LOGIN"Bunuh saya, Pak. Bunuh saya, saya mohon," bisik Maira dengan suara parau yang menyayat hati, begitu lirih namun sarat akan penekanan.Wisnu membeku sejenak. Kata-kata itu meluncur dari bibir Maira tanpa ragu sedikit pun, menjadi tamparan tak kasat mata bagi egonya. Pria itu mencengkeram rahang Maira dengan jemari besarnya, menekannya agar Maira tidak bergerak.“Bunuh saya,” lirih lagi Maira.Wisnu melepaskan cengkeramannya dan berdiri tegak, menghela nafas panjang dan meremas rambutnya.“Dokter belum memeriksa dengan jelas terkait kehamilanmu, Maira. Kamu belum tentu mengandung anak saya,” rasa frustasi Wisnu meluap.Sejak Maira diperiksa dan dokter mengatakan kemungkinan itu, Wisnu belum percaya seratus persen. Wisnu hanya suka melihat bagaimana wanita itu panik dan ketakutan, tetapi justru yang dilakukan Maira di luar dari perkiraannya.Wisnu menatap Maira dengan kesal dan menahan amarah karena melukai dirinya sendiri."Dengar baik-baik," bisik Wisnu tepat di depan wajah Maira, sua
"Bagaimana kondisinya?" tanya Wisnu sesaat setelah menutup pintu kamar."Nona Maira sudah menghabiskan makan siangnya dan meminum obat tepat waktu, Tuan," jawab Walid tanpa ragu.Wisnu menyipitkan matanya sedikit, melirik napas Maira yang masih memburu halus dan jejak air mata yang masih basah di pipinya. Pria itu memajukan langkah, menepis jarak di antara mereka hingga berdiri tepat di samping tempat tidur."Kamu menangis lagi?" Wisnu membungkuk, mengulurkan jarinya untuk mengusap air mata di pipi Maira.Sentuhannya dingin, membuat Maira merinding dan refleks memejamkan mata. Wisnu duduk di tepi ranjang, tangannya merayap naik ke tengkuk Maira, memaksanya untuk mendongak sedikit. Wisnu memberi isyarat pada Walid untuk keluar ruangan dengan mengedikkan kepalanya.“Masih pusing atau mual?” tanya Wisnu setelah Walid keluar kamar."Nggak," jawab Maira sangat lirih, hampir tak terdengar.Wisnu mengusap lembut ibu jarinya di garis rahang Maira yang pucat. Manik mata gelapnya meneliti setia
Kamar megah itu telah kembali bersih mengkilap, seolah amarah dan pecahan kaca tidak pernah ada di sana. Dua pengawal bertubuh tegap kini berdiri diam di dalam kamar, menempel di dekat pintu ganda dengan posisi siap siaga, membuat ruang gerak Maira benar-benar mati.Maira dipindahkan kembali ke ranjang oleh pelayan atas perintah Dokter Ibrahim. Ia berbaring miring, menatap lurus ke arah jendela besar yang memperlihatkan lanskap gurun Abu Dhabi yang luas dan membakar.Pintu kamar mendadak terbuka. Langkah kaki yang sangat dihafalnya terdengar melangkah masuk. Wisnu telah berganti pakaian, kini mengenakan kemeja hitam yang digulung hingga siku. Di rahang kirinya, bayangan kemerahan akibat tamparan Maira tadi pagi masih tercetak tipis, namun raut wajahnya seperti biasa.Wisnu berjalan mendekat dan berdiri di samping ranjang, menatap Maira yang bahkan tidak sudi menolehkan kepala ke arahnya."Dokter Ibrahim bilang kamu harus menghabiskan porsi makan siangmu," suara bariton Wisnu terdengar
Napas Maira memburu liar. Rasa mual, ketakutan, dan akumulasi rasa terhina selama berada di bawah ketiak pria ini tiba-tiba meledak menjadi keberanian yang membara. Saat sendok berisi obat sirup itu mendekati bibirnya, Maira tidak lagi memohon.Dengan sisa tenaga dari kemarahan yang memuncak, Maira menghentakkan kedua kakinya, mendorong dada kokoh Wisnu dengan lutut dan kakinya yang terluka tanpa peduli rasa nyeri yang mendadak menusuk.BUGH!Wisnu yang tidak menduga perlawanan fisik seliar itu terdorong ke belakang. Sebelum pria itu sempat menguasai posisinya kembali, Maira memajukan tubuhnya dan mengayunkan tangan kanannya sekuat tenaga.PLAKK!Suara tamparan keras memecah keheningan kamar. Wajah Wisnu terlempar ke samping. Bekas telapak tangan Maira tercetak memerah di rahang kokoh sang Falcon.Tidak berhenti di situ, Maira menyambar botol sirup obat dan nampan berisi bubur di atas meja nakas, lalu melemparnya menghantam dinding di depan Wisnu. Botol kaca itu pecah berkeping-keping
"Saya mengerti. Tinggalkan obat yang diperlukan di meja. Setelah itu, kalian semua boleh keluar," sahut Wisnu pendek."Baik, Tuan. Saya menyertakan sirup pereda lambung dan beberapa vitamin. Mohon pastikan Nona Maira segera mengisi perutnya," Dokter Ibrahim membungkuk hormat, meletakkan beberapa botol obat di samping nampan bubur, lalu melangkah mundur diikuti oleh Walid dan pelayan wanita tersebut.Begitu pintu ganda kamar itu tertutup rapat, keheningan yang mencekam langsung menyelimuti ruangan. Suara badai gurun yang telah reda di luar seolah berpindah ke dalam dada Maira, bergemuruh dalam bentuk ketakutan yang teramat sangat.Wisnu tidak langsung berbicara. Pria itu berbalik perlahan, menatap Maira yang masih terduduk di atas sofa dengan gaun tidurnya yang longgar. Dengan langkah lambat namun pasti, tubuh tinggi besar itu mulai bergerak mendekat, mengikis jarak di antara mereka.Hamil.Satu kata itu menghantam kesadaran Maira hingga runtuh berkeping-keping. Menjadi tawanan di mans
"P-Pak. Tidak perlu membuat apa-apa. Saya... saya hanya ingin tidur lagi," Maira berbisik lirih, jemarinya meremas pelan bahu kekar Wisnu yang telanjang.Wisnu tidak langsung bergerak. Sepasang mata elangnya menatap lurus ke dalam manik mata Maira."Benar tidak mau dibuatkan teh hangat? Pelayan saya selalu menyimpannya di lemari atas," tanya Wisnu lagi, suaranya terdengar serak, bergetar rendah di dekat wajah Maira."Benar, Pak. Air tadi sudah cukup membuat dada saya lega,” Maira menggeleng pelan, seulas senyum tipis yang tulus terukir di bibirnya yang masih sedikit pucat."Baiklah," sahut Wisnu pendek.Pria itu kemudian menegakkan tubuhnya, menjauh dari sandaran meja konter marmer tanpa sedikit pun melonggarkan kuncian lengan kokohnya pada tubuh Maira. Sesampainya di dalam kamar, Wisnu berjalan mendekati ranjang king-size, lalu dengan gerakan pelan menurunkan tubuh mungil itu ke atas kasur berselimut sutra.Wisnu memosisikan tubuh tingginya di belakang si gadis, lalu menarik tubuh Ma
Pintu kamar mandi terbuka, menyemburkan uap hangat yang membawa aroma maskulin khas sabun kayu cendana yang berpadu dengan mint. Wisnutama keluar dengan handuk putih yang melingkar rendah di pinggangnya, memamerkan dada bidangnya yang masih basah oleh sisa bulir air.Rambut hitamnya yang acak-acaka
Maira menelan ludah. “Takut salah,” lanjutnya cepat sebelum keberaniannya runtuh. “Takut mengganggu pekerjaan Bapak. Takut dianggap tidak layak ada di sini.”Itu bukan pembelaan, melainkan sebuah pengakuan yang sarat akan ketakutan. Maira menggenggam erat tangannya di pangkuan dan entah bagaimana m
Maira langsung menyesal telah mengatakan pikiran otaknya. Pria itu menatapnya dengan biasa saja, tapi entah mengapa membuat Maira merinding karena Wisnutama hanya diam. Pria itu memiringkan kepala seolah memastikan bahwa apa yang didengarnya memang benar.“Ma-maksud saya, saya haus dan mau beli- iy
Maira mematung. Kata hukuman meluncur terlalu cepat dari mulut pria itu dan membuat Maira ketakutan. Sial sekali, hari pertama sudah mendapat hukuman saja yang bahkan Maira sendiri pun belum duduk.Wisnutama bersandar ke kursinya, kedua tangan terlipat di atas meja, tatapannya tak bergeser sedikit







