เข้าสู่ระบบUndangan ramah itu muncul lancar dari mulut Naomi. Naomi ingin menunjukkan bahwa jika ada hal yang harus dibicarakan, itu harus dilakukan di tempat terbuka di mana siapa pun bisa melihat. Tidak perlu tempat tersembunyi seperti parkiran lagi. Mareeq mengangguk pelan, tampak sedikit terkejut dengan inisiatif Naomi yang kini jauh lebih tegas. Mereka berjalan menuju kursi tersebut dan duduk, sementara Naomi mengambil posisi di kursi sebelahnya.
Naomi duduk dengan tenang. Dia membuka kaleng
Rahaal menatapnya beberapa detik. Lalu berkata pelan,“Kalau kamu terus bersikap seolah semuanya baik-baik saja. Orang akan terus memperlakukanmu seperti itu.”Naomi terdiam. Ia tidak menyangka itu. Bukan karena kata-katanya keras, tapi karena tidak ada yang pernah berbicara seperti itu padanya.“Aku hanya tidak ingin membuat semuanya terasa tidak adil,” jawab Naomi pelan. "Bagaimana denganku dan Mareeq?" Naomi menatap Rahaal."Apakah kalian berselingkuh?" tanya Rahaal.Naomi terdiam. Pertanyaan yang menusuk. Badannya terasa panas dan dingin bersamaan. Memikirkan perjalanan bisnis kemarin. Malam itu. Seolah Rahaal telah membaca semuanya, meskipun Naomi tahu bahwa Rahaal tidak tahu kejadian itu."Kami ada di posisi yang sama bukan?""Jika itu hanya perasaan saling menyukai atau mencintai itu bukan selingkuh." lanjut Rahaal.Naomi mengalihkan pandangannya. "Sama dengan mereka bukan? Mungkin mereka hanya be
Leon hanya mengangguk singkat. Naomi menatap Maya yang pergi, lalu kembali ke Leon. Beberapa detik hening.“Aku benar-benar mengganggu, kan?” tanya Naomi pelan.Leon menggeleng lagi, kali ini lebih santai. “Kamu hanya datang di waktu yang kebetulan.”Naomi tersenyum kecil. Namun kali ini, ada sesuatu yang berbeda di baliknya. Bukan hanya sindiran ringan. Tapi juga sesuatu yang lebih dalam.Leon melirik jam tangannya, lalu kembali menatap Naomi. “Aku harus ke ruang meeting, Sayang.” katanya pelan. “Nanti kita bicara lagi.”Naomi mengangguk. “Iya.”Leon sempat menahan pandangannya sebentar, seolah ingin memastikan sesuatu. Lalu tersenyum tipis sambil mengusap pucuk kepala Naomi sebelum akhirnya pergi. Langkahnya menjauh di koridor. Dan Naomi tetap berdiri di tempatnya. Sendirian.“Naomi?”Suara lain menyapanya. Naomi menoleh dan melihat Diky berjalan me
Pagi dengan ritme yang biasa. Suara keyboard, langkah kaki, dan percakapan ringan mengisi ruangan. Semua terlihat normal. Terlalu normal, jika dibandingkan dengan apa yang Naomi rasakan di dalam dirinya.Ia baru saja duduk ketika melihat sosok Claudia di mejanya. Naomi sedikit terkejut. Claudia terlihat seperti biasa, rapi, profesional, bahkan tersenyum tipis saat mata mereka bertemu.“Aku senang kamu sudah kembali. Kondisimu sudah membaik?” tanya Naomi lembut.“Yah, semuanya baik-baik saja.” Claudia menutup map di tangannya. “Sayang sekali aku melewatkan perjalanan itu.”Naomi tersenyum kecil. “Lain kali kamu bisa.”Claudia membalas senyuman itu. Rapi dan terukur. “Tapi tidak apa,” lanjutnya. “Sesekali kamu bisa merasakan perjalanan bisnis yang menyenangkan.”Naomi menoleh sedikit. Kalimat itu terdengar seperti ada sesuatu di baliknya yang tidak sepenuhnya hangat. Naomi
Malam itu berlalu tanpa benar-benar mereka sadari kapan semuanya berhenti. Yang tersisa hanya keheningan. Lampu kamar sudah diredupkan. Kota di luar jendela hanya tinggal bayangan cahaya yang samar.Naomi terbangun lebih dulu. Perlahan. Seolah kesadarannya kembali satu per satu.Hal pertama yang ia rasakan adalah hangat yang masih tertinggal. Lalu kelembutan kasur yang bukan miliknya.Dan beberapa detik kemudian, kesadaran itu datang sepenuhnya. Ia membuka mata. Menutup matanya lagi berusaha mengingat sekaligus melupakan apa yang telah terjadi.Dia menoleh ke samping. Mareeq masih tertidur pulas. Napasnya terdengar halus. Wajahnya terlihat lebih tenang dari biasanya. Tidak ada garis tegang, tidak ada ekspresi yang selalu ia jaga di siang hari.Naomi menatapnya cukup lama. Ada perasaan yang sulit dijelaskan. Bukan hanya tentang apa yang telah terjadi. Tapi juga tentang dirinya sendiri.Perlahan, Naomi menarik napas dan duduk. Gerakannya hati-
Langit sudah gelap ketika mobil memasuki area hotel. Naomi mengurus check-in di resepsionis, sementara Mareeq berdiri di dekat sofa sambil memegang ponselnya. Beberapa menit kemudian Naomi menghampirinya sambil membawa dua kartu kamar.“Lantai enam,” katanya. “Kamarmu di ujung koridor. Kamarku di sebelahnya.”Mareeq menerima kartu itu.“Kita makan malam tiga puluh menit lagi, kalau kamu tidak terlalu lelah.”Mareeq mengangguk. “Aku akan turun.”Kamar Naomi sederhana tapi nyaman. Jendela besar menghadap jalan utama kota, tempat lampu kendaraan bergerak seperti garis-garis kecil di kejauhan.Ia mandi lalu mengganti pakaian dengan mini dress santai. Gaun itu memeluk tubuhnya dengan pas, membingkai siluetnya dengan anggun namun tetap terlihat sopan. Detail tali kecil membentuk korset di bagian depan memberikan sentuhan manis. Seolah-olah Naomi baru saja keluar dari sebuah cerita klasik tentang gadi
Pagi itu kantor masih belum ramai ketika Naomi tiba sambil membawa tas kerja dan map berisi dokumen supplier. Lampu di beberapa ruangan sudah dinyalakan, udara gedung masih dingin dan tenang.Ia mengira dirinya datang paling awal, sampai melihat sosok Mareeq berdiri di pantry. Dia terlihat sedang memegang secangkir kopi hitam. Pria itu menoleh saat mendengar langkahnya.“Kamu datang lebih pagi,” ucap Mareeq singkat.Naomi melirik jam tangan. “Kamu datang dua puluh menit lebih cepat.”"Butuh kopi lebih dulu."Naomi mengangguk mengerti alasannya. Dia pun melangkah ke mejanya. Ia meletakkan tas di meja, lalu duduk sambil membuka kembali catatan perjalanan mereka hari ini. Dia harus mengecek ulang agar tidak ada yang tertinggal.Perusahaan mengirim mereka ke luar kota untuk meninjau pemasok bahan baku baru. Perkebunan leci dan persik calon mitra utama untuk rpoduk baru nanti. Biasanya tugas seperti ini dipegang Claudia. N
Pintu kaca berbunyi klik saat Naomi melangkah masuk ke ruangan. Ia mengenakan kemeja berwarna pastel yang membuatnya tampak lebih segar dari biasanya. Baru saja ia meletakkan tas di kursinya, sebuah suara ceria menginterupsi ritual pagi itu."Selamat ulang tahun, Naomi!" seru Flora sambil
Pintu apartemen berbunyi klik halus. Naomi disambut oleh keheningan yang berbeda. Bukan sunyi yang hampa, melainkan suasana yang sengaja diciptakan. Lampu ruangan tidak menyala. Satu-satunya sumber cahaya berasal dari pendar temaram di area dapur."Leon?" panggil Naomi lirih. Ia melepas se
Usai makan siang, mereka ke rumah papa. Suasana terasa lebih sunyi dari biasanya. Begitu pintu utama terbuka, aroma pengharum ruangan vanilla. Suara televisi dari ruang tengah memecah keheningan.Khaza duduk dengan santai di sofa panjang, sebuah remot di satu tangan. Ia tampak sedang menon
Papa berhenti merapikan serbetnya. Ada jeda singkat, hampir tak terlihat. Namun, cukup untuk membuat Naomi menyadarinya. Papa mengangkat wajah, senyumnya tetap tenang.“Ada orang lain yang akan bersama kita”.Kalimat itu menggantung di udara. Vino melirik Naomi sekilas, lalu kembali







