Febi menahan napasnya di ujung telepon, jemarinya gemetar seolah menggenggam sesuatu yang terlalu rapuh untuk dipegang, namun terlalu berat untuk dilepaskan. Suara itu akhirnya menyapa—lembut, penuh harap, dan tanpa tahu apa pun tentang badai yang sedang berputar di dada Febi. “Febi… kamu di sana, Nak?” Panggilan itu sederhana, tapi menghantam seperti ombak yang tak pernah ia siapkan. Ada kehangatan di dalamnya, kehangatan yang justru membuat Febi ingin menangis. Betapa tidak adil rasanya—perempuan itu menyapanya dengan kasih, sementara ia berdiri di balik kenyataan yang begitu kotor dan menyakitkan. Febi menutup matanya perlahan, menelan ludah yang terasa seperti duri. Suaranya tercekat di tenggorokan, seperti enggan keluar karena takut membawa luka lebih dalam. “I-iya, Tante…” Hanya dua kata, tapi terasa seperti pengakuan panjang yang tak terucap. Di seberang sana, suara itu kembali mengalun, membawa harapan tentang Samuel, tentang kesembuhan, tentang doa-doa yang tak pe
Última atualização : 2026-04-29 Ler mais