Share

Mencoba Terus

Penulis: Chili Cemcem
last update Tanggal publikasi: 2026-03-04 23:57:42

Adam terpaku melihat pola-pola baju yang berserakan di lantai—hasil kerja keras Areta yang kini terinjak oleh keraguan. Ia tahu, jika ia tidak bicara sekarang, ia akan kehilangan Areta selamanya.

Adam melangkah maju, perlahan namun pasti. Ia tidak mencoba memeluknya secara paksa, ia hanya berlutut di depan Areta yang terduduk lemas di kursi jahitnya.

"Are, tatap aku," ucap Adam lirih. Suaranya kembali ke nada bariton yang stabil, nada yang sama dengan CEO yang tadi duduk di kursi kebesaran, nam
Lanjutkan membaca buku ini secara gratis
Pindai kode untuk mengunduh Aplikasi
Bab Terkunci

Bab terbaru

  • Pria Culun Itu Suamiku   Tamat

    Satu bulan setelah hiruk-pikuk pernikahan Luna dan Pierre berlalu, hari yang tak kalah istimewa pun tiba. Hari itu adalah hari ulang tahun pernikahan Adam dan Areta.Sejak pagi, Adam bersikap sangat misterius. Ia pulang dari kantor jauh lebih awal dari biasanya, bahkan sebelum pukul dua siang, dan langsung meminta Areta bersiap-siap untuk makan malam romantis di luar.Malamnya, Adam membawa Areta ke sebuah restoran privat berkonsep rumah kaca di dataran tinggi yang menghadap ke lampu-lampu kota. Di tengah ruangan yang hanya diisi oleh mereka berdua, sebuah manekin tertutup kain beludru hitam berdiri tegak di dekat meja makan.Areta menatap manekin itu dengan dahi berkerut, lalu beralih menatap suaminya. "Adam ... apa itu?"Adam tidak menjawab dengan kata-kata. Ia berjalan mendekat, lalu dengan satu gerakan pelan, ia menarik kain beludru tersebut.Areta seketika menahan napas. Matanya membelalak tak percaya.Di atas manekin itu terpasang sebuah gaun malam berwarna biru safir gela

  • Pria Culun Itu Suamiku   Langkah Adam

    Setelah dasi biru dongker terpasang sempurna dan kecemasan Adam mereda, sebuah ketukan pelan terdengar di pintu ruang tunggu. Protokoler acara melongongkan kepala dengan ekspresi sangat sopap.“Mohon maaf, Tuan Adam, Nyonya Areta ... lima menit lagi prosesi akan dimulai. Pengantin wanita sudah siap di posisinya,” lapor petugas tersebut.Adam menarik napas dalam-dalam, mengembuskannya perlahan, lalu menatap Areta dengan senyum yang jauh lebih rileks. Ia menurunkan Arkadia dari gendongannya dan menyerahkannya kembali ke pelukan Areta.“Aku ke depan duluan, ya. Jaga jagoan kita,” ucap Adam sambil merapikan ujung jas hitamnya yang berpotongan tegas.“Semangat, Mas. Kamu pasti bisa,” bisik Areta memberikan dorongan moral.RAlunan musik instrumental lembut mulai mengalun, memenuhi ruang aula pernikahan yang didekorasi dengan sangat elegan, perpaduan antara selera seni Pierre yang megah dan sentuhan minimalis kesukaan Luna. Di ujung altar, Pierre sudah berdiri tegak. Wajahnya yang bia

  • Pria Culun Itu Suamiku   Menjelang Momen Sakral

    Begitu Areta membuka pintu rumah, pemandangan pertama yang menyambutnya adalah Adam yang duduk di lantai ruang tengah dengan kacamata tebal bertengger di hidungnya. Kemeja kantornya sudah dilepas, menyisakan kaos oblong yang sedikit terkena noda kuah sayur.Di depannya, Arkadia menutup mulut rapat-rapat, menolak suapan dari sendok kecil jika Adam tidak mengenakan kacamata “culun” tersebut.“Are, syukurlah kamu pulang!” seru Adam dengan nada memelas. “Aku sudah mencoba segala cara—berakting jadi robot, pesawat terbang, bahkan jadi direktur perusahaan lawan—tapi dia tetap tidak mau buka mulut kalau aku tidak pakai kacamata ini. Aku sudah hampir kehabisan ide!”Areta tertawa geli melihat suaminya yang berwibawa di ruang rapat, kini tak berdaya di hadapan balita yang keras kepala. “Itu karena kacamata itu membuatmu terlihat seperti ‘Papa’, bukan ‘Tuan Adam’ yang kaku. Arkadia tahu mana yang asli.”Keesokan harinya, suasana di apartemen Luna berubah menjadi pusat kendali mode. Areta da

  • Pria Culun Itu Suamiku   Kakak & Adik

    Areta mengajak Luna beranjak dari butik menuju sebuah toko bunga mungil di sudut jalan yang tersembunyi di balik rimbunnya pepohonan. Toko itu milik seorang wanita tua yang sudah menjadi langganan Areta sejak awal ia merintis karier. Aroma segar tanah basah dan keharuman berbagai jenis bunga langsung menyambut mereka begitu pintu kayu toko itu terbuka."Bunga pengantin bukan sekadar pelengkap foto, Luna," ujar Areta sambil menyisir deretan bunga-bunga segar yang baru saja tiba. "Buket ini harus bercerita siapa kamu. Pierre mungkin ingin sesuatu yang megah, tapi aku ingin sesuatu yang... benar-benar Luna."Luna berjalan perlahan, jemarinya menyentuh kelopak bunga mawar putih yang sempurna, lalu beralih ke bunga Lily of the Valley. "Aku suka yang putih, Kak. Tapi aku merasa ada yang kurang kalau hanya putih."Areta mengambil setangkai Calla Lily putih yang jenjang dan kokoh, lalu memadukannya dengan beberapa kuntum Eustoma (Lisianthus) berwarna ungu muda yang sangat lembut dan kelopa

  • Pria Culun Itu Suamiku   Persiapan Luna

    Setelah perdebatan panjang soal garis pinggang dan pola payet mereda, Pierre tiba-tiba menghentikan gerakannya. Ia memasang wajah misterius, lalu melirik ke arah tas jinjing kulit besar yang ia letakkan di pojok butik sejak tadi."Luna, sebelum Areta melepaskan kain percobaan ini dari tubuhmu, aku punya satu hal lagi," ujar Pierre dengan nada suara yang tiba-tiba merendah dan penuh perasaan.Ia melangkah perlahan, mengambil sebuah kotak beludru berwarna biru gelap dari dalam tasnya. Dengan gerakan perlahan layaknya sedang melakukan ritual suci, Pierre membukanya di hadapan Luna dan Areta.Areta spontan menutup mulut dengan tangannya, matanya membelalak kagum. Di dalam kotak itu, terdapat sepasang sepatu hak tinggi dengan desain yang sangat artistik. Bagian tumitnya terbuat dari logam tipis berwarna perak yang meliuk indah, sementara bagian badannya dilapisi kain sutra transparan yang dihiasi sulaman bunga melati kecil, bunga favorit Luna, yang dibuat dari kerajinan tangan yang luar

  • Pria Culun Itu Suamiku   CEO Junior Terlelap

    Energi Arkadia akhirnya habis juga. Setelah berkali-kali meluncur di perosotan barunya, bocah mungil itu mulai mengucek mata dan bersandar di kaki kursi kebesaran Papanya. Dengan sisa tenaga, ia merangkak naik ke atas kursi kulit yang luas itu, kursi yang bagi orang lain adalah simbol kekuasaan, namun bagi Arkadia tak lebih dari tempat tidur yang empuk.Hanya dalam hitungan menit, Arkadia sudah tertidur pulas. Kepalanya bersandar pada bantal kecil yang sengaja diletakkan Areta di sana. Tubuh kecilnya terlihat sangat kontras dengan kursi CEO yang megah, menciptakan pemandangan yang sanggup meluluhkan hati siapa pun.Adam yang baru saja akan kembali ke mejanya terhenti. Ia memberikan isyarat telunjuk di depan bibir kepada Luna yang baru saja mau masuk membawa map."Jangan berisik," bisik Adam pelan. "Jagoan kecilku sedang menguasai singgasananya."Areta tersenyum simpul melihat suaminya yang rela "terusir" dari meja kerjanya sendiri. Tanpa keluhan, Adam memindahkan laptop dan bebera

  • Pria Culun Itu Suamiku   Perhatian Kecil

    ​Sorot mata Adam mendadak sangat dingin, tajam, dan mengandung tekanan yang luar biasa berat, seolah-olah suhu di ruangan itu turun drastis. ​Kevin yang sedang asyik tertawa sinis tiba-tiba merasa tenggorokannya tercekat. Ia melihat ke arah Adam, dan untuk sesaat, ia merasa seperti sedang ditatap

  • Pria Culun Itu Suamiku   Mencoba Percaya

    Adam meraup wajahnya. Ia baru saja bermimpi buruk. Jika sang istri mengetahui jati dirinya. "Masih terlalu dini, Are. Jangan sekarang." Adam bangkit dari kursi kerjanya dan merapikan jas yang ia kenakan. Lalu bersiap menghadiri agenda selanjutnya yang sangat padat untuk hari ini. Sementara itu, A

  • Pria Culun Itu Suamiku   Bohong?

    Adam menggeleng pelan, wajahnya dibuat tampak sesedih mungkin. "Baru saja ada pesan masuk. Aku ... aku harus izin darurat besok pagi. Aku harus kembali ke rumah lamaku, ada urusan keluarga yang mendesak dan tidak bisa ditunda." ​Areta meletakkan sendoknya. Tatapannya kembali menajam, seolah sedang

  • Pria Culun Itu Suamiku   Aroma Martabak ?

    ​"Aku tahu dulu pernah tenar. Tapi aku juga pernah jatuh. Rasanya janggal jika dalam keterpurukan seseorang ada uluran tangan semudah sekarang. Tapi akan menandatanganinya besok. Kamu jangan berpikir karena kontrak ini, aku akan langsung percaya padamu," ucap Areta tanpa menoleh. "Aku masih ingat r

Bab Lainnya
Jelajahi dan baca novel bagus secara gratis
Akses gratis ke berbagai novel bagus di aplikasi GoodNovel. Unduh buku yang kamu suka dan baca di mana saja & kapan saja.
Baca buku gratis di Aplikasi
Pindai kode untuk membaca di Aplikasi
DMCA.com Protection Status