LOGINHari kelima di Maldives terasa berbeda. Tak ada lagi agenda panjang, atau rencana ke sana-sini yang melelahkan. Semuanya berjalan lebih santai seolah mereka sama-sama sadar, ini adalah hari terakhir sebelum kembali ke realita. Pagi itu, Bricia duduk di ujung deck villa mereka, kakinya menjuntai menyentuh permukaan laut yang jernih. Angin berhembus pelan, memainkan rambutnya yang tergerai bebas. Andrew keluar dari dalam kamar dengan dua gelas jus di tangan. Ia berjalan mendekat, lalu duduk di samping Bricia. “Udah bangun dari tadi?” tanyanya sambil menyerahkan satu gelas. Bricia mengangguk. “Nggak bisa tidur lagi.” Setelah menghabiskan malam panas seperti malam sebelumnya, Andrew memang tertidur kembali. Sementara Bricia, tidak. Andrew menatap istrinya sekilas, lalu ikut mengarahkan pandangan ke hamparan laut di depan mereka. “Kenapa, sepertinya wajahmu sedikit muram?” “Nggak terasa besok pulang, dan harus ninggalin tempat ini,” jawab Bricia singkat. Andrew tersenyum kecil. “
Harry masih berada di balik kemudi setelah keluar dari bangunan yang mengurung Yosi. Ia terdiam cukup lama, membiarkan pikirannya berkelindan tanpa arah. Sebenarnya, ada rasa tak tega membayangkan segala kemungkinan yang akan menjerat Yosi ke depannya. Tapi di sisi lain, ia tahu… ia harus membulatkan tekad demi kehidupan Feli yang lebih tenang dan aman. Ia menarik napas dalam beberapa kali, mencoba menenangkan diri. Hingga perlahan, semuanya mulai terasa lebih stabil, Harry akhirnya menyalakan mesin mobilnya. Hari ini, ia masih punya tanggung jawab. Ia harus mengontrol kafe dan klub milik Andrew selama lelaki itu pergi berbulan madu. Mobil Harry kembali melaju, meninggalkan area itu dengan kecepatan stabil. Jalanan Jakarta siang itu cukup padat, tapi tak sampai membuatnya terjebak terlalu lama. Pikirannya perlahan beralih. Dari pertemuannya dengan Yosi ke tanggung jawab yang kini ada di tangannya. Ia sendiri sudah meyakini bahwa itu pertemuan terakhir dengan ayah Feli, dan set
Meninggalkan pasangan pengantin baru yang sedang berbulan madu, di Jakarta mobil Harry sedang menuju ke tempat Yosi ditahan saat ini. Ia berniat menemui ayah Feli itu untuk meminta restu menikahi Feli secepat mungkin. Mobilnya membelah pelan jalanan ibukota, lalu setelah beberapa menit berkendara, akhirnya berhenti di depan bangunan dengan penjagaan ketat. Harry turun tanpa banyak ekspresi. Tangannya merapikan kemejanya sekilas sebelum melangkah masuk. Prosedur demi prosedur ia lewati. Dari pemeriksaan hingga pencatatan identitas, semuanya berjalan tanpa hambatan, namun cukup membuat suasana terasa kaku dan dingin. Tak lama, seorang petugas mengarahkannya ke ruang kunjungan. Ruangan itu sederhana. Sebuah meja panjang memisahkan dua sisi, dengan beberapa kursi yang saling berhadapan. Seorang petugas berdiri di sudut ruangan, dan mengawasi setiap pergerakan yang terjadi. Harry duduk lebih dulu. Beberapa detik kemudian berlalu hingga akhirnya pintu di sisi lain terbuka. Da
Malam datang perlahan, membawa suasana yang jauh berbeda dari siang tadi. Langit di atas Maldives tampak lebih gelap, namun justru dihiasi bintang-bintang yang mulai bermunculan satu per satu. Suara ombak terdengar lebih jelas, berpadu dengan hembusan angin laut yang lembut menyelinap masuk dari celah-celah villa. Lampu-lampu kecil di sepanjang jembatan kayu menyala hangat, menciptakan garis cahaya yang indah di atas permukaan laut. Sementara di depan villa Andrew dan Bricia, sebuah meja sudah tertata rapi di area outdoor menghadap langsung ke hamparan laut luas yang kini hanya diterangi cahaya bulan dan lampu temaram. Bricia yang baru selesai berganti pakaian keluar perlahan. Ia mengenakan dress tipis berwarna lembut, rambutnya tergerai alami, dan wajahnya tampak jauh lebih rileks dibanding beberapa hari terakhir. Langkahnya terhenti begitu melihat suasana di depan. “Dad…” gumamnya pelan. Andrew yang sudah lebih dulu berdiri di sana menoleh, lalu tersenyum melihat reaksi itu.
Pagi ini datang dengan tenang. Langit Bali masih bersih, matahari baru naik perlahan dan menyinari halaman villa dengan cahaya lembut yang hangat. Sisa-sisa dekorasi semalam masih terlihat, beberapa bunga mulai layu, namun justru menambah kesan bahwa malam yang indah benar-benar telah terjadi. Di depan villa, sebuah mobil sudah terparkir rapi. Andrew dan Bricia berdiri di sampingnya, keduanya tampil lebih santai dibanding malam sebelumnya. Bricia mengenakan dress ringan dengan rambut yang dibiarkan terurai alami, sementara Andrew terlihat sederhana namun tetap rapi seperti biasa. Di hadapan mereka, Eric, Louisa, Feli, dan Harry berdiri untuk mengantar kepergian keduanya. “Buru-buru banget sih perginya,” gumam Feli sambil melipat tangan di depan dada, meski jelas raut wajahnya tak benar-benar kesal. “Biar nggak diganggu sama kalian,” sahut Andrew diiringi tawa kecil. “Enak aja,” timpal Feli cepat. “Siapa juga yang suka ganggu.” Semua tertawa kecil. Suasana hangat itu perlahan
Langit malam tampak cerah. Meski tak terlalu banyak bintang gemerlap, namun cahaya bulan separuh mampu menambah syahdu malam perayaan pernikahan Andrew dan Bricia. Area pantai yang sejak siang digunakan untuk pemberkatan kini telah berubah wajah. Lampu-lampu gantung dan rangkaian string lights menyala hangat, membentang di atas area makan seperti kanopi cahaya yang berkelip lembut. Meja panjang dihiasi bunga putih dan lilin-lilin kecil yang menari pelan tertiup angin laut. Para tamu mulai berdatangan dan mengisi kursi mereka. Suara tawa, percakapan ringan, serta denting gelas yang saling bersentuhan menciptakan suasana hangat yang berbeda dari siang tadi yang penuh haru. Tak lama kemudian, Andrew dan Bricia muncul dari arah villa. Gaun putih yang dikenakan Bricia kini tampak semakin bersinar di bawah cahaya lampu. Bentuknya lebih simpel di banding tadi siang, tapi tetap terlihat elegan. Sementara Andrew yang berjalan di sampingnya tak pernah melepaskan genggaman tangannya. Bebera
Pagi harinya, bahkan sebelum matahari muncul, kediaman Eric sudah diliputi kepanikan. Louisa muntah-muntah sejak pukul empat pagi. Suara muntahnya membuat seisi rumah terbangun. Eric adalah orang yang paling kalang kabut. Namun setiap kali ia mencoba mendekat, Louisa justru semakin mual dan tak s
Proses pemakaman Annette berlangsung khidmat. Peti jenazahnya diturunkan perlahan, diiringi derai air mata yang jatuh tanpa suara. Kehilangan itu nyata, namun sebelum berangkat ke pemakaman, keluarga sudah lebih dulu sepakat untuk belajar mengikhlaskan, meski perih masih tertinggal di benak mereka.
Dua hari berlalu dengan ketenangan. Rencana Bricia untuk ikut ke dokter kandungan pun terpaksa ditunda. Bukan tanpa alasan, ia harus menemui psikiater lebih dulu untuk mengontrol gejala panik yang kembali muncul beberapa hari lalu. Meski kondisinya perlahan membaik, dokter tetap menyarankan Brici
Suasana restoran keluarga di dekat bengkel milik Gerry malam itu tampak ramai. Bukan restoran mewah, hanya tempat makan sederhana yang biasa dipenuhi keluarga kelas menengah yang ingin menikmati waktu bersama tanpa banyak formalitas. Di antara deretan meja yang terisi, di pojok ruangan terlihat Ge







