ログイン"Gus," panggil Areta pelan di balik helmnya."Ya, Bos?""Terima kasih ya buat tadi pagi. Dan maaf kalau aku galak. Aku cuma nggak suka lihat orang yang aku sayang direndahkan begitu saja," bisik Areta.“Terima kasih ya buat tadi pagi. Dan maaf kalau aku galak. Aku Cuma nggak suka lihat orang yang aku sayang direndahkan begitu saja,” bisik Areta.Adam tersenyum di balik kaca helm. “Aku tahu, Are. Kamu itu singa betina kalau urusan melindungi orang rumah.”“Tapi besok-besok, kamu harus lebih rapi kalau ikut aku ke kantor! Aku nggak mau kejadian tadi terulang. Besok kita ke pasar, aku belikan kamu kemeja baru yang lebih keren.”Adam terkekeh. “Siap, Bos Besar!”*Areta berdiri tegak di depan meja resepsionis dengan gaya bos besar. Ia mengenakan blazer terbaiknya, sementara Adam berdiri di belakangnya dengan kemeja baru hasil belanja di pasar kemarin (yang sebena”Saya tidak akan menandatangani kontrak apapun sebelum saya bertemu dengan CEO Anda,” tegas Areta kepada Luna. “Saya ingin
Lobi samping dekat kantin karyawan Rajawali Tower mendadak riuh. Areta berlari setengah tidak peduli dengan bunyi hak sepatunya yang beradu keras dengan lantai marmer. Di sana, di tengah kepungan tiga satpam berbadan tegap, ia melihat "Gus"—suaminya—sedang berdiri memegang helm kusamnya dengan wajah pasrah."Ada apa ini?!" teriak Areta, suaranya menggelegar membelah kerumunan karyawan yang mulai berbisik-bisik.Seorang komandan satpam menoleh. "Maaf, Bu. Pria ini memaksa masuk ke area VIP kantin. Dia bilang dia asisten Ibu, tapi penampilannya... ya Ibu lihat sendiri, sangat tidak sesuai dengan standar gedung ini."Areta melihat suaminya dari ujung kaki ke ujung kepala. Kaos oblong yang sedikit pudar warnanya, celana jeans yang terkena noda oli motor matic tadi pagi, dan sandal jepit yang tampak sangat kontras dengan kemewahan lobi Rajawali.Hati Areta mencelos. Bukan karena malu, tapi karena sakit hati melihat pria yang semalam rela tidur di lantai demi bantal darinya itu kini dihinak
Pagi itu, suasana di kediaman Mama Veronica terasa tenang, namun ketegangan di hati Adam belum sepenuhnya sirna. Sebelum sinar matahari benar-benar menyengat, Adam melangkah menuju ruang kerja di lantai bawah. Di sana, ia melihat sosok pria yang sangat ia hormati sedang menyesap kopi hitamnya sambil menatap taman belakang.Rajes, ayah kandung Areta.Berbeda dengan Areta yang meledak-ledak, Rajes adalah samudera yang tenang. Dialah orang yang pertama kali menjabat tangan Adam—bukan sebagai “Agus” sang asisten, melainkan sebagai Adam, pria yang ia pilih secara sadar untuk mendampingi putri tunggalnya.*Adam menutup pintu kayu ek itu dengan pelan. “Pagi, Pa.”Rajes menoleh, tersenyum tipis, lalu memberi isyarat agar Adam duduk di kursi kulit di hadapannya. “Bagaimana lantainya semalam, Dam? Keras?”Adam tertawa kecil, sedikit malu. “Ternyata Areta masih punya stok bantal untuk pria pembohong seperti saya, Pa.”Rajes meletakkan cangkir kopinya. Gurat wajahnya menunjukkan kewibawaan
Ketegangan di depan ruko belum sempat mereda saat sebuah mobil mewah lainnya—kali ini sebuah sedan putih elegan yang sangat familiar bagi Adam—berhenti tepat di belakang motor matic mereka.Seorang wanita paruh baya turun dengan anggun. Perhiasannya berkilau terkena lampu jalan, namun wajahnya memancarkan kehangatan yang kontras dengan dinginnya tatapan Areta tadi.“Mama Vero?” gumam Adam, jantungnya mencelos.Senyumnya mengembang lebar saat melihat menantu dan putri tunggalnya.“Sudah, jangan masak lagi. Areta, kamu pucat sekali. Ayo, ikut Mama saja. Tinggalkan motor ini, biar nanti supir Mama yang urus kain-kain ini ke dalam ruko. Kalian makan malam di rumah, Mama sudah rindu mengobrol,” ajak Mama Vero sambil merangkul Areta.Suasana meja makan di rumah masa kecil Areta terasa sangat hangat. Berbagai hidangan kesukaan Areta tersaji, namun suasana hati Areta justru semakin dingin. Ia merasa seperti orang asing di tengah keakraban Mama Vero dan Adam.“Adam, makan yang banyak,” ucap
Jam menunjukkan pukul 07.15 WIB. Ponsel Adam di atas meja kayu ruko bergetar hebat. Nama "Luna - Sekpri" berkedip puluhan kali, dibarengi rentetan pesan singkat: "Pak, seluruh Dewan Direksi sudah berkumpul. Rapat penentuan merger dimulai 45 menit lagi. Bapak di mana?!"Adam mengabaikannya. Ia lebih memilih mengikat erat karung-karung berisi kain pesanan pelanggan yang beratnya bukan main."Sudah siap?" tanya Areta dingin dari ambang pintu. Ia menatap Adam yang berseragam kaos oblong dan celana kain kusam, sangat jauh dari citra pria yang kemarin duduk di kursi CEO."Siap, Bos," jawab Adam mencoba mencairkan suasana dengan senyum tipis, meski punggungnya terasa kaku karena semalam tidur di sofa sempit.Mereka berangkat menggunakan motor matic tua milik ruko menuju Tanah Abang. Di tengah kemacetan Jakarta yang menggila dan debu jalanan, Adam merasakan tangan Areta memegang jaketnya, meski sangat tipis dan tanpa pelukan. Itu sudah cukup bagi Adam.*Pasar Tanah Abang, Pukul 08.30 WIBKer
Adam terpaku melihat pola-pola baju yang berserakan di lantai—hasil kerja keras Areta yang kini terinjak oleh keraguan. Ia tahu, jika ia tidak bicara sekarang, ia akan kehilangan Areta selamanya.Adam melangkah maju, perlahan namun pasti. Ia tidak mencoba memeluknya secara paksa, ia hanya berlutut di depan Areta yang terduduk lemas di kursi jahitnya."Are, tatap aku," ucap Adam lirih. Suaranya kembali ke nada bariton yang stabil, nada yang sama dengan CEO yang tadi duduk di kursi kebesaran, namun kali ini penuh dengan kerendahan hati.Areta memalingkan wajah, bahunya naik turun menahan isak tangis. "Pergi, Dam. Bawa semua rahasiamu keluar dari ruko ini.*"Aku memang bersalah karena memulainya dengan cara yang salah," Adam meraih jemari Areta yang dingin, meskipun Areta mencoba menariknya. "Tapi tolong bedakan antara 'sandiwara' dan 'perasaan'. Aku jadi asistenmu bukan untuk menertawakanmu. Aku jadi asistenmu karena di butik ini, aku merasa menjadi Adam yang sebenarnya, bukan Adam ya







