejadian itu."Kami ada di posisi yang sama bukan?""Jika itu hanya perasaan saling menyukai atau mencintai itu bukan selingkuh." lanjut Rahaal.Naomi mengalihkan pandangannya. "Sama dengan mereka bukan? Mungkin mereka hanya be

  • Bilur Bulir Bertaut   Gosip

    Leon hanya mengangguk singkat. Naomi menatap Maya yang pergi, lalu kembali ke Leon. Beberapa detik hening.“Aku benar-benar mengganggu, kan?” tanya Naomi pelan.Leon menggeleng lagi, kali ini lebih santai. “Kamu hanya datang di waktu yang kebetulan.”Naomi tersenyum kecil. Namun kali ini, ada sesuatu yang berbeda di baliknya. Bukan hanya sindiran ringan. Tapi juga sesuatu yang lebih dalam.Leon melirik jam tangannya, lalu kembali menatap Naomi. “Aku harus ke ruang meeting, Sayang.” katanya pelan. “Nanti kita bicara lagi.”Naomi mengangguk. “Iya.”Leon sempat menahan pandangannya sebentar, seolah ingin memastikan sesuatu. Lalu tersenyum tipis sambil mengusap pucuk kepala Naomi sebelum akhirnya pergi. Langkahnya menjauh di koridor. Dan Naomi tetap berdiri di tempatnya. Sendirian.“Naomi?”Suara lain menyapanya. Naomi menoleh dan melihat Diky berjalan me

  • Bilur Bulir Bertaut   Baik-baik Saja

    Pagi dengan ritme yang biasa. Suara keyboard, langkah kaki, dan percakapan ringan mengisi ruangan. Semua terlihat normal. Terlalu normal, jika dibandingkan dengan apa yang Naomi rasakan di dalam dirinya.Ia baru saja duduk ketika melihat sosok Claudia di mejanya. Naomi sedikit terkejut. Claudia terlihat seperti biasa, rapi, profesional, bahkan tersenyum tipis saat mata mereka bertemu.“Aku senang kamu sudah kembali. Kondisimu sudah membaik?” tanya Naomi lembut.“Yah, semuanya baik-baik saja.” Claudia menutup map di tangannya. “Sayang sekali aku melewatkan perjalanan itu.”Naomi tersenyum kecil. “Lain kali kamu bisa.”Claudia membalas senyuman itu. Rapi dan terukur. “Tapi tidak apa,” lanjutnya. “Sesekali kamu bisa merasakan perjalanan bisnis yang menyenangkan.”Naomi menoleh sedikit. Kalimat itu terdengar seperti ada sesuatu di baliknya yang tidak sepenuhnya hangat. Naomi

  • Bilur Bulir Bertaut   Garis Tegas

    Malam itu berlalu tanpa benar-benar mereka sadari kapan semuanya berhenti. Yang tersisa hanya keheningan. Lampu kamar sudah diredupkan. Kota di luar jendela hanya tinggal bayangan cahaya yang samar.Naomi terbangun lebih dulu. Perlahan. Seolah kesadarannya kembali satu per satu.Hal pertama yang ia rasakan adalah hangat yang masih tertinggal. Lalu kelembutan kasur yang bukan miliknya.Dan beberapa detik kemudian, kesadaran itu datang sepenuhnya. Ia membuka mata. Menutup matanya lagi berusaha mengingat sekaligus melupakan apa yang telah terjadi.Dia menoleh ke samping. Mareeq masih tertidur pulas. Napasnya terdengar halus. Wajahnya terlihat lebih tenang dari biasanya. Tidak ada garis tegang, tidak ada ekspresi yang selalu ia jaga di siang hari.Naomi menatapnya cukup lama. Ada perasaan yang sulit dijelaskan. Bukan hanya tentang apa yang telah terjadi. Tapi juga tentang dirinya sendiri.Perlahan, Naomi menarik napas dan duduk. Gerakannya hati-

  • Bilur Bulir Bertaut   Batas yang Dilewati

    Langit sudah gelap ketika mobil memasuki area hotel. Naomi mengurus check-in di resepsionis, sementara Mareeq berdiri di dekat sofa sambil memegang ponselnya. Beberapa menit kemudian Naomi menghampirinya sambil membawa dua kartu kamar.“Lantai enam,” katanya. “Kamarmu di ujung koridor. Kamarku di sebelahnya.”Mareeq menerima kartu itu.“Kita makan malam tiga puluh menit lagi, kalau kamu tidak terlalu lelah.”Mareeq mengangguk. “Aku akan turun.”Kamar Naomi sederhana tapi nyaman. Jendela besar menghadap jalan utama kota, tempat lampu kendaraan bergerak seperti garis-garis kecil di kejauhan.Ia mandi lalu mengganti pakaian dengan mini dress santai. Gaun itu memeluk tubuhnya dengan pas, membingkai siluetnya dengan anggun namun tetap terlihat sopan. Detail tali kecil membentuk korset di bagian depan memberikan sentuhan manis. Seolah-olah Naomi baru saja keluar dari sebuah cerita klasik tentang gadi

  • Bilur Bulir Bertaut   Perkebunan

    Pagi itu kantor masih belum ramai ketika Naomi tiba sambil membawa tas kerja dan map berisi dokumen supplier. Lampu di beberapa ruangan sudah dinyalakan, udara gedung masih dingin dan tenang.Ia mengira dirinya datang paling awal, sampai melihat sosok Mareeq berdiri di pantry. Dia terlihat sedang memegang secangkir kopi hitam. Pria itu menoleh saat mendengar langkahnya.“Kamu datang lebih pagi,” ucap Mareeq singkat.Naomi melirik jam tangan. “Kamu datang dua puluh menit lebih cepat.”"Butuh kopi lebih dulu."Naomi mengangguk mengerti alasannya. Dia pun melangkah ke mejanya. Ia meletakkan tas di meja, lalu duduk sambil membuka kembali catatan perjalanan mereka hari ini. Dia harus mengecek ulang agar tidak ada yang tertinggal.Perusahaan mengirim mereka ke luar kota untuk meninjau pemasok bahan baku baru. Perkebunan leci dan persik calon mitra utama untuk rpoduk baru nanti. Biasanya tugas seperti ini dipegang Claudia. N

  • Bilur Bulir Bertaut   Peringatan

    Mareeq mengubah duduknya menjadi di depan Naomi. Dia mengambil pelan kaki Naomi dan meletakkan di pahanya. Pria itu mengambil pemotong kuku dari kantung.Flora tampak terkejut. Ia menatap Naomi seolah meminta penjelasan, tetapi Naomi hanya mengangkat bahu kecil. Naomi menyadari ini hal yan

  • Bilur Bulir Bertaut   Insiden Kecil

    Mareeq meraih tiga plastik yang dia taruh di tanah tadi. Dia letakkan di sebelah Naomi. Dia mengambil air mineral dalam plastik. Tanpa menunggu persetujuan Naomi, Mareeq membuka botol air mineral dan dengan lembut mengguyurkan air ke kelingking kaki Naomi yang berdarah."Tahan sebentar," M

  • Bilur Bulir Bertaut   Dua Cup Amerikano

    Claudia berjalan menghampiri mereka berdua dan bergabung untuk makan. "Kalian sudah selesai?" Tanyanya."Iya, kami baru saja selesai. Tapi jika kamu ingin kami menunggu, kami akan tunggu." ujar Flora tanpa berpikir panjang."Naomi," panggil Claudia, suaranya sedikit meninggi agar te

  • Bilur Bulir Bertaut   Gathering

    Pagi itu, suasana di kantor sudah riuh. Para karyawan yang ikut gathering sudah berkumpul di lobi. Naomi dan Flora bergabung dengan sekelompok rekan kerja yang tampak bersemangat. Ada kelompok dari tim lain juga. Beberapa bus sudah menunggu untuk membawa para karyawan."Mareeq dan Claudia

Higit pang Kabanata
Galugarin at basahin ang magagandang nobela
Libreng basahin ang magagandang nobela sa GoodNovel app. I-download ang mga librong gusto mo at basahin kahit saan at anumang oras.
Libreng basahin ang mga aklat sa app
I-scan ang code para mabasa sa App
DMCA.com Protection Status