"Dia bukan kembaranmu, Mbak. Dia musuh dalam selimut yang dikirim dari Jogja!"Suara Jessy meninggi, memecah ketegangan di meja makan The Fortress of Marunda. Pupil mata Sonya melebar drastis saat melihat angka nol persen pada hasil tes DNA yang terpampang di layar tablet. Napasnya tercekat di tenggorokan, sementara jemarinya gemetar hebat hingga menjatuhkan garpu peraknya ke atas piring porselen dengan denting yang memuakkan rungu.Slevia, wanita yang selama ini dipuja sebagai kembaran yang hilang, hanya tersenyum dingin tanpa sedikit pun rasa takut. Ia menyesap anggur merahnya perlahan, membiarkan aroma alkohol beradu dengan bau ketegangan emosional yang memenuhi ruangan. Di luar mansion, sirine polisi pusat meraung-raung, menandakan bahwa lobi-lobi di restoran mewah tempo hari telah membuahkan hasil berupa perintah penangkapan terhadap Sonya."Hasil tes DNA itu bisa dimanipulasi, Jessy. Tapi akta kelahiran di tangan pengacaraku adalah hukum yang sah
Read more