Home / Thriller / Velvet Bloodline / Part 64 : Tanya Aku

Share

Part 64 : Tanya Aku

Author: Cloudberry
last update publish date: 2026-04-03 16:06:27

Ketegangan di ruang makan memuncak bukan karena suara tangisan Emilia yang mereda menjadi isak kecil, melainkan karena hawa membunuh yang tiba-tiba memancar dari kursi Stewart Vladimir. Pria berusia 40 tahun itu meletakkan serbetnya dengan presisi yang mengerikan. Matanya yang tajam mengunci sosok hitam di atas tumpukan piring roti.

​Bagi Stewart, Bara bukan sekadar peliharaan Kesia. Burung kakatua hitam Papua ini adalah anomali. Di usianya yang menginjak kepala empat, Stewart tahu benar bahw
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Velvet Bloodline   Part 64 : Tanya Aku

    Ketegangan di ruang makan memuncak bukan karena suara tangisan Emilia yang mereda menjadi isak kecil, melainkan karena hawa membunuh yang tiba-tiba memancar dari kursi Stewart Vladimir. Pria berusia 40 tahun itu meletakkan serbetnya dengan presisi yang mengerikan. Matanya yang tajam mengunci sosok hitam di atas tumpukan piring roti. ​Bagi Stewart, Bara bukan sekadar peliharaan Kesia. Burung kakatua hitam Papua ini adalah anomali. Di usianya yang menginjak kepala empat, Stewart tahu benar bahwa Bara dan Luna sudah menghuni langit-langit Kremlin sejak ia masih remaja ingusan berumur lima tahun. Burung itu adalah saksi hidup dari setiap dosa keluarga Vladimir. ​"Kau sudah terlalu lama terbang bebas, Bara," desis Stewart, suaranya rendah dan berbahaya. "Lidahmu mulai lancang melampaui batas keamanan nasional." ​Tanpa aba-aba, tangan Stewart yang kekar menyambar ke depan dengan kecepatan yang seharusnya tidak bisa dihindari. Namun, Bara bukan sekadar burung. Dengan satu kepakan sayap

  • Velvet Bloodline   Part 63 : Cerita Sebelum Tidur

    Cahaya matahari musim panas Rusia menyeruak masuk melalui celah gorden beludru yang berat, menyapu lantai kayu ek kamar Kesia yang dingin. Emilia mengerjapkan matanya yang sembab. Kesadarannya kembali secara perlahan, namun rasa sesak di dadanya langsung menghantam begitu ia teringat kejadian semalam. ​Ia masih bisa merasakan sensasi dingin marmer di kulitnya saat ia jatuh terduduk, menyaksikan Kesia meneguk racun itu seolah-olah itu hanyalah air mineral mahal. Bagaimana mungkin? Pikirannya berputar dalam labirin ketakutan. Kesia masih hidup, dan itu berarti badai besar akan segera menghancurkan ibunya, Eavi Li. ​Saat Emilia mencoba mendudukkan tubuhnya yang lunglai, suara kepakan sayap yang berisik mendadak memecah keheningan. Bara, si kakatua hitam Papua yang jambulnya berdiri tegak menantang, menerobos masuk melalui jendela yang dibiarkan terbuka oleh Lachlan semalam. ​"Selamat pagi, Tuan Putri yang Malang! Kau tampak seperti hantu yang baru saja melihat malaikat maut menari!" s

  • Velvet Bloodline   Part 61

    Kakinya luruh ke bawah.Pantatnya terduduk menempel lemas pada lantai marmer yang dingin. Batu putih itu menyerap sisa hangat tubuhnya dengan kejam, seolah Kremlin sendiri ingin menelan setiap kelemahan yang terlihat di dalam dindingnya.Tatapan Emilia kosong.Tidak fokus pada apa pun di depannya.Tidak pada lampu kristal yang menggantung redup di langit-langit kamar. Tidak pada tirai tebal yang menutup jendela malam Moskow. Tidak juga pada meja kecil tempat gelas racun itu tadi diletakkan.Pikirannya hanya terjebak pada satu gambaran yang terus berputar tanpa henti.Kesia.Saudari angkatnya.Kesia Vladimir.Kesia Dubicki.Perempuan itu menelan racun seperti meneguk air mineral biasa.Tanpa ragu.Tanpa gentar.Tanpa bahkan mengernyitkan alis.Seolah racun yang bisa membunuh seekor kuda dalam hitungan detik itu hanyalah minuman ringan yang disajikan saat makan malam.Andai Emilia tidak melihatnya dengan mata kepalanya sendiri, ia tidak akan pernah mempercayai cerita semacam itu.Di dun

  • Velvet Bloodline   Part 60 : Pengingat Bisnis

    Kakinya luruh ke bawah. Pantatnya terduduk menempel lemas pada lantai marmer yang dingin. Batu putih itu menyerap sisa hangat tubuhnya dengan kejam, seolah Kremlin sendiri ingin menelan setiap kelemahan yang terlihat di dalam dindingnya. Tatapan Emilia kosong. Tidak fokus pada apa pun di depannya. Tidak pada lampu kristal yang menggantung redup di langit-langit kamar. Tidak pada tirai tebal yang menutup jendela malam Moskow. Tidak juga pada meja kecil tempat gelas racun itu tadi diletakkan. Pikirannya hanya terjebak pada satu gambaran yang terus berputar tanpa henti. Kesia. Saudari angkatnya. Kesia Vladimir. Kesia Dubicki. Perempuan itu menelan racun seperti meneguk air mineral biasa. Tanpa ragu. Tanpa gentar. Tanpa bahkan mengernyitkan alis. Seolah racun yang bisa membunuh seekor kuda dalam hitungan detik itu hanyalah minuman ringan yang disajikan saat makan malam. Andai Emilia tidak melihatnya dengan mata kepalanya sendiri, ia tidak akan pernah mempercay

  • Velvet Bloodline   Part 60 : Kau menjijikkan!!

    ​"Kylie masih terlihat... fungsional untuk usianya," Viktor berkata dengan nada yang sangat kurang ajar, menatap tubuh Kylie yang gemetar. "Daripada menangisi mayat hidup seperti Nathan, kenapa Ayah tidak membawanya saja ke tempat tidur? Buatkan dia satu atau dua bayi baru di usia senjanya ini. Biarkan dia punya kesibukan baru untuk menggantikan posisi Nathan dihati kecilnya, siapa tahu bayi yang lahir lebih berguna kali ini?"​Tawa Leonid pecah mendengar saran anak angkatnya. Ia kini menatap istrinya dengan pandangan penuh nafsu kekuasaan yang rendah. "Kau benar, Viktor. Kita pria Slavia, pria Rusia, punya daya tahan dan kekuatan yang berbeda. Usia hanyalah angka bagi kita. Jika pabrik lamanya masih bisa menghasilkan sesuatu yang tidak cacat moral seperti Nathan, mungkin itu ide yang bagus."​Kylie membelalak, wajahnya pucat pasi mendengar percakapan itu. "Leonid... apa yang kau katakan? Kalian gila! Kalian binatang!"​"Binatang?" Viktor tertawa terbahak-bahak, tawanya melengking taj

  • Velvet Bloodline   Part 59 : Kemenangan

    Pintu kayu mahoni yang berat itu terbanting terbuka dengan suara dentuman yang memecah keheningan perayaan dingin antara ayah dan anak angkat tersebut. Kylie Wilson muncul di ambang pintu, namun ia tidak berdiri tegak sebagai nyonya besar mansion ini. Rambutnya yang biasanya tertata rapi kini kusut masai, gaun tidurnya yang mahal ternoda debu dan air mata. ​Tanpa mempedulikan martabatnya, Kylie menjatuhkan diri ke lantai marmer yang dingin. Ia merangkak, benar-benar merangkak di atas lututnya, mendekati kursi besar tempat Leonid duduk dengan gelas wiski di tangan. ​"Leonid... aku mohon... hiks... ampunilah Nathan," ratapnya, suaranya pecah oleh isak tangis yang menyesakkan dada. Jemarinya yang gemetar mencoba meraih ujung sepatu kulit suaminya. "Dia membusuk di sana, Leonid! Luka-lukanya meradang, dia kesakitan! Dia putra kandungmu, darah dagingmu sendiri! Bagaimana bisa kau merayakan kemenangan di atas penderitaan anakmu?" ​Leonid Wilson bahkan tidak menunduk untuk menatap istrin

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status