"Pilih satu, Macan. Ibu di sini, atau anak dan istri di Kemang?"Suara Jaka terdengar seperti desis ular di telinga Arya, dingin dan mematikan. Laras pistol yang menempel di dahi Jaka mendadak terasa berat, seolah besi itu ikut melumer bersama keringat dingin yang mengucur dari pelipis Arya. Arya sempat tertegun, matanya menangkap debu yang menari di atas monitor jantung ibunya—sebuah distraksi psikologis yang muncul saat otaknya dipaksa memilih antara dua nyawa paling berharga—teringat bahwa ia belum sempat mengganti kode brankas utama, sebelum akhirnya ia meraung liar."Bajingan... kowe beneran khilaf, Jak!" raung Arya, suaranya fragmentasi, pecah oleh amarah yang menyesakkan dada."Dunia pangkalan nggak kenal setia, Den, kalau perut sudah lapar rahasia," sahut Jaka, seringai tipis muncul di balik perban palsunya. "Wisnu Wijaya kasih penawaran yang nggak bisa saya tolak, termasuk kebenaran soal kecelakaan Ibu Larasati yang selama ini ditutup-tutupi
Read more