Home / Romansa / Tergoda Teman Papa / Hukuman setimpal

Share

Hukuman setimpal

Author: ORI GAMII
last update publish date: 2026-03-06 17:40:35
Tepat pukul tujuh pagi, Bricia dan Andrew sudah kembali lagi ke rumah sakit. Tadi malam, keduanya dipaksa pulang oleh Feli dan Harry.

Bukan karena mereka tidak mengerti rasa khawatir keduanya, tapi kamar rawat inap itu tak terlalu nyaman jika dipenuhi terlalu banyak orang. Jadi, dengan berat hati Bricia dan Andrew akhirnya pulang untuk beristirahat di rumah.

"Selamat pagi..." sapa Bricia begitu membuka pintu.

Retno dan Harry sudah bangun dan duduk di sofa.

Andrew menyusul di belakang Bri
Continue to read this book for free
Scan code to download App
Locked Chapter
Comments (6)
goodnovel comment avatar
Marimar
daripada merusak kebahagiaan Fely dan bu retno
goodnovel comment avatar
BunNa
syukurlah Yosi dpt hukuman yg setimpal
goodnovel comment avatar
Fitri Fawaz
udah 3 kali buka pintu tutup lagi kirain udah up ehh blm..... semangat kak ORI ......
VIEW ALL COMMENTS

Latest chapter

  • Tergoda Teman Papa    Hamil

    Dua mobil keluar hampir bersamaan dari kediaman Eric. Mobil pertama diisi Louisa yang kini sudah mulai meringis menahan kontraksi yang mulai datang, didampingi Feli yang terus menggenggam tangannya. Eric berada di balik kemudi, fokus penuh menatap jalanan di depan. Sementara di mobil kedua, Harry mengambil alih setir. Andrew duduk di kursi penumpang dan memangku tubuh Bricia yang masih tak sadarkan diri. Tangannya tak berhenti menepuk pelan pipi istrinya, dan berusaha memancing respons Bricia. “Bri… bangun, Baby… jangan bikin aku takut,” bisiknya panik. Namun Bricia tetap diam. Belum menunjukkan bahwa ia akan segera sadar. Kedua mobil itu pun melaju cukup cepat membelah jalanan. Klakson dibunyikan berulang kali, meminta kendaraan lain memberi jalan. Di mobil depan, Feli tak henti-hentinya menenangkan Louisa. Meski sebenarnya ia sedang mencoba menenangkan dirinya sendiri karena rasa khawatir terhadap Louisa dan Bricia. “Napas, Mom… tarik napas… pelan-pelan…” ucapnya, meski sua

  • Tergoda Teman Papa    Panik

    Kehidupan terus berlalu. Selepas kepulangan Andrew dan Bricia dari bulan madu di Maldives, semuanya kembali berjalan seperti semula atau setidaknya terlihat seperti itu di permukaan. Hari-hari kembali dipenuhi rutinitas. Andrew kembali sibuk dengan pekerjaannya, sementara Bricia mulai menyesuaikan diri dengan peran barunya sebagai istri. Meski ia juga masih tetap bekerja untuk mengisi waktu. Namun di balik kesibukan itu, ada hal-hal kecil yang berubah. Cara Andrew yang kini selalu menyempatkan pulang lebih cepat. Cara Bricia yang tanpa sadar mulai lebih memperhatikan hal-hal sederhana di rumah. Dan kebiasaan baru mereka berbagi cerita sebelum tidur, meski hanya sebentar. Tak ada yang benar-benar berbeda, tapi semuanya terasa lebih utuh. Siang ini, tepat di akhir pekan, suasana kediaman Eric tampak lebih ramai dari biasanya. Semua orang berkumpul, duduk melingkar di ruang tamu dengan obrolan yang cukup serius yaitu membahas rencana pernikahan Feli dan Harry. Sudah lewat dari ti

  • Tergoda Teman Papa    Pulang

    Hari kelima di Maldives terasa berbeda. Tak ada lagi agenda panjang, atau rencana ke sana-sini yang melelahkan. Semuanya berjalan lebih santai seolah mereka sama-sama sadar, ini adalah hari terakhir sebelum kembali ke realita. Pagi itu, Bricia duduk di ujung deck villa mereka, kakinya menjuntai menyentuh permukaan laut yang jernih. Angin berhembus pelan, memainkan rambutnya yang tergerai bebas. Andrew keluar dari dalam kamar dengan dua gelas jus di tangan. Ia berjalan mendekat, lalu duduk di samping Bricia. “Udah bangun dari tadi?” tanyanya sambil menyerahkan satu gelas. Bricia mengangguk. “Nggak bisa tidur lagi.” Setelah menghabiskan malam panas seperti malam sebelumnya, Andrew memang tertidur kembali. Sementara Bricia, tidak. Andrew menatap istrinya sekilas, lalu ikut mengarahkan pandangan ke hamparan laut di depan mereka. “Kenapa, sepertinya wajahmu sedikit muram?” “Nggak terasa besok pulang, dan harus ninggalin tempat ini,” jawab Bricia singkat. Andrew tersenyum kecil. “

  • Tergoda Teman Papa    Tak ada lagi pengganggu

    Harry masih berada di balik kemudi setelah keluar dari bangunan yang mengurung Yosi. Ia terdiam cukup lama, membiarkan pikirannya berkelindan tanpa arah. Sebenarnya, ada rasa tak tega membayangkan segala kemungkinan yang akan menjerat Yosi ke depannya. Tapi di sisi lain, ia tahu… ia harus membulatkan tekad demi kehidupan Feli yang lebih tenang dan aman. Ia menarik napas dalam beberapa kali, mencoba menenangkan diri. Hingga perlahan, semuanya mulai terasa lebih stabil, Harry akhirnya menyalakan mesin mobilnya. Hari ini, ia masih punya tanggung jawab. Ia harus mengontrol kafe dan klub milik Andrew selama lelaki itu pergi berbulan madu. Mobil Harry kembali melaju, meninggalkan area itu dengan kecepatan stabil. Jalanan Jakarta siang itu cukup padat, tapi tak sampai membuatnya terjebak terlalu lama. Pikirannya perlahan beralih. Dari pertemuannya dengan Yosi ke tanggung jawab yang kini ada di tangannya. Ia sendiri sudah meyakini bahwa itu pertemuan terakhir dengan ayah Feli, dan set

  • Tergoda Teman Papa    Harry vs Yosi

    Meninggalkan pasangan pengantin baru yang sedang berbulan madu, di Jakarta mobil Harry sedang menuju ke tempat Yosi ditahan saat ini. Ia berniat menemui ayah Feli itu untuk meminta restu menikahi Feli secepat mungkin. Mobilnya membelah pelan jalanan ibukota, lalu setelah beberapa menit berkendara, akhirnya berhenti di depan bangunan dengan penjagaan ketat. Harry turun tanpa banyak ekspresi. Tangannya merapikan kemejanya sekilas sebelum melangkah masuk. Prosedur demi prosedur ia lewati. Dari pemeriksaan hingga pencatatan identitas, semuanya berjalan tanpa hambatan, namun cukup membuat suasana terasa kaku dan dingin. Tak lama, seorang petugas mengarahkannya ke ruang kunjungan. Ruangan itu sederhana. Sebuah meja panjang memisahkan dua sisi, dengan beberapa kursi yang saling berhadapan. Seorang petugas berdiri di sudut ruangan, dan mengawasi setiap pergerakan yang terjadi. Harry duduk lebih dulu. Beberapa detik kemudian berlalu hingga akhirnya pintu di sisi lain terbuka. Da

  • Tergoda Teman Papa    Malam di Maldives

    Malam datang perlahan, membawa suasana yang jauh berbeda dari siang tadi. Langit di atas Maldives tampak lebih gelap, namun justru dihiasi bintang-bintang yang mulai bermunculan satu per satu. Suara ombak terdengar lebih jelas, berpadu dengan hembusan angin laut yang lembut menyelinap masuk dari celah-celah villa. Lampu-lampu kecil di sepanjang jembatan kayu menyala hangat, menciptakan garis cahaya yang indah di atas permukaan laut. Sementara di depan villa Andrew dan Bricia, sebuah meja sudah tertata rapi di area outdoor menghadap langsung ke hamparan laut luas yang kini hanya diterangi cahaya bulan dan lampu temaram. Bricia yang baru selesai berganti pakaian keluar perlahan. Ia mengenakan dress tipis berwarna lembut, rambutnya tergerai alami, dan wajahnya tampak jauh lebih rileks dibanding beberapa hari terakhir. Langkahnya terhenti begitu melihat suasana di depan. “Dad…” gumamnya pelan. Andrew yang sudah lebih dulu berdiri di sana menoleh, lalu tersenyum melihat reaksi itu.

  • Tergoda Teman Papa    Takdir yang belum selesai

    “Ayo, turun.” Suara Andrew membuat Bricia tersentak dari lamunannya. Ia menoleh pelan, jantungnya masih berdetak tak beraturan. Di kepalanya, satu nama terus bergaung—Leo. “Bri… ayo,” ulang Andrew lembut. Andrew sudah lebih dulu melepas sabuk pengaman dan bersiap membuka pintu. Sementara itu, sa

    last updateLast Updated : 2026-03-23
  • Tergoda Teman Papa    Leo... keponakan Om Andrew

    “Ehem!” Suara deheman dari ambang pintu terdengar jelas. Andrew sejenak memejamkan mata. Ia tahu, ia tertangkap basah. Namun kali ini, ia tak berniat berpura-pura seolah tak terjadi apa-apa. Jika harus, ia akan jujur pada Louisa. Sementara itu, Feli langsung menunduk. Matanya terpejam erat, dada

    last updateLast Updated : 2026-03-24
  • Tergoda Teman Papa    Lima tahun lalu...

    "Lalu... ini punya siapa?" tanya Louisa dengan kebingungan yang sama dengan Bricia. Bricia menatap kotak itu lebih lama. Entah kenapa, perutnya tiba-tiba terasa mual, seolah ada yang mengaduk di dalamnya. “Kalau bukan punyamu, mungkin salah kirim?” ucap Louisa ragu. Bricia menggeleng pelan.

    last updateLast Updated : 2026-03-24
  • Tergoda Teman Papa    Kantor baru

    Keesokan paginya, Bricia sudah mengenakan rok span selutut dan kemeja satin putih. Rambutnya ia ikat rapi membentuk kuncir kuda. Satu embusan napas kasar lolos dari bibirnya saat ia menatap cermin. Tubuhnya terasa lelah, matanya pun sedikit sembap. Semalaman ia hampir tak tidur. Nomor asing tad

    last updateLast Updated : 2026-03-24
More Chapters
Explore and read good novels for free
Free access to a vast number of good novels on GoodNovel app. Download the books you like and read anywhere & anytime.
Read books for free on the app
SCAN CODE TO READ ON APP
DMCA.com Protection Status