Share

Bab 285

Author: Darrel Gilvano
Setelah menutup telepon dengan Andra, Jimmy membawa pisau buah itu keluar, sambil tidak lupa mengingatkan kedua orang itu agar jangan sampai membunuh Rafael.

Sesampainya di lantai bawah, Jimmy mengangkat Ramos yang tergeletak di lantai. Setelah memastikan dia hanya pingsan karena dipukul, Jimmy segera kembali ke kamar.

Melihat Laura dan Ervina masih memukul Rafael dengan lemah, Jimmy tidak bisa menahan diri untuk menggelengkan kepala. "Jangan cuma gelitik dia. Ada kotak P3K di rumah? Paman Ramos
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Kebangkitan Pendekar Amnesia   Bab 318

    Saat Jimmy menerima telepon dari Zisel, waktu sudah hampir tengah malam."Apa-apaan ini? Makan gratis?" Begitu tahu Yasmin membawa orang ke Resor Scene untuk makan gratis, Jimmy langsung duduk tegak."Ya bukan dibilang makan gratis juga, sih." Zisel tersenyum pahit, "Yasmin bilang, semua pengeluaran mereka ditagihkan ke kamu."Jimmy terdiam, lalu bertanya dengan santai, "Totalnya berapa?""Lebih dari 1,2 miliar," jawab Zisel dengan wajah lesu.Lebih dari 1,2 miliar?Wajah Jimmy langsung berkedut. Wanita itu memang kejam!"Mereka makan apa sampai segitu?" Bukan karena dia merasa rugi, dia cuma penasaran."Makanannya nggak banyak, yang mahal itu minumannya." Zisel tersenyum pahit, "Hanya anggur saja yang lebih dari 20 juta per botol sudah diminum lebih dari 20 botol, belum lagi minuman impor dan minuman keras lainnya ...."Mendengar ucapannya, Jimmy langsung tidak bisa berkata-kata. Zisel juga memang ceroboh, malah bilang ke Yasmin kalau Jimmy adalah bos besar di sana. Bukankah itu sama

  • Kebangkitan Pendekar Amnesia   Bab 317

    "Makan ... makan?"Jimmy sedikit terkejut, "Kalian nggak makan di Resor Scene, 'kan?""Bukan urusanmu!" Yasmin mendengus dingin, lalu langsung naik ke mobil."Baiklah!" Jimmy tidak berkata apa-apa lagi.Setelah mobil Yasmin menjauh, dia langsung mengemudi pergi."Jenderal, kamu terlalu baik sama dia!" Di dalam mobil, Rubah Perak berkata dengan kesal, "Lihat saja orang nggak tahu malu itu, sekarang sudah berani mempermainkanmu!""Kenapa harus terburu-buru?" Yasmin berkata santai, "Masih banyak kesempatan untuk membereskan dia! Biarkan saja dia sombong! Orang seperti dia yang tiba-tiba kaya, semakin sombong malah semakin mudah jatuh!"Seorang satpam kecil yang tiba-tiba mendapat kekayaan besar, lalu mulai tidak tahu batas. Bukankah itu hal yang wajar? Semakin tinggi dia meloncat sekarang, nanti jatuhnya akan semakin keras.Mendengar ucapannya, Rubah Perak pun tidak berkata apa-apa lagi.Tak lama kemudian, mereka sampai di Resor Scene. Begitu masuk, mereka langsung melihat Zisel yang seda

  • Kebangkitan Pendekar Amnesia   Bab 316

    Melihat Yasmin dan Rubah Perak turun dari mobil, Jimmy tak kuasa tersenyum sambil menggeleng.Mungkin memang ini yang disebut, "musuh bebuyutan akan selalu bertemu". Ke mana pun dia pergi, selalu saja bisa bertemu Yasmin."Yasmin, nggak bagus kan menutup jalan seperti ini?" Jimmy menurunkan kaca mobil, lalu menatap keduanya dengan santai."Turun!" Yasmin berjalan ke samping mobil dan mendesak dengan tidak sabar."Baiklah!" Jimmy mengangkat bahu, lalu membuka pintu mobil dan turun sambil tersenyum, "Kamu mau hitung-hitungan sama aku, ya?"Yasmin kemungkinan sudah dibuat pusing oleh Yunan. Kalau Yasmin ingin mencari pelaku utama untuk melampiaskan amarah, itu masih bisa dimengerti."Kamu masih berani bersikap sombong?" Melihat sikap Jimmy, Rubah Perak langsung naik darah.Jimmy bersandar santai di pintu mobil. "Tanya saja sama Bu Yasmin kalian ini, siapa sebenarnya yang lagi bersikap sombong?""Kamu ...." Rubah Perak langsung merasa tercekat. Dia mengangkat tangan hendak memberi pelajara

  • Kebangkitan Pendekar Amnesia   Bab 315

    Untung saja Jimmy sekarang sudah memulihkan ingatannya. Kalau tidak, uang sebanyak itu benar-benar akan terasa menyakitkan baginya.Sekitar pukul lima sore, para tamu mulai berdatangan ke Resor Scene. Zisel juga menyuruh orang-orang menurunkan papan "tutup sementara" dan mulai beroperasi seperti biasa.Melihat waktu sudah hampir tiba, Jimmy pun berpamitan untuk pergi. Zisel mengikuti Jimmy ke luar, dia berkata dengan tatapan menggoda, "Kamu pulang saja dulu, nanti malam aku datang lebih awal untuk menemanimu.""Jangan!" Jimmy langsung memotong niatnya, "Yunan sedang terluka dan masih dirawat di tempatku! Kalau kamu juga datang, kepalaku bisa makin pusing.""Dia ... masih dirawat di tempatmu?" Zisel tertegun, "Kamu ini sebenarnya mikir apa, sih?""Susah dijelaskan ke kamu, pokoknya kamu jangan datang." Jimmy menggeleng, "Kamu lanjut kerja saja, aku pergi dulu."Setelah berkata demikian, Jimmy langsung berjalan keluar. Zisel menatapnya dengan heran, dalam hati hanya bisa mengeluh bahwa p

  • Kebangkitan Pendekar Amnesia   Bab 314

    Menghadapi tatapan Zisel, entah mengapa hati Laura tiba-tiba terasa perih. Dia diam-diam menundukkan kepala.Jimmy menoleh ke arah Howard dan bertanya, "Kalian masih butuh orang untuk lanjut membahas investasi?""Butuh, butuh!" Howard langsung mengangguk berulang kali."Bukannya kamu bilang ini nggak penting?" tanya Jimmy sambil tersenyum."Penting, mana mungkin nggak penting?" Howard tersenyum canggung, lalu menjelaskan, "Tadi aku hanya ingin sedikit mengabaikan si Leonel itu, supaya pihak mereka nggak meminta harga yang terlalu tinggi ...."Tidak penting? Itu jelas omong kosong! Itu dana triliunan!"Baiklah."Jimmy tersenyum tipis, "Nanti aku sampaikan ke Barry.""Terima kasih, Pak Jimmy!" Howard berkali-kali mengucapkan terima kasih, lalu bertanya dengan hati-hati, "Pak Jimmy, hubungan Bapak dengan Dewa Rezeki itu ....""Cuma kenalan." Jimmy tersenyum tipis, tidak menjelaskan lebih lanjut.Cuma kenalan? Kalau hanya kenal biasa, apa orang itu akan sepatuh itu sama perintah Jimmy?Mes

  • Kebangkitan Pendekar Amnesia   Bab 313

    Jimmy menggeleng sambil tersenyum, "Begitu kelakuanmu hari ini tersebar, kamu nggak akan bisa bertahan di industri investasi!"Jimmy memang tidak tertarik dengan urusan bisnis. Namun, bukan berarti dia tidak mengerti sama sekali. Di dunia investasi, perilaku seperti Leonel adalah pantangan besar.Siapa pun yang memegang dana dalam jumlah besar di perusahaan investasi, jika keputusan investasi didasarkan pada preferensi pribadinya, sebanyak apa pun uangnya akan habis tak bersisa."Nggak usah sok hebat di sini!" Leonel mendengus dingin. "Kalau mampu, buat saja aku nggak bisa bertahan di industri investasi!""Seperti yang kamu inginkan!"Jimmy kembali mengangkat ponselnya dan menelepon sebuah nomor, "Sampaikan ke Barry, buat Leonel nggak bisa bertahan di industri investasi!""Baik!" Suara dari seberang langsung menerima perintah.Leonel sama sekali tidak menganggapnya serius. Sekalipun Jimmy mengenal para raksasa modal dalam negeri, lalu kenapa? Dia akan berkembang di luar negeri! Apa par

  • Kebangkitan Pendekar Amnesia   Bab 87

    Argani tidak melanjutkan kata-kata selanjutnya dan memang tidak perlu dijelaskan lagi.Beberapa orang khawatir Argani kembali ke Keluarga Pratama, karena itulah mereka ingin mengambil nyawanya. Pertarungan internal dalam keluarga-keluarga besar seperti ini benar-benar berdarah dan kejam.Jimmy hanya

  • Kebangkitan Pendekar Amnesia   Bab 93

    "Nggak mau!" Zisel mengangkat dagunya. "Bagaimanapun juga, statusmu sebagai kakak ipar cuma nama doang. Aku bakal merebutmu dan menjadikanmu suamiku!"Jimmy terdiam sejenak. Wajahnya penuh kebingungan saat menatap Zisel. Wanita ini benar-benar punya pikiran jahat seperti itu?Kadang dia memang punya

  • Kebangkitan Pendekar Amnesia   Bab 86

    Jimmy mengikuti Sabrina menuju ruangan tempat Argani berada.Begitu masuk, tercium bau obat yang menyengat. Saat melihat Argani, barulah Jimmy mendapati bahwa tangannya dibalut perban. Sementara itu, Jaka bertelanjang dada. Punggung dan dadanya juga dibalut kain kasa.Jelas, keduanya sama-sama terlu

  • Kebangkitan Pendekar Amnesia   Bab 96

    Penipu? Mukhtar menatap Endaru dengan ekspresi bingung. Dia melihat kemampuan Jimmy dengan mata kepala sendiri. Bagaimana mungkin Jimmy adalah penipu?"Jadi kamu memang penipu ya!" Robin menepuk tangan sambil tertawa terbahak-bahak, menatap Mukhtar dengan wajah penuh ejekan. "Mukhtar, penglihatanmu

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status