"Jess... kamu... pernah bekerja untuk siapa sebelum masuk Marunda?"Suara Brian terdengar serak, nyaris menyerupai gesekan logam yang kaku di udara pagi yang dingin. Ia berdiri mematung di balik meja kerja jati, menggenggam ponselnya dengan buku jari yang memutih pasi akibat tekanan emosional. Pupil matanya melebar drastis, mengunci sosok Jessy yang kini terpaku di ambang pintu balkon kamar mereka, membiarkan angin laut Marunda memainkan ujung gaun tidurnya.Jessy terdiam, wajahnya mendadak pucat pasi seolah seluruh aliran darahnya tersedot habis ke ulu hati. Jemarinya yang biasanya lincah di atas papan ketik kini gemetar hebat, meremas pinggiran kain sutra yang menempel di pahanya. Atmosfer di dalam The Fortress of Marunda mendadak berubah menjadi sangat sesak, jauh lebih menekan daripada sabotase perbankan mana pun yang pernah mereka hadapi."Brian, aku bisa jelaskan. Itu masa lalu yang tidak ada hubungannya dengan kesetiaanku pada keluarga Baskoro,"
Read more