LOGIN"P-Pak. Tidak perlu membuat apa-apa. Saya... saya hanya ingin tidur lagi," Maira berbisik lirih, jemarinya meremas pelan bahu kekar Wisnu yang telanjang.Wisnu tidak langsung bergerak. Sepasang mata elangnya menatap lurus ke dalam manik mata Maira."Benar tidak mau dibuatkan teh hangat? Pelayan saya selalu menyimpannya di lemari atas," tanya Wisnu lagi, suaranya terdengar serak, bergetar rendah di dekat wajah Maira."Benar, Pak. Air tadi sudah cukup membuat dada saya lega,” Maira menggeleng pelan, seulas senyum tipis yang tulus terukir di bibirnya yang masih sedikit pucat."Baiklah," sahut Wisnu pendek.Pria itu kemudian menegakkan tubuhnya, menjauh dari sandaran meja konter marmer tanpa sedikit pun melonggarkan kuncian lengan kokohnya pada tubuh Maira. Sesampainya di dalam kamar, Wisnu berjalan mendekati ranjang king-size, lalu dengan gerakan pelan menurunkan tubuh mungil itu ke atas kasur berselimut sutra.Wisnu memosisikan tubuh tingginya di belakang si gadis, lalu menarik tubuh Ma
Maira tidak langsung menjawab. Sepasang kelopak matanya terasa teramat berat untuk terbuka, sementara bibirnya hanya mampu mengeluarkan hela napas panjang yang terdengar begitu letih.“Maira,” panggil Wisnu lagi, kali ini suaranya merendah satu oktav.Jemari besar Wisnu bergerak perlahan, menyisir helai rambut Maira yang basah oleh keringat dingin, lalu menyelipkannya ke belakang telinga. Telapak tangannya yang hangat kemudian beralih mengusap sisa air mata yang mengering di pipi mungil yang kini tampak begitu sembap.“S-saya... tidak tahu, Pak. Tiba-tiba saja... dadanya terasa sangat sempit. Seperti... seperti tidak ada udara lagi di ruangan ini,” cicit Maira akhirnya, suaranya parau sembari semakin menenggelamkan wajahnya di ceruk leher si pria.Wisnu terdiam, merasakan getaran halus yang masih tersisa di punggung Maira melalui telapak tangannya. Pria itu menyadari, di balik kepatuhan yang Maira tunjukkan sejak menandatangani kontrak pemulihan, ada beban mental yang teramat berat ya
Suara deru angin beringas yang menerobos masuk seketika menyentak kesadaran Wisnutama. Pria itu mulai membuka mata dalam sekejap. Selimut sutra berantakan, dan hawa dingin gurun langsung menyergap kulitnya.Wisnu menegakkan tubuhnya dengan cepat. Matanya yang sehitam malam menyusuri ruangan temaram, hingga pandangannya terpaku pada sudut jendela besar yang terbuka lebar. Di sana, di bawah kibaran tirai sutra yang berkibar liar, ia melihat siluet bertubuh mungil sedang meringkuk di lantai marmer.“Maira?” panggil Wisnu.Pria itu menyibakkan selimut, turun dari ranjang tinggi itu dengan langkah lebar yang tergesa, mengabaikan fakta bahwa ia hanya mengenakan celana tidur panjang tanpa atasan.Begitu mendekat, detak jantung Wisnu mendadak ikut berpacu di luar kendali. Pemandangan di depannya membuatnya sedikit panik sebab gadis itu sedang berlutut dengan kedua tangannya mencengkeram dada bajunya sendiri begitu erat hingga jemarinya memutih. Sementara kepalanya mendongak dengan tatapan mat
“Tahan sebentar,” gumam Wisnu rendah, nyaris seperti bisikan.Maira membuka matanya yang sembap dan berkaca-kaca. Dari posisinya yang terduduk, ia bisa melihat dengan jelas puncak kepala Wisnu. Rambut hitam pria itu sedikit berantakan, dan untuk pertama kalinya, Maira tidak melihat binar intimidasi yang biasa membakar sepasang mata elang tersebut.Wisnu meraih botol antiseptik dan kain kasa steril dari kotak P3K yang selalu tersedia di bawah meja sudutnya. Saat cairan dingin itu menyentuh kulit Maira yang meradang, gadis itu spontan menarik kakinya ke belakang.“Pak... s-sakit,” rintih Maira dengan suara parau, air matanya kembali meluncur bebas melewati pipi yang pucat.Namun, alih-alih membentak atau memaksa seperti biasanya, tangan besar Wisnu justru menahan pergelangan kaki Maira dengan usapan lembut ibu jarinya.“Jangan bergerak, Maira. Kalau tidak dibersihkan sekarang, bisa semakin sakit dan membengkak,” sembari Wisnu meniup luka itu.Setelah memastikan darahnya berhenti merembe
Maira mematung di bawah tatapan intens Wisnutama. Jantungnya bertalu begitu keras hingga ia takut pria itu bisa mendengarnya. Aturan baru yang baru saja diucapkan Wisnu terdengar seperti vonis mati bagi akal sehatnya. Di ruangan seformal ini, dengan tumpukan dokumen negara dan hukum internasional di sekeliling mereka, Wisnu masih bisa menyelipkan ancaman yang begitu intim."Sekarang, mulai bekerja, Little Bird," bisik Wisnu tepat di depan bibir Maira, sebelum akhirnya melepaskan cengkeraman pada kursi roda gadis itu dan memundurkan kembali posisi duduknya sendiri.Maira menarik napas dalam-dalam, mencoba mengisi paru-parunya yang mendadak terasa hampa. Dengan tangan yang masih sedikit gemetar, ia membuka lembar pertama berkas tebal di pangkuannya. Fokusnya terpecah antara untaian kalimat hukum yang rumit dan eksistensi pria di sampingnya yang kembali mengenakan kacamata bacanya dengan ekspresi teramat tenang, seolah-olah ia tidak baru saja mengurung Maira di antara kedua pahanya.Satu
Pintu kamar mandi terbuka, menyemburkan uap hangat yang membawa aroma maskulin khas sabun kayu cendana yang berpadu dengan mint. Wisnutama keluar dengan handuk putih yang melingkar rendah di pinggangnya, memamerkan dada bidangnya yang masih basah oleh sisa bulir air.Rambut hitamnya yang acak-acakan basah meneteskan air, jatuh melewati pelipis dan memberikan kesan liar yang kontras dengan aura otoriter yang biasa ia pancarkan.Maira menunduk dalam-dalam, meremas ujung jubah mandi sutra yang kini membungkus tubuh ringkihnya. Tatapannya tertuju pada jemari kakinya yang terbalut perban bersih, mencoba mengalihkan fokus dari debaran jantungnya yang kian menggila.Wisnu berjalan mendekat tanpa suara. Langkah kakinya yang berat namun tanpa ritme itu berhenti tepat di sisi ranjang. Lalu, meraih handuk kecil dari nakas, mengeringkan rambutnya dengan gerakan santai namun sepasang mata elangnya tidak pernah lepas dari puncak kepala Maira.“Walid sudah menjadwalkan fisioterapis pribadi untuk dat
"Kamu tidak perlu melakukan apa-apa selain tetap berada di bawah pengawasan saya," Wisnu berdiri, tarikan handuk di pinggangnya sedikit bergeser, namun ia tampak abai.Pria itu mencengkeram kedua bahu Maira, memaksa gadis itu untuk duduk tegak dan menatapnya."Dunia luar mungkin menganggapmu hilang
"Diam, Maira. Saya tidak punya waktu untuk menunggu langkahmu yang lambat itu," desis Wisnu sambil terus melangkah masuk menuju lift pribadi.Pria itu segera membawa Maira langsung ke lantai teratas, ke dalam sebuah kamar utama yang luasnya bahkan lebih besar dari seluruh luas apartemen Maira di In
"Profesor... universitas memilih saya," rintih Maira, bingung dengan sikap Wisnu yang tiba-tiba begitu menyeramkan.Wisnu terkekeh gelap, sebuah suara yang membuat bulu kuduk Maira berdiri."Universitasmu tidak pernah mengirimkan mahasiswi secara resmi pada negara untuk riset di kedutaan. Yang mere
"Berhenti menangisi orang lain. Tangisi saja nasibmu setelah ini," ucap pria itu datar."Selamatkan Pak Wisnu!" Maira berteriak, amarah tiba-tiba membakar rasa takutnya.Maira mencoba meraih gagang pintu, namun sistem pengunci otomatis terdengar mengunci lebih rapat."Duduk tenang, atau kami harus







