LOGIN“Tuan, ini laporan mingguan dari divisi logistik dan beberapa dokumen akuisisi lahan di Paris yang butuh tanda tangan basah Anda,” ucap Rian sambil membungkuk hormat, namun matanya tak bisa menyembunyikan rasa heran melihat bosnya dikelilingi manekin.“Letakkan di sana, di atas tumpukan kain perca itu,” sahut Adam tanpa menoleh. Ia sedang fokus menyatukan bagian bahu dari gaun utama. “Sampaikan pada direksi, saya sedang melakukan ‘riset operasional di lapangan’. Jangan ada yang berani mengganggu kecuali perusahaan akan bangkrut.”“Tapi Tuan, para pemegang saham mulai bertanya-tanya...”Adam berhenti menjahit, ia menoleh dengan tatapan yang sangat tajam meski wajahnya tampak kuyu. “Katakan pada mereka, saya sedang membangun masa depan Rajawali Jaya yang paling berharga. Sudah, sana pergi.”Cinta di Setiap JahitanBegitu Rian pergi, Adam kembali ke dunianya. Ia mengambil pena emasnya, menandatangani dokumen bernilai miliaran rupiah dengan cepat di atas meja potong kain, lalu segera
“Tuan, ini laporan mingguan dari divisi logistik dan beberapa dokumen akuisisi lahan di Paris yang butuh tanda tangan basah Anda,” ucap Rian sambil membungkuk hormat, namun matanya tak bisa menyembunyikan rasa heran melihat bosnya dikelilingi manekin.“Letakkan di sana, di atas tumpukan kain perca itu,” sahut Adam tanpa menoleh. Ia sedang fokus menyatukan bagian bahu dari gaun utama. “Sampaikan pada direksi, saya sedang melakukan ‘riset operasional di lapangan’. Jangan ada yang berani mengganggu kecuali perusahaan akan bangkrut.”“Tapi Tuan, para pemegang saham mulai bertanya-tanya...”Adam berhenti menjahit, ia menoleh dengan tatapan yang sangat tajam meski wajahnya tampak kuyu. “Katakan pada mereka, saya sedang membangun masa depan Rajawali Jaya yang paling berharga. Sudah, sana pergi.”Cinta di Setiap JahitanBegitu Rian pergi, Adam kembali ke dunianya. Ia mengambil pena emasnya, menandatangani dokumen bernilai miliaran rupiah dengan cepat di atas meja potong kain, lalu segera
Tepat saat Adam hendak menutup telepon, tangan Areta yang gemetar tanpa sengaja menyenggol garpu di piringnya. Ting! Suara besi beradu dengan lantai keramik itu menggema di ruangan yang sunyi. Adam langsung terdiam. Matanya menyipit di layar. “Suara apa itu? Seperti ada orang lain di sana.” Luna membeku, tapi otaknya bekerja secepat kilat. Ia langsung menendang kaki Pierre di bawah meja. “Aduh!” Pierre berteriak kesakitan, lalu dengan cepat berimprovisasi. “Maaf, Monsieur! Itu ... itu garpuku jatuh! Tanganku gemetar karena terlalu bahagia dipeluk Luna!” Pierre memungut garpu cadangan di atas meja dan menunjukkannya ke kamera dengan wajah bodoh. Adam menatap layar selama beberapa detik yang terasa seperti satu jam. “Kalian aneh sekali malam ini. Ya sudah, istirahatlah. Luna, besok pagi kirimkan laporan pengeluaran butik ke emailku.” Klik. Sambungan terputus. Setelah Badai Berlalu .... Areta langsung merangkak keluar dari bawah meja, napasnya tersengal-sengal.
“Sudah kukatakan, aku tidak mau kamu kembali ke laut secepat ini! Kamu pikir membesarkan anak itu mudah?!” Luna mulai terisak buatan, tangannya memukul-mukul dada Pierre dengan gaya “drama queen” yang sangat meyakinkan.Rombongan Pak Hendra mendadak berhenti. Mereka saling pandang dengan canggung. Melihat sepasang kekasih sedang bertengkar hebat tentang kehamilan dan perpisahan, nyali mereka untuk menyapa langsung ciut. Sebagai pria-pria korporat, tidak ada yang lebih menakutkan daripada terjebak di tengah drama domestik orang lain.“Maaf, sepertinya kita salah orang. Ayo, cari meja di lantai atas saja,” bisik Pak Hendra sambil buru-buru membuang muka.Begitu rombongan itu menaiki tangga menuju lantai dua, Luna melepaskan pelukannya dan langsung menoleh ke arah pintu dapur yang hanya berjarak dua meter dari kursi Areta.“Sekarang! Bu, lewat sini!” bisik Luna sambil menyambar tas Areta.Mereka bertiga menyelinap masuk ke pintu dapur yang sibuk. Aroma bumbu kacang yang diulek menyeng
Keesokan Paginya ... Hadiah yang Tak Terduga Tiba ....Sesuai janji Adam, sebuah paket besar tiba. Bukan mainan, bukan baju bayi, melainkan sebuah Cincin Berlian dalam kotak beludru merah dan sebuah Surat Saham atas nama anak yang dikandung Luna (yang sebenarnya anak Areta).Di dalam kotak itu ada sepucuk surat kecil:"Untuk anakmu, Luna. Agar dia punya masa depan yang pasti, siapa pun ayahnya nanti. Dan Pierre, pakailah cincin ini untuk menunjukkan pada dunia bahwa Luna milikmu."Areta menatap cincin itu dengan getir. Adam sangat murah hati pada "anak asistennya", tanpa tahu bahwa dia sedang menyiapkan masa depan untuk anaknya sendiri yang sedang bersembunyi darinya.Pagi di apartemen Paris itu dimulai dengan perdebatan kecil yang cukup menegangkan. Luna, dengan wajah galaknya yang khas, menyodorkan kotak beludru merah ke hadapan Pierre yang baru saja menyesap kopi hitamnya."Pakai ini, Pierre. Sekarang. Dan jangan pernah dilepas kalau kita keluar dari pintu ini," perintah Luna tak t
Di pojok gudang butik yang remang-remang, Luna berdiri dengan berkacak pinggang, menatap Pierre yang masih kikuk dengan kostum pelautnya. Pierre tampak seperti kelinci yang terpojok di depan serigala. Luna mengeluarkan sebuah buku catatan kecil, lalu mengetuk-ngetukkan pulpennya ke dagu dengan ekspresi yang sangat galak. “Dengar, Pierre. Anggap ini kontrak hidup dan mati,” suara Luna rendah tapi penuh penekanan. “Statusmu sekarang adalah tunanganku. Pelaut tangguh yang baru pulang dari Samudra Atlantik. Tapi, ada aturan mainnya.” Pierre menelan ludah, mengangguk cepat. “O-oui, Mademoiselle Luna. Apa peraturannya?” Luna membuka catatannya dan membacanya dengan nada otoriter: Kontak Fisik Terbatas: “Kita hanya boleh bersentuhan kalau Pak Adam melihat. Itu pun Cuma boleh pegangan tangan atau aku merangkul lenganmu. Dilarang keras ada ciuman, pelukan lebih dari tiga detik, atau kontak fisik apa pun di luar pengawasan Pak Adam. Mengerti?” Panggilan Sayang: “Jangan panggil aku
Areta sudah memutar tubuhnya, langkah kakinya yang cepat dan tegas menggema di lantai marmer yang mengkilap menuju lift. Namun, sebelum jemarinya sempat menyentuh sensor pintu, sebuah lengan kokoh menghadang jalannya.Adam berdiri tegak di depan pintu lift. Tidak ada lagi bahu yang membungkuk lesu
Areta duduk di sofa ruang tunggu mewah milik Luna. Ia menatap papan nama di meja yang bertuliskan: Luna Maya – Executive Secretary.Areta berbisik pada Adam yang duduk di sampingnya, "Dam, aku bingung. Kemarin kamu bilang Bu Luna ini Manajer Pemasaran yang suka kasih proyek ke desainer lokal. Kena
Salah satu orang suruhan di belakang Renata berbisik dengan suara gemetar, "Nona ... sebaiknya kita pergi. Pria ini ....""Diam kamu!" bentak Renata pada orang suruhannya, lalu kembali menatap Adam. "Adam, aku akan bayar berapa pun! Kamu mau uang? Aku kasih! Tapi tolong bilang pada bosmu untuk ber
Areta menunggu momen yang tepat. Begitu ia mendengar suara gemericik air dan denting piring dari arah dapur, pertanda Adam sedang sibuk membereskan bekas sarapan mereka, ia segera bangkit dari kursinya. Dengan langkah berjinjit dan jantung yang masih berdegup kencang, ia menyelinap masuk ke dalam ka







