LOGINPernikahan Feli akan dilangsungkan satu bulan lagi. Setelah kelahiran Erlio, persiapan benar-benar dikebut. Semua terasa lebih cepat mulai dari konsep acara, dekorasi, hingga detail kecil lainnya. WO bahkan sudah merampungkan banyak hal, termasuk undangan yang kini sudah selesai dicetak dalam waktu satu bulan ini. Dan siang ini, Feli dan Harry menjalani fitting baju untuk pertama kalinya. Suasana butik terasa cukup ramai, beberapa asisten desainer hilir mudik menyiapkan kebutuhan. Beberapa pengunjung butik juga terlihat memenuhi butik itu. Mungkin karena hari ini akhir pekan, sehingga menjadi waktu yang pas untuk sekadar fitting atau membeli pakaian. Feli berdiri di depan cermin besar, gaun yang masih disematkan jarum di beberapa sisi itu membalut tubuhnya dengan pas. Ia menatap bayangannya sendiri cukup lama. “Gimana?” tanya salah satu staf. Feli belum langsung menjawab. Matanya masih fokus pada pantulan dirinya. Matanya meneliti dari ujung dress sampai area bahu. Di sisi l
Kehadiran Erlio benar-benar membawa warna baru dalam keluarga Eric. Semua orang menyambutnya dengan penuh sukacita, tak terkecuali Bricia dan Feli. Bahkan setelah kepulangan mereka dari rumah sakit, selama seminggu penuh, mereka memilih menginap di rumah Eric. Retno pun ikut serta dengan senang hati. Pengalamannya sangat membantu, terutama untuk Louisa yang masih beradaptasi merawat bayi. Ia tak segan memberi tips, mulai dari cara menggendong yang benar, menenangkan tangisan, hingga menjaga pola istirahat. Hari-hari itu terasa hangat. Rumah yang biasanya tenang, kini pun selalu ramai. Tangis bayi, tawa, obrolan ringan, hingga candaan kecil, semuanya bercampur menjadi satu. Dan di tengah semua itu, Erlio menjadi pusat kebahagiaan yang tak pernah sepi dari perhatian. Seperti pagi ini, Feli masih belum beranjak dari sisi kasur Erlio, padahal Harry sudah menunggu di ruang tamu. Mereka berencana berangkat ke kafe bersama. Sementara itu, sejak kabar kehamilan Bricia diketahui, Andre
Lampu di depan ruang operasi masih belum padam. Sejak tadi, Eric berdiri di sana tanpa banyak bergerak. Wajahnya tegang, tangannya sesekali mengepal lalu kembali terbuka menahan cemas yang tak bisa ia sembunyikan. Tak lama, Bricia dan yang lain ikut bergabung. Bricia duduk di atas kursi roda, didorong pelan oleh Andrew agar tetap aman. Feli berdiri di sampingnya, sementara Harry sedikit menjauh, dan memberi ruang tapi tetap siaga. Semua mata tertuju pada satu pintu itu. Hingga akhirnya, pintu ruang operasi terbuka. Seorang perawat keluar sambil mendorong boks bayi. Tangis nyaring langsung memenuhi lorong, dan memecah sunyi yang sejak tadi menggantung. Semua orang refleks menoleh. Eric melangkah cepat mendekat, matanya langsung tertuju pada bayi kecil di dalam boks itu. “Selamat, Pak,” ucap perawat dengan senyum hangat. “Anaknya laki-laki.” Napas Eric seakan terlepas saat itu juga. Matanya memerah, dan tak lagi mampu menahan emosi yang sejak tadi ia pendam. “L-louis
“Ha-mil?” ulang Bricia, suaranya berbisik lirih. Matanya berkaca-kaca saat menatap Andrew. “Dad… ini?” Andrew ikut menatapnya. Matanya memerah, tangannya bahkan mulai gemetar. Ia sendiri belum sepenuhnya percaya dengan apa yang baru saja ia dengar. “Dok… ini benar?” tanyanya, memastikan sekali lagi. Dokter itu mengangguk. “Betul, Pak Andrew. Ini hasil pemeriksaannya.” Sebuah map diberikan. Andrew menerimanya dengan tangan yang masih sedikit bergetar. Ia membuka lembar demi lembar, hingga akhirnya berhenti pada hasil utama yang tertulis jelas di sana menyatakan Bricia hamil. Napas Andrew tertahan. Dadanya terasa penuh dalam sekejap. Tanpa berpikir panjang, ia langsung membungkuk dan memeluk Bricia erat. Tangisnya pecah begitu saja tanpa ditahan lagi atau pun disembunyikan seperti biasanya. “Thank you, Baby. You’ve given me something truly special,” bisiknya lirih di bahu istrinya. Bricia ikut menangis. Tangannya memeluk balik tubuh Andrew sama eratnya. Tak ada kata lain yang
Dua mobil keluar hampir bersamaan dari kediaman Eric. Mobil pertama diisi Louisa yang kini sudah mulai meringis menahan kontraksi yang mulai datang, didampingi Feli yang terus menggenggam tangannya. Eric berada di balik kemudi, fokus penuh menatap jalanan di depan. Sementara di mobil kedua, Harry mengambil alih setir. Andrew duduk di kursi penumpang dan memangku tubuh Bricia yang masih tak sadarkan diri. Tangannya tak berhenti menepuk pelan pipi istrinya, dan berusaha memancing respons Bricia. “Bri… bangun, Baby… jangan bikin aku takut,” bisiknya panik. Namun Bricia tetap diam. Belum menunjukkan bahwa ia akan segera sadar. Kedua mobil itu pun melaju cukup cepat membelah jalanan. Klakson dibunyikan berulang kali, meminta kendaraan lain memberi jalan. Di mobil depan, Feli tak henti-hentinya menenangkan Louisa. Meski sebenarnya ia sedang mencoba menenangkan dirinya sendiri karena rasa khawatir terhadap Louisa dan Bricia. “Napas, Mom… tarik napas… pelan-pelan…” ucapnya, meski sua
Kehidupan terus berlalu. Selepas kepulangan Andrew dan Bricia dari bulan madu di Maldives, semuanya kembali berjalan seperti semula atau setidaknya terlihat seperti itu di permukaan. Hari-hari kembali dipenuhi rutinitas. Andrew kembali sibuk dengan pekerjaannya, sementara Bricia mulai menyesuaikan diri dengan peran barunya sebagai istri. Meski ia juga masih tetap bekerja untuk mengisi waktu. Namun di balik kesibukan itu, ada hal-hal kecil yang berubah. Cara Andrew yang kini selalu menyempatkan pulang lebih cepat. Cara Bricia yang tanpa sadar mulai lebih memperhatikan hal-hal sederhana di rumah. Dan kebiasaan baru mereka berbagi cerita sebelum tidur, meski hanya sebentar. Tak ada yang benar-benar berbeda, tapi semuanya terasa lebih utuh. Siang ini, tepat di akhir pekan, suasana kediaman Eric tampak lebih ramai dari biasanya. Semua orang berkumpul, duduk melingkar di ruang tamu dengan obrolan yang cukup serius yaitu membahas rencana pernikahan Feli dan Harry. Sudah lewat dari ti
Siang harinya, Andrew sengaja mengajak Eric dan Bricia makan siang. Ia ingin menyampaikan satu hal penting tentang siapa peneror Bricia dan alasan di balik semuanya. Meski ia yakin, Eric sudah punya gambaran akan hal itu. Karena jarak kafe Andrew cukup jauh dari kantor Eric dan Bricia, ia memilih
“Ada yang ingin kalian sampaikan, Pak Romi? Ibu Risa?” Nada suara Eric terdengar tegas dan penuh tekanan. Tatapannya lurus mengarah pada Romi dan Risa, lalu bergeser sekilas ke Gerry yang duduk dengan kepala tertunduk. Saat ini mereka berada di kantor polisi. Eric duduk berdampingan dengan Bric
Setelah cukup lama kepergian Eric dan Louisa, Bricia akhirnya beranjak dari rebahannya. Ia mandi, lalu segera berganti pakaian. Ia sudah berjanji untuk menjenguk Feli, bahkan Louisa telah menyiapkan makanan yang akan dibawa ke kosan sahabatnya itu. Setelah semuanya beres, Bricia langsung memesan t
Tubuh Andrew menegang sepersekian detik. Bocah kecil di gendongannya masih memeluk lehernya, tak menyadari perubahan suasana yang mendadak canggung. Andrew hendak menurunkan Chelsea, tapi bocah itu justru makin mengeratkan pelukannya di lehernya. Sementara itu, Eric sudah menghentikan gerakan ma







