Pukul sepuluh pagi di hari Sabtu, Andrew sudah menjemput Bricia di rumahnya. Tatapan sinis Eric masih bisa ia rasakan, tapi Andrew memilih tak memedulikannya lagi. Ia tahu, itu hanya cara Eric mempertahankan gengsinya. Begitu Bricia keluar dari kamarnya, Andrew langsung bangkit dari duduknya. Senyum lebarnya menyambut perempuan itu. “Sebenarnya mau ke mana sih, Om?” tanya Bricia. “Jalan-jalan saja. Sudah lama kayaknya kita nggak pergi berdua.” “Tapi ini kan siang-siang. Memangnya mau ke mana? Nggak keluar kota, kan?” Andrew menggeleng. “Nggak. Masih di sekitar Jakarta. Ayo, nanti keburu siang.” Akhirnya Bricia menurut. Namun sebelum itu, ia berjalan ke meja makan untuk berpamitan pada Eric dan Louisa. “Bri pergi dulu, Pa, Mom.” Bricia mencium pipi kedua orang tersebut. “Hati-hati di jalan,” ujar Louisa sambil menatap Andrew. Sementara Eric sama sekali tak menatap Andrew. Namun satu kalimat peringatan tetap keluar dari bibirnya. “Jagain benar-benar. Kalau putriku lecet, aku
Read more