Suasana ruang guru yang tadinya tegang karena kecurigaan, kini berubah menjadi penuh rasa iba sekaligus canggung. Seorang wanita dengan seragam petugas kebersihan berdiri gemetar di samping putrinya—ralat, putranya yang bernama Rafi. Rafi juga bersekolah di sana melalui jalur beasiswa bantuan khusus. Rafi hanya menunduk dalam, tangannya mencengkeram erat sebuah robot kecil yang sangat mewah milik Edo. Di sampingnya, sang ibu tak henti-hentinya membungkuk meminta maaf, wajahnya pias karena takut posisinya di sekolah terancam. “Saya meminta maaf yang sebesar-besarnya Tuan, Nyonya. Saya benar-benar tidak tahu kenapa Rafi bisa senekat ini,” ucap sang ibu dengan suara bergetar. Ia kemudian menyentuh bahu anaknya. “Rafi, kembalikan mainannya ya, Nak? Itu bukan milikmu.” “Nggak mau! Rafi mau mainan ini!” seru Rafi tiba-tiba, suaranya pecah karena tangis yang ditahan. “Tapi itu punya Edo dan Alora, Sayang. Kamu kembalikan ya, nanti Ibu janji akan belikan yang sama untukmu,” bujuk sang ibu
Read more