เข้าสู่ระบบDiskusi itu pun berubah menjadi sesi interogasi privat. Selama hampir satu jam, mereka terjebak dalam perdebatan strategi. Bryer menggali informasi tentang koneksi lama Ivan Li yang mungkin masih aktif, sementara Bara dengan bangganya membeberkan setiap "bisikan" yang ia dengar dari kakatua-kakatua senior di Kremlin tentang siapa saja pengkhianat yang masih setia pada panji keluarga Li. "Ada seorang pria... sering terlihat di dermaga dengan tato naga yang terpotong di lengan bawahnya. Itu tanda kesetiaan pada keluarga Li tingkat bawah," celetuk Bara. Waktu terus bergulir. Bryer terlalu fokus memetakan pergerakan antek Li hingga ia melupakan satu variabel penting Waktu. Begitu diskusi selesai, Bryer segera memerintahkan pengawalnya untuk melesat ke dermaga selatan. Mobil SUV hitam itu membelah jalanan pesisir dengan kecepatan gila. Bara terbang di atas, memandu arah dengan pekikan nyaring. Namun, sesampainya di dermaga nomor 12, jantung Bryer seolah merosot ke perut. Der
Bryer meremas tangannya kuat-kuat. Kedatangannya ke Hawaii yang niatnya untuk menenangkan diri, kini berubah menjadi misi perburuan kembali. Ia melirik Emilia, merasa bersalah karena liburan mereka akan terganggu lagi. "Naiklah ke helikopter dulu, Bryer," ujar Emilia tenang, meskipun hatinya ikut bergejolak. "Kita bicarakan ini di resort. Hawaii memang panas, tapi sepertinya bara api yang kau bawa dari Rusia akan membuat tempat ini meledak." "Tepat sekali! Dan aku akan menjadi komentator utamanya!" teriak Bara saat mereka semua masuk ke dalam helikopter. Di dalam helikopter yang melaju membelah langit Honolulu, Bryer hanya bisa duduk bersandar, memijat keningnya sementara Bara mulai menagih "pajak gosip" tentang rahasia-rahasia di Gedung Putih. Di bawah langit Hawaii yang indah, Bryer menyadari bahwa ketenangan adalah sesuatu yang tidak akan pernah ia miliki selama ia masih terlibat dengan keluarga Vladimir dan burung kakatua hitam yang jauh lebih pintar daripada agen CIA
Namun, sifat aslinya kembali dalam sekejap. Burung itu kembali berteriak, "Sekarang, beri aku lebih banyak macadamia! Gosip tadi sangat menguras tenaga! Dan jangan lupa, nanti sore kita harus ke dermaga. Aku ingin melihat ekspresi wajah Bryer saat aku menagih bayaran atas informasi ini. Aku ingin apel Honeycrisp dari Washington, bukan apel lokal yang rasanya seperti air tawar ini!" Emilia hanya bisa terduduk diam, menatap cakrawala di mana ia tahu, sebuah badai besar sedang bergerak menuju pesisir Hawaii yang tenang. Badai yang dibawa oleh seorang pria pemarah bernama Bryer, dan rahasia yang disimpan rapat oleh seorang jurnalis bernama Nona Berry. Sambil mendengarkan ocehan Bara yang kini mulai beralih menggosip tentang pengawal Emilia yang katanya punya pacar rahasia di Rusia, Emilia menyadari satu hal Liburannya di Hawaii sudah berakhir, bahkan sebelum benar-benar dimulai. Di bawah langit Hawaii yang biru cerah, aspal di landasan pacu Bandara Internasional Honolulu tampak be
Matahari musim panas di Hawaii membasuh pesisir Waikiki dengan cahaya emas yang menyilaukan, sangat kontras dengan kemuraman abu-abu yang biasanya menyelimuti dinding-dinding batu Kremlin. Di balkon sebuah penthouse mewah yang menghadap langsung ke Samudra Pasifik, Emilia duduk terdiam. Di tangannya, segelas Mai Tai dingin dengan hiasan payung kecil tampak berkeringat, namun pikirannya masih membeku pada kejadian sebulan lalu. Kejadian di mana Kesia menelan racun tanpa mengedipkan mata. Namun, lamunan melankolis Emilia tidak pernah bisa bertahan lama. Keheningan adalah kemewahan yang mustahil didapatkan selama burung kakatua hitam Papua bernama Bara ada di radius satu kilometer darinya. Hari itu dimulai dengan keributan. Belum juga jam menunjukkan pukul delapan pagi, kepakan sayap legam Bara sudah menghantam teralis balkon dengan bar-bar. "Emilia! Bangun, Tuan Putri Malas! Kau melewatkan pertunjukan komedi terbaik di kolam renang bawah!" teriak Bara, suaranya melengking
Di sebuah ruangan gelap yang hanya diterangi oleh pendaran cahaya biru dari belasan monitor pengawas, Viktor Sergeyevich Morozov duduk bersandar dengan kaki menyilang di atas meja mahoni. Asap cerutu Kuba miliknya menari-nari di udara, menciptakan selubung tipis yang menambah kesan dingin di wajahnya yang kaku. Matanya yang tajam terkunci pada satu layar spesifik kamera tersembunyi dengan sudut pandang high-definition yang menangkap setiap inci gerak-gerik di paviliun VVIP rumah sakit. Viktor menyipitkan mata saat melihat adegan di layar. Di sana, di atas brankar mewah, ia menyaksikan pemandangan yang menurutnya sangat menggelikan. Artem Donilov, pria berusia 45 tahun yang dikenal sebagai pemangsa tak kenal ampun di Moskow, sedang menepuk-nepuk pantat Nayla dengan ritme yang menghina akal sehat seolah Nayla adalah balita yang butuh ditenangkan dari mimpi buruk. Dan yang membuat Viktor mengeluarkan tawa kering penuh ejekan adalah reaksi Nayla. Gadis itu tidak lagi meronta. I
Tengah malam di paviliun VVIP itu hanya disisakan oleh suara detak jam dinding yang mekanis dan dengung halus mesin penyaring udara. Nayla Wilson terbangun dengan tenggorokan yang terasa seperti padang pasir yang terbakar. Efek samping dari obat bius dosis tinggi dan suplemen ginseng yang dipaksakan Artem siang tadi membuatnya merasa dehidrasi hebat. Ia mencoba bergerak, namun tubuhnya masih terkunci dalam dekapan posesif Artem Donilov. Lengan pria itu yang berat melintang di perutnya, memberikan rasa aman sekaligus mencekik. "Air..." bisik Nayla parau, suaranya hampir tidak keluar. Tanpa disangka, pria yang tadinya terlihat terlelap itu langsung membuka matanya. Artem tidak benar-benar tidur ia selalu waspada seperti predator yang menjaga mangsanya. Tanpa suara, ia melepaskan pelukannya dan meraih gelas kristal di atas nakas. "Haus, Sayang?" suara Artem serak khas pria yang baru bangun tidur, namun tangannya sangat stabil saat mengangkat kepala Nayla dengan satu tangan, s