"Kakak mau ke minimarket dulu, kamu istirahat dulu." Febi mengelus kepala adiknya dengan sayang.Miko menganggukkan kepalanya, walaupun tengah berkabung dengan kepergian ibunya, ia tetap berpikir waras untuk selalu menyayangi kakaknya, hanya kakaknya lah satu-satunya keluarganya sekarang.“Kak… jangan lama-lama, ya.” Suara Miko lirih, serak oleh tangis yang belum benar-benar reda. Bocah itu duduk di tepi kasur dengan mata sembab, memeluk lututnya sendiri seperti sedang menahan dunia agar tidak runtuh lagi.Febi tersenyum tipis. Senyum yang rapuh. Senyum yang dipaksakan tetap hidup meski hatinya sendiri sedang berduka.“Iya, Kakak cuma sebentar.”Ia membungkuk pelan, merapikan poni Miko yang berantakan lalu mengusap kepalanya dengan lembut. “Kalau capek, tidur dulu.”Miko menunduk sesaat sebelum akhirnya berbisik pelan, “Kakak jangan sedih sendirian di luar.”Kalimat itu membuat dada Febi terasa sesak.Rumah kecil itu masih dipenuhi aroma kehilangan. Masih ada jejak tangisan di setiap
最後更新 : 2026-05-02 閱讀更多