Teilen

Bab 201 Rasa Rindu

last update Veröffentlichungsdatum: 02.04.2026 11:04:50

Rumah besar di kawasan elit Jakarta itu menyambut Aziz dengan keheningan yang menyesakkan. Begitu pintu jati ganda itu terbuka, aroma pengharum ruangan yang dingin dan steril menyergap indranya. Sungguh sangat kontras dengan aroma minyak telon dan sisa bau bedak bayi yang tertinggal di penciumannya saat di Medan. Langkah kakinya yang mengenakan pantofel mengema di atas lantai marmer, menciptakan bunyi yang terasa asing setelah seminggu ia terbiasa berjalan berjinjit di atas lantai k
Lies dieses Buch weiterhin kostenlos
Code scannen, um die App herunterzuladen
Gesperrtes Kapitel

Aktuellstes Kapitel

  • Istri Baru Untuk Om Duda   Bab 205 Seperti Tamu

    Uap tipis membubung dari cangkir porselen yang diletakkan Sandra di atas meja jati itu. Aroma kopi gula aren memenuhi ruanga. Namun bagi Alena, aroma itu mendadak terasa menyesakkan paru-paru. Ia berdiri mematung di ambang pintu, mendekap Arkananta yang mulai menggeliat kecil dalam gendongannya. Bayi berusia dua bulan itu seolah merasakan ketegangan ibunya, jemari mungilnya meremas kerah baju Alena mencari kenyamanan."Alena? Kamu sudah pulang?" suara Sandra memecah keheningan. Ia tampak begitu tenang, terlihat sangat nyaman berada di dapur itu. Alena tidak menjawab. Matanya tertuju pada tangan Sandra yang baru saja melepaskan nampan, lalu beralih pada posisi duduk Aziz yang tampak sangat santai di kursi kebesarannya. Dada Alena berdenyut nyeri. Kalimat Sandra tadi terus terngiang seperti kaset rusak. Sejauh itukah Sandra merasuk kembali ke dalam rutinitas rumah ini saat ia tak ada? Bahkan hal sekecil takaran gula pun Sandra sudah memegang kendaliny

  • Istri Baru Untuk Om Duda   Bab 204 Aku Pulang, Mas

    Udara pagi buta di Bandara Kualanamu terasa dingin, namun ada api kecil yang hangat di dada Alena. Ia menggendong Arkananta yang masih terlelap dalam balutan selimut tebal, sementara tangan kanannya menarik koper besar berisi seluruh sisa hidupnya di Medan. Langkahnya mantap melewati gerbang keberangkatan. Di dalam pesawat, Alena menatap awan gelap dari balik jendela, membayangkan reaksi Aziz. Apakah saat ia tiba nanti suaminya itu sedang menyesap kopi dengan wajah kuyu? Ataukah Zizi sedang menggerutu karena harus bangun pagi untuk ujian? Alena tersenyum sendiri. Ini adalah balas dendam paling manis untuk kesabaran Aziz selama sebulan terakhir. Ia sengaja mematikan notifikasi ponselnya, ingin benar-benar memutus koneksi hingga ia menapakkan kaki di lantai marmer rumah mereka di Jakarta. Dua jam kemudian, hawa panas dan kebisingan Jakarta menyambutnya di Soekarno-Hatta. Alena memesan taksi online menuju kawasan perumahan elit tempat rumah

  • Istri Baru Untuk Om Duda   Bab 203 Menjelaskan Pada Zizi

    "Aku enggak maksa, Sayang. Aku cuma mau kamu pulang dengan hati yang tenang tanpa paksaan dari siapa pun, ya?" Suara bariton Aziz di seberang telepon terdengar begitu lembut, namun bergetar oleh kerinduan yang ditahannya sekuat tenaga. Alena terdiam, jemarinya mengusap pinggiran layar ponsel yang terasa hangat. Di kamar yang tenang di Medan itu, ia bisa merasakan beban berat yang dipikul suaminya di Jakarta menghadapi rumah yang sepi, menjaga Zizi yang kian kritis, dan mengelola perusahaan sendirian.Alena mengangguk, seolah Aziz bisa melihatnya melalui gelombang sinyal. "Iya, Mas. Terima kasih sudah mengerti." Setelah panggilan terputus, Alena tidak langsung memejamkan mata. Ia duduk bersandar di kepala ranjang, menatap Arkananta yang terlelap dalam ayunan.

  • Istri Baru Untuk Om Duda   Bab 202 Kau Sudah Jadi Ibu

    Matahari pagi di Medan menyapa dengan kehangatan yang pas, tidak terlalu terik, namun cukup untuk mengeringkan deretan pakaian bayi yang tergantung rapi di jemuran belakang rumah. Alena bergerak dengan cekatan, tangan kirinya menyangga Arkananta Aziz Aksara yang tertidur pulas dalam dekapan jarik, sementara tangan kanannya mengibaskan baju-baju mungil berwarna pastel sebelum menjepitnya di tali jemuran. Ada kepuasan tersendiri yang membuncah di dada Alena. Di sini, di rumah masa kecilnya, ia merasa telah menemukan kembali kedaulatan atas dirinya sendiri. Ia bangga karena mampu mengurus Arka tanpa bantuan perawat berseragam atau pengasuh mewah yang biasanya disiapkan Aziz di Jakarta. Suara denting sudit yang beradu dengan wajan dari arah dapur, tempat Bu Ratih sedang menyiapkan sarapan menjadi musik latar yang menenangkan. Hidup terasa begitu stabil, sempurna, dan jauh dari hiruk-pikuk drama ibu kota yang sempat membuatnya nyaris gila."Arka sehat se

  • Istri Baru Untuk Om Duda   Bab 201 Rasa Rindu

    Rumah besar di kawasan elit Jakarta itu menyambut Aziz dengan keheningan yang menyesakkan. Begitu pintu jati ganda itu terbuka, aroma pengharum ruangan yang dingin dan steril menyergap indranya. Sungguh sangat kontras dengan aroma minyak telon dan sisa bau bedak bayi yang tertinggal di penciumannya saat di Medan. Langkah kakinya yang mengenakan pantofel mengema di atas lantai marmer, menciptakan bunyi yang terasa asing setelah seminggu ia terbiasa berjalan berjinjit di atas lantai kayu rumah Alena agar tidak membangunkan sang putra."Papa!" Pekikan nyaring itu memecah sunyi. Zizi berlari menuruni anak tangga dengan wajah berseri-seri. Namun, langkah gadis kecil itu melambat, lalu terhenti tepat tiga meter di depan Aziz. Matanya yang bulat menyisir ke belakang tubuh ayahnya, mencari sosok yang sangat ia rindukan."Mana Mama Alena, Pa? Dek Arka... mana?" tanya Zizi, suaranya yang semula ceria mendadak menciut. Aziz merentangkan tangan, namun Zizi berg

  • Istri Baru Untuk Om Duda   Bab 200 LDR Lagi

    Perjalanan Aziz di dalam taksi menuju Bandara Kualanamu terasa jauh lebih lambat dari biasanya. Pikirannya tertinggal di kamar sempit yang masih menyisakan aroma minyak telon dan kehangatan pelukan Alena. Ia menyandarkan kepala pada kaca jendela, menatap deretan ruko dan pohon sawit yang berlari menjauh, memikirkan bagaimana ia akan menjelaskan pada Zizi bahwa Mama sambungnya dan Arka masih memilih untuk tinggal di Medan. Sementara itu, di ambang pintu rumah, Alena masih berdiri mematung meski debu dari ban taksi Aziz sudah lama mengendap. Ia mengeratkan pelukannya pada tubuh sendiri, merasakan kekosongan yang mendadak menyerang rumah itu. Seminggu penuh didampingi Aziz bergadang, berbagi tawa di sela kantuk yang hebat, dan melihat sisi paling manusiawi dari suaminya, membuat keputusan untuk tetap di Medan terasa sedikit lebih berat dari yang i

Weitere Kapitel
Entdecke und lies gute Romane kostenlos
Kostenloser Zugriff auf zahlreiche Romane in der GoodNovel-App. Lade deine Lieblingsbücher herunter und lies jederzeit und überall.
Bücher in der App kostenlos lesen
CODE SCANNEN, UM IN DER APP ZU LESEN
DMCA.com Protection Status