/ Romansa / Sentuhan Pak Dosen: Harga Sebuah IPK / Diktat Tebal dan Mata yang Sembab

공유

Diktat Tebal dan Mata yang Sembab

작가: Tinta Senyap
last update 게시일: 2026-01-06 09:40:47

​Pagi itu, gerbang Universitas Pelita Bangsa terasa jauh lebih tinggi dan mengintimidasi daripada biasanya. Besi-besi hitam yang menjulang kaku itu seolah menjadi mulut raksasa yang siap menelan siapa saja yang berani melintasinya. Langit Depok yang cerah menyengat justru terasa mengejek suasana hati Soraya yang mendung pekat. Matahari bersinar terlalu terang hingga rasanya menelanjangi segala hal yang ingin ia sembunyikan.

​Soraya melangkah masuk dengan kepala tertunduk dalam. Kemeja flanel ko
이 작품을 무료로 읽으실 수 있습니다
QR 코드를 스캔하여 앱을 다운로드하세요
잠긴 챕터

최신 챕터

  • Sentuhan Pak Dosen: Harga Sebuah IPK   Garis Paralel yang Abadi (TAMAT)

    ​Enam tahun kemudian. ​Wajah Jakarta telah berubah. Gedung-gedung pencakar langit baru bermunculan seperti jamur di musim hujan, jalan tol semakin bertingkat meliuk-liuk di angkasa, dan denyut kota metropolitan ini terasa semakin cepat. Namun, di tengah perubahan yang konstan dan bising itu, ada satu hal yang tetap tidak berubah. Sebuah rutinitas sunyi setiap hari Jumat siang di sebuah unit apartemen di Kuningan. ​Soraya berdiri di depan cermin besar di kamar tidurnya. Dia menatap pantulan dirinya sendiri dengan kritis namun damai. Sehelai uban perak mulai terlihat samar di antara rambut hitamnya yang kini dipotong pendek sebahu. Gaya rambut ini jauh lebih praktis untuk seorang Dekan Fakultas Ekonomi yang sibuk sepertinya. ​Ada kerutan halus yang mulai muncul di sudut matanya. Itu adalah jejak dari ribuan jam yang dihabiskan untuk membaca data, mengajar mahasiswa, dan menahan tawa atau tangis selama bertahun-tahun. ​Usianya sudah menginjak 44 tahun. ​Dia masih sendiri. Setida

  • Sentuhan Pak Dosen: Harga Sebuah IPK   Arsitektur Dua Dunia

    ​Jumat siang di Jakarta Selatan. Hujan deras mengguyur kota tanpa ampun, menciptakan kemacetan panjang di jalan-jalan protokol. Suara klakson dan deru mesin samar-samar terdengar dari kejauhan, teredam oleh ketebalan kaca jendela apartemen lantai 35. ​Namun, di dalam unit apartemen Soraya, dunia terasa berbeda. Suasana begitu tenang, hangat, dan melambat. Aroma lilin vanilla bercampur dengan bau hujan yang lembab menciptakan kepompong kenyamanan yang membuai. ​Gilang berbaring di sofa panjang ruang tengah. Kepalanya berbantalkan paha Soraya yang terasa empuk. Matanya terpejam rapat, nafasnya teratur naik-turun. Dia tidak sedang tidur, hanya sedang melakukan ritual mingguannya: mengistirahatkan pikiran dari hiruk-pikuk dunia konstruksi, tuntutan klien yang rewel, dan tentu saja, sandiwara rumah tangga yang melelahkan. ​Soraya duduk bersandar dengan nyaman. Satu tangannya memegang tablet, membaca berita ekonomi global tentang fluktuasi pasar saham Asia, sementara tangan lainnya berger

  • Sentuhan Pak Dosen: Harga Sebuah IPK   Cincin Berlian yang Ditolak

    ​Sejak malam ulang tahun Gilang yang penuh dosa dan kejujuran itu, rutinitas mereka kini terbentuk seperti mekanisme jam tangan buatan Swiss. Semuanya berjalan presisi, tersembunyi, dan sangat efisien. ​Soraya menjalani hari-harinya sebagai Profesor yang dihormati di kampus, mengajar mahasiswa dengan wajah tegak dan berwibawa. Gilang menjalani harinya sebagai Arsitek sukses dan Ayah teladan bagi ketiga anaknya. Namun, di sela-sela dua kehidupan yang tampak sempurna itu, ada celah waktu sempit yang mereka curi. Sebuah celah di mana mereka bisa menjadi "suami-istri" bayangan di apartemen Kuningan. ​Malam ini, rutinitas itu sedikit terganggu. Soraya tidak berada di apartemennya menunggu Gilang. Dia sedang duduk di restoran View di Fairmont Hotel, mengenakan gaun malam berwarna navy yang sopan namun membalut tubuhnya dengan elegan. ​Di hadapannya, duduk Pak Prasetyo. Pria itu adalah duda tanpa anak, seorang diplomat senior yang baru saja pulang dari penempatan di Eropa. Dia juga tema

  • Sentuhan Pak Dosen: Harga Sebuah IPK   Potongan Kue

    ​Ulang tahun ke-38 Gilang dirayakan dengan meriah di rumah Bintaro. Amara, sebagai istri yang berbakti dan citra sempurna dari sebuah keluarga bahagia, menggelar pesta kebun di halaman belakang rumah mereka.​Balon-balon berwarna emas dan hitam menghiasi taman. Meja prasmanan penuh dengan makanan katering mahal, dan tamu-tamu, mulai dari rekan bisnis, kerabat, hingga tetangga, tumpah ruah memberikan selamat.​"Selamat ulang tahun, Sayang." Amara mencium pipi Gilang di depan semua orang saat sesi pemotongan kue.​Wanita itu tersenyum lebar, memegang pisau kue bersama suaminya. Kamera fotografer sewaan mengabadikan momen itu. Cekrek.​Gilang tersenyum. Sebuah senyum yang sudah dia latih di depan cermin selama berbulan-bulan. Senyum "Suami Bahagia".​"Makasih, Ra," jawab Gilang.​Dia memotong kue tart cokelat itu, memberikan suapan pertama pada Amara, lalu pada Naya, Juna, dan si bungsu Kania. Tepuk tangan membahana. Musik akustik mengalun. Semua orang tertawa.​Akan tetapi, di dalam kep

  • Sentuhan Pak Dosen: Harga Sebuah IPK   Ritual Jumat Siang

    Enam Bulan Kemudian. Jumat, pukul 11.45 WIB. Apartemen Soraya di lantai 35 kawasan Kuningan itu sudah wangi. Kali ini, bukan wangi parfum mahal atau lilin aromaterapi lavender yang biasanya menyambut tamu. Ruangan itu dipenuhi aroma masakan rumahan yang menggugah selera. Aroma serai, daun jeruk, dan kemangi menguar dari dapur, bercampur dengan uap nasi panas yang baru matang. Di atas meja makan, sudah tersaji menu spesial. Ikan kuah kuning yang segar, tumis bunga pepaya dengan cakalang suwir, dan sambal dabu-dabu yang pedas menggigit. Ini adalah menu Manado, request khusus dari satu-satunya "tamu" yang Soraya miliki dalam hidupnya saat ini. Soraya menata meja makan dengan gerakan efisien namun anggun. Dia meletakkan piring keramik putih, gelas berisi air dingin, dan melipat serbet kain dengan rapi. Hari ini, dia tidak mengenakan blazer kaku atau rok pensil seperti biasanya saat dia berdiri di depan mahasiswa atau pejabat kementerian. Dia mengenakan dress santai berbahan katun ber

  • Sentuhan Pak Dosen: Harga Sebuah IPK   Vonis Tanpa Palu Hakim

    Malam itu, langit Bintaro gelap tanpa bintang. Gilang pulang ke rumah dengan langkah yang diseret, seolah ada beban besi ribuan kilo di kakinya. Di lehernya, masih terikat dasi Hermes baru pemberian Amara. Dasi sutra yang mahal dan halus itu kini terasa mencekik, seperti tali gantungan yang perlahan mengetat setiap detiknya. Dia membuka pintu rumah. Hening. Tidak ada suara TV, tidak ada celoteh Naya, tidak ada tangisan Juna. Lampu ruang tamu menyala redup, menciptakan bayangan-bayangan panjang yang menakutkan di dinding. Di sana, di sofa tunggal favoritnya, Amara duduk membelakangi pintu masuk. Dia tidak sedang menonton, tidak sedang membaca buku, juga tidak sedang bermain ponsel. Dia hanya duduk diam seperti patung, menatap meja kopi kaca di hadapannya. "Assalamualaikum," sapa Gilang pelan. Suaranya terdengar asing di telinganya sendiri. "Waalaikumsalam," jawab Amara tanpa menoleh sedikit pun. Suaranya tenang. Terlalu tenang. Ketenangan itu justru membuat bulu kuduk Gilang mere

  • Sentuhan Pak Dosen: Harga Sebuah IPK   Batas Suci di Ruang Tunggu

    Bau antiseptik yang tajam di IGD RS Hasan Sadikin Bandung membangkitkan memori lama Soraya. Memori saat dia menunggu operasi Dimas bertahun-tahun lalu. Bedanya, dulu dia menunggu dengan putus asa karena tidak punya uang. Sekarang, dia menunggu dengan uang yang melimpah di rekening, namun dengan hat

  • Sentuhan Pak Dosen: Harga Sebuah IPK   Remuk di Tepi Jurang

    Jalanan Dago Pakar yang berkelok curam menjadi sirkuit maut siang itu. Kabut tipis yang mulai turun menambah licin aspal, namun dua mobil SUV melaju seolah sedang mengejar setan.Di depan, Mitsubishi Pajero Sport putih milik Gilang membelah jalan dengan kecepatan yang tidak masuk akal untuk jalanan

  • Sentuhan Pak Dosen: Harga Sebuah IPK   Surat Kuasa dan Pedal Gas

    ​Sinar matahari pagi menusuk masuk melalui dinding kaca kantor GP Architects, membangunkan Gilang dari tidur ayamnya yang gelisah. Kepalanya terasa berat, sisa alkohol semalam masih berdenyut di pelipis. Mulutnya terasa pahit. ​Gilang bangun, duduk di tepi sofa kulit. Dia mengusap wajahnya yang be

  • Sentuhan Pak Dosen: Harga Sebuah IPK   Pelarian di Ruang Kerja

    Dari Perpustakaan Nasional, Gilang beranjak meluncur ke Gedung kantor GP Architects di Jakarta Selatan yang berdiri gelap dan sunyi, menjulang seperti monumen kesepian di tengah kota yang tak pernah benar-benar tidur. Jam digital di dinding lobi menunjukkan pukul dua dini hari. Seluruh staf sudah p

더보기
좋은 소설을 무료로 찾아 읽어보세요
GoodNovel 앱에서 수많은 인기 소설을 무료로 즐기세요! 마음에 드는 작품을 다운로드하고, 언제 어디서나 편하게 읽을 수 있습니다
앱에서 작품을 무료로 읽어보세요
앱에서 읽으려면 QR 코드를 스캔하세요.
DMCA.com Protection Status