Saat ini di rumah Laura, pintu utama tertutup rapat.Ramos, sang sopir, sudah dipukul hingga pingsan.Rafael yang berantakan dan penuh debu memegang sebilah pisau buah, menyudutkan Laura dan Ervina yang sebelumnya sedang mengobrol hingga larut malam di kamar Laura.Laura dan Ervina saling berpelukan, tubuh mereka gemetar ketakutan. Sambil menangis, Ervina terus memohon belas kasihan, bahkan mencoba membujuk Rafael agar pergi.Laura menekan rasa takut di dalam hatinya dan berusaha tetap tenang. Dengan berbicara dari sisi perasaan dan logika, dia mencoba menenangkan Rafael.Di balik perlindungan tubuh Ervina, Laura diam-diam memasukkan tangannya ke saku piama. Dengan mengandalkan kebiasaan yang sudah sangat familier, dia membuka kunci ponsel, lalu menyentuh area panggilan dan menekan sebuah nomor secara acak.Dia tahu Rafael sekarang sudah benar-benar menjadi buronan yang putus asa. Dia sama sekali tidak berani memancing amarah Rafael. Dia hanya berharap dengan cara ini pesan bisa tersam
Ler mais