Adam terpaku melihat pola-pola baju yang berserakan di lantai—hasil kerja keras Areta yang kini terinjak oleh keraguan. Ia tahu, jika ia tidak bicara sekarang, ia akan kehilangan Areta selamanya.Adam melangkah maju, perlahan namun pasti. Ia tidak mencoba memeluknya secara paksa, ia hanya berlutut di depan Areta yang terduduk lemas di kursi jahitnya."Are, tatap aku," ucap Adam lirih. Suaranya kembali ke nada bariton yang stabil, nada yang sama dengan CEO yang tadi duduk di kursi kebesaran, namun kali ini penuh dengan kerendahan hati.Areta memalingkan wajah, bahunya naik turun menahan isak tangis. "Pergi, Dam. Bawa semua rahasiamu keluar dari ruko ini.*"Aku memang bersalah karena memulainya dengan cara yang salah," Adam meraih jemari Areta yang dingin, meskipun Areta mencoba menariknya. "Tapi tolong bedakan antara 'sandiwara' dan 'perasaan'. Aku jadi asistenmu bukan untuk menertawakanmu. Aku jadi asistenmu karena di butik ini, aku merasa menjadi Adam yang sebenarnya, bukan Adam ya
Mehr lesen