Hujan di luar dinding kaca telah reda, menyisakan jejak air yang merayap turun seperti air mata raksasa di permukaan gedung. Di dalam ruangan kerja sementara itu, waktu seolah membeku, memerangkap dua jiwa yang tersesat di antara garis hitam arang dan kulit putih.Gilang mundur selangkah. Tangannya yang kotor menggantung di sisi tubuh. Dia menatap Soraya yang masih bersandar di meja gambar, dengan jejak jari-jarinya yang tertinggal di leher dan lengan wanita itu. Jejak hitam di atas kulit porcelain itu terlihat kontras, seperti dosa yang tertulis di atas kesucian."Gue harus bersihin ini," bisik Gilang. Suaranya parau, berat oleh emosi yang tertahan di tenggorokan.Dia berjalan ke wastafel di sudut ruangan, membasahi sapu tangan miliknya. Dia kembali, berdiri di hadapan Soraya. Dengan gerakan yang sangat pelan, seolah takut melukai, Gilang mulai menyeka noda arang di leher Soraya. Kain basah yang dingin bertemu dengan kulit yang panas."Sakit?" tanya Gilang lirih.Soraya menggel
Last Updated : 2026-01-30 Read more