Home / Romansa / Di Balik Pintu Gelap Diplomat / Bab 57 - Labuhan di Dada Penguasa

Share

Bab 57 - Labuhan di Dada Penguasa

Author: Daisy
last update publish date: 2026-06-03 18:09:01

Maira tidak langsung menjawab. Sepasang kelopak matanya terasa teramat berat untuk terbuka, sementara bibirnya hanya mampu mengeluarkan hela napas panjang yang terdengar begitu letih.

“Maira,” panggil Wisnu lagi, kali ini suaranya merendah satu oktav.

Jemari besar Wisnu bergerak perlahan, menyisir helai rambut Maira yang basah oleh keringat dingin, lalu menyelipkannya ke belakang telinga. Telapak tangannya yang hangat kemudian beralih mengusap sisa air mata yang mengering di pipi mungil yang ki
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter

Latest chapter

  • Di Balik Pintu Gelap Diplomat   Bagian 64 - Terlalu Berkuasa

    Maira memejamkan matanya makin rapat, enggan memberikan respons sekecil apa pun. Sentuhan jemari Wisnu di lehernya terasa mencekik, memicu trauma dan rasa mual yang teramat sangat.Wisnu tidak menarik tangannya. Pria itu justru memajukan tubuhnya, merebahkan sebagian badannya di samping Maira, merengkuh pinggang kecil gadis itu dari belakang dan menariknya mendekat hingga tidak ada jarak di antara mereka."Menolak bicara tidak akan mengubah keadaan," bisik Wisnu tepat di belakang telinga Maira.Suaranya terdengar begitu dekat dan mendominasi, sementara sebelah tangannya mengusap perut Maira secara perlahan di balik selimut sutra. Tubuh Maira membeku, karena setiap usapan jemari Wisnu di perutnya terasa seperti menyiksa mentalnya. Air mata yang tadinya sempat mengering kembali menetes membasahi bantal."Pak... tolong..." cicit Maira sangat lirih, suaranya hampir hilang terendam isakan yang ditahannya. "Jangan sentuh saya...""Kenapa?" usapannya di perut Maira terhenti sejenak, digantik

  • Di Balik Pintu Gelap Diplomat   Bagian 63 – Sampel Darah

    "Bunuh saya, Pak. Bunuh saya, saya mohon," bisik Maira dengan suara parau yang menyayat hati, begitu lirih namun sarat akan penekanan.Wisnu membeku sejenak. Kata-kata itu meluncur dari bibir Maira tanpa ragu sedikit pun, menjadi tamparan tak kasat mata bagi egonya. Pria itu mencengkeram rahang Maira dengan jemari besarnya, menekannya agar Maira tidak bergerak.“Bunuh saya,” lirih lagi Maira.Wisnu melepaskan cengkeramannya dan berdiri tegak, menghela nafas panjang dan meremas rambutnya.“Dokter belum memeriksa dengan jelas terkait kehamilanmu, Maira. Kamu belum tentu mengandung anak saya,” rasa frustasi Wisnu meluap.Sejak Maira diperiksa dan dokter mengatakan kemungkinan itu, Wisnu belum percaya seratus persen. Wisnu hanya suka melihat bagaimana wanita itu panik dan ketakutan, tetapi justru yang dilakukan Maira di luar dari perkiraannya.Wisnu menatap Maira dengan kesal dan menahan amarah karena melukai dirinya sendiri."Dengar baik-baik," bisik Wisnu tepat di depan wajah Maira, sua

  • Di Balik Pintu Gelap Diplomat   Bab 62 – Histeris

    "Bagaimana kondisinya?" tanya Wisnu sesaat setelah menutup pintu kamar."Nona Maira sudah menghabiskan makan siangnya dan meminum obat tepat waktu, Tuan," jawab Walid tanpa ragu.Wisnu menyipitkan matanya sedikit, melirik napas Maira yang masih memburu halus dan jejak air mata yang masih basah di pipinya. Pria itu memajukan langkah, menepis jarak di antara mereka hingga berdiri tepat di samping tempat tidur."Kamu menangis lagi?" Wisnu membungkuk, mengulurkan jarinya untuk mengusap air mata di pipi Maira.Sentuhannya dingin, membuat Maira merinding dan refleks memejamkan mata. Wisnu duduk di tepi ranjang, tangannya merayap naik ke tengkuk Maira, memaksanya untuk mendongak sedikit. Wisnu memberi isyarat pada Walid untuk keluar ruangan dengan mengedikkan kepalanya.“Masih pusing atau mual?” tanya Wisnu setelah Walid keluar kamar."Nggak," jawab Maira sangat lirih, hampir tak terdengar.Wisnu mengusap lembut ibu jarinya di garis rahang Maira yang pucat. Manik mata gelapnya meneliti setia

  • Di Balik Pintu Gelap Diplomat   Bagian 61 - Kaca dan Darah Baru

    Kamar megah itu telah kembali bersih mengkilap, seolah amarah dan pecahan kaca tidak pernah ada di sana. Dua pengawal bertubuh tegap kini berdiri diam di dalam kamar, menempel di dekat pintu ganda dengan posisi siap siaga, membuat ruang gerak Maira benar-benar mati.Maira dipindahkan kembali ke ranjang oleh pelayan atas perintah Dokter Ibrahim. Ia berbaring miring, menatap lurus ke arah jendela besar yang memperlihatkan lanskap gurun Abu Dhabi yang luas dan membakar.Pintu kamar mendadak terbuka. Langkah kaki yang sangat dihafalnya terdengar melangkah masuk. Wisnu telah berganti pakaian, kini mengenakan kemeja hitam yang digulung hingga siku. Di rahang kirinya, bayangan kemerahan akibat tamparan Maira tadi pagi masih tercetak tipis, namun raut wajahnya seperti biasa.Wisnu berjalan mendekat dan berdiri di samping ranjang, menatap Maira yang bahkan tidak sudi menolehkan kepala ke arahnya."Dokter Ibrahim bilang kamu harus menghabiskan porsi makan siangmu," suara bariton Wisnu terdengar

  • Di Balik Pintu Gelap Diplomat   Bagian 60 - Tamparan dan Penolakan

    Napas Maira memburu liar. Rasa mual, ketakutan, dan akumulasi rasa terhina selama berada di bawah ketiak pria ini tiba-tiba meledak menjadi keberanian yang membara. Saat sendok berisi obat sirup itu mendekati bibirnya, Maira tidak lagi memohon.Dengan sisa tenaga dari kemarahan yang memuncak, Maira menghentakkan kedua kakinya, mendorong dada kokoh Wisnu dengan lutut dan kakinya yang terluka tanpa peduli rasa nyeri yang mendadak menusuk.BUGH!Wisnu yang tidak menduga perlawanan fisik seliar itu terdorong ke belakang. Sebelum pria itu sempat menguasai posisinya kembali, Maira memajukan tubuhnya dan mengayunkan tangan kanannya sekuat tenaga.PLAKK!Suara tamparan keras memecah keheningan kamar. Wajah Wisnu terlempar ke samping. Bekas telapak tangan Maira tercetak memerah di rahang kokoh sang Falcon.Tidak berhenti di situ, Maira menyambar botol sirup obat dan nampan berisi bubur di atas meja nakas, lalu melemparnya menghantam dinding di depan Wisnu. Botol kaca itu pecah berkeping-keping

  • Di Balik Pintu Gelap Diplomat   Bagian 59 – Ledakan Amarah

    "Saya mengerti. Tinggalkan obat yang diperlukan di meja. Setelah itu, kalian semua boleh keluar," sahut Wisnu pendek."Baik, Tuan. Saya menyertakan sirup pereda lambung dan beberapa vitamin. Mohon pastikan Nona Maira segera mengisi perutnya," Dokter Ibrahim membungkuk hormat, meletakkan beberapa botol obat di samping nampan bubur, lalu melangkah mundur diikuti oleh Walid dan pelayan wanita tersebut.Begitu pintu ganda kamar itu tertutup rapat, keheningan yang mencekam langsung menyelimuti ruangan. Suara badai gurun yang telah reda di luar seolah berpindah ke dalam dada Maira, bergemuruh dalam bentuk ketakutan yang teramat sangat.Wisnu tidak langsung berbicara. Pria itu berbalik perlahan, menatap Maira yang masih terduduk di atas sofa dengan gaun tidurnya yang longgar. Dengan langkah lambat namun pasti, tubuh tinggi besar itu mulai bergerak mendekat, mengikis jarak di antara mereka.Hamil.Satu kata itu menghantam kesadaran Maira hingga runtuh berkeping-keping. Menjadi tawanan di mans

  • Di Balik Pintu Gelap Diplomat   Bagian 4 - Terlambat

    Rasanya ada hawa mengerikan saat menyebut dan mendengar nama pria itu. Wisnutama, Maira tidak menyangka bahwa pria itu begitu besar dengan sorot mata cokelatnya. Maira perkirakan tinggi pria itu 190 an, mengingat ia merasa begitu kecil di hadapannya yang hanya memiliki tinggi 155 cm ini.“Jika Anda

  • Di Balik Pintu Gelap Diplomat   Bagian 3 - Di Bawah Pengawasan Diplomat

    Ruang pertemuan utama benar-benar sesuai ekspektasinya dengan luasnya yang Maira perkirakan seperti dua rumah studionya. Lampu gantung modern memantulkan cahaya ke dinding marmer gading. Sebuah meja panjang dari kayu gelap memisahkan ruangan, ditemani satu set kursi kulit hitam yang tampak lebih c

  • Di Balik Pintu Gelap Diplomat   Bagian 2 - Keberangkatan

    Pagi itu bandara Soekarno–Hatta terasa lebih bising dari biasanya atau mungkin hanya perasaan Maira saja. Trolley-nya berderit pelan ketika ia mendorongnya menuju area keberangkatan internasional, sementara matanya sibuk mencari tanda penerbangan menuju Abu Dhabi. Perutnya terasa seperti diikat sim

  • Di Balik Pintu Gelap Diplomat   Bagian 1 - Riset Abu Dhabi

    Maira sama sekali tidak menyangka bahwa hari ini akan mengubah hidupnya. Ruang dosen itu sepi, hanya ada bunyi AC yang berdengung dan aroma kopi yang baru diseduh. Di meja kerjanya, berkas-berkas menumpuk seperti biasa, tapi ada satu map berlogo universitas yang diletakkan paling atas, seolah senga

More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status