"Jangan melunjak!" potong Areta cepat, wajahnya memerah. "Tempel sendiri! Gunakan penggaris pola atau apa pun kalau tanganmu tidak sampai. Jangan manja."Areta segera melangkah pergi menuju area workshop dengan langkah cepat, menyembunyikan wajahnya yang mulai terasa panas. Di dapur, Adam hanya bisa terkekeh pelan. Meski kata-katanya masih tajam, tindakan Areta barusan membuktikan bahwa dinding es di hati istrinya itu mulai retak, meski hanya setebal selembar koyo.Sore harinya, suasana butik mulai tenang. Areta membawa sebuah garment bag hitam dari ruang jahit dengan ekspresi yang masih sedikit kaku. Ia meletakkannya di atas meja potong, lalu menatap Adam yang baru saja selesai merapikan manekin."Adam, jas untuk acara besok sudah selesai. Coba sekarang," perintah Areta singkat, suaranya kembali ke nada instruksional yang tegas. "Aku tidak mau ada kesalahan ukuran di menit terakhir."Adam mengangguk patuh. Ia mengambil jas itu dan masuk ke ruang ganti. Tak lama kemudian, tirai ruang
Read more